Monday, February 11, 2013

Aku, Wanita ...

“Kamu pernah merasa tersakiti”

“Tidak”

“Untuk itu kamu terus menyakitiku?”

“Tidak”

“Apa maumu? Kanapa harus dengannya kamu jatuh hati?”

Aku diam … berpikir dan tak kunjung menemukan jawaban, sehingga hasilnya adalah berupa diam kembali. 

“Kamu wanita, begitupun aku. Tak pernahkah kau memikirkan atau coba merasakan sedikit saja rasanya tersakiti?”

“Untuk apa? Kenapa harus mencoba? Kenapa tidak menjalani apa yang dirasa saja?”

“Entah harus dengan kata apalagi aku berbicara padamu!”

“Tak perlu ada, karena aku hanya menjalani apa yang aku rasakan …”

“Walaupun itu menyakiti perempuan lain?”

“Memang ada yang tersakiti? Aku berjalan sebagaimana mestinya aku harus berjalan … “

“Entah dari apa hatimu terbuat … aku tak mengerti. Jangan dekati dia lagi !”

“Kenapa?”

“Dia milikku. Kamu mengerti itu?”

“Kenapa kamu bertindak seperti Tuhan?”

“Hah? Kenapa aku harus bertemu denganmu? Setiap wanita punya hati yang lembut dan pengasih. Tapi mungkin tidak untukmu!”

“Kenapa kamu berbicara seerti itu? Apa salahku? Mengenal baikmu pun aku tidak …”

“Karena aku telah terlanjut sakit hati terhadapmu, perempuan yang dengan bangganya merebut lelaki perempuan lain!"

“Aku tidak suka kata-katamu. Dan tak aku tak pernah merebut siapapun dari siapapun …”

“Kenapa kamu masih bisa berbicara seperti itu? Apa namany jika seorang perepmuan yang sudah jelas-jelas mengetahui seorang lelaki yang telah memiliki pacar kemudian masih tetap mendekatinya? Hah?”

“Apa yang kamu maksud mendekati?”

“Selalu berkirim kabar, mengkhawatirkan keadaan, dan lainnya. Kamu pikir aku tidak tahu semua itu? … apa maksud dari semua itu? Kenapa disaat kamu melakukan itu kamu tidak memikirkanku, perempuannya?”

“Aku hidup bukan untuk orang-orang sepertimu, aku hidup untuk diriku dan mengabdikan hidupku untuk hal-hal yang sudah jelas … “

“Cukup! Terserah! Aku hanya ingin satu hal darimu, jauhi lelakiku! Cukup itu! Apa itu hal yang sangat berat untukmu?“

“Aku tidak akan pernah melakukannya .. bukan karena aku ingin menyakiti siapapun, hal ini hanya karena aku ingin menjalani hidupku sebagaimana mestinya, menjalani apa yang dirasa. Masih ada yang akan kamu bicarakan denganku? Jika tidak aku akan pergi. Semoga kamu bisa mengenal lelakimu lebih baik lagi, dan ini bukanlah hal baik yang perempuan lakukan. Terserah, kamu menganggapku sebagai perusak hubungan atau apapun, tapi tetap aku tak akan melakukan apapun demi siapapun, terlebih kamu, orang yang tidak aku kenali. aku hanya akan melakukan apapun untuk Tuhanku. “

Aku tinggalkan kamu yang masih mencoba menguasai diri dari kemarahan padaku. Aku tak perduli.

“Tunggu!”

“Apa lagi?”

“Baiklah jika itu yang kamu minta. Aku akan putuskan dia untukmu!”

Aku dekati mejamu lagi …

“Terserah .. karena aku tidak perduli dengan kalian. Apapun yang kalian lakukan tak pernah aku pikirkan … jangan berbicara seperti itu. Jangan buat seolah-olah aku yang bersalah dalam hubungan kalian. Dan jangan berharap aku merasa bersalah atas apa yang terjadi pada hubungan kalian.”

Kamu menangis terisak. “Aku tidak pernah mengerti, kenapa ada perempuan sepertimu? Kenapa kau begitu jahat pada
ku?”

“Aku tak pernah merasa menyakiti siapapun. Simpanlah dugaan dan hal-hal lain tentangku. Simpanlah airmatamu, kenapa harus menangis seperti itu?"

“Diam kamu!”

Aku tinggalkan dia yang sedang terisak menangisi hubungannya yang telah dirusak olehku, katanya … aku tak perduli.

***

“Jauhi perempuan itu! Pilih dia atau aku?”

“Perempuan yang mana? Kamu kenapa?”

“Jangan pura-pura, aku sudah tahu semuanya. Di belakangku kamu berhubungan dengan wanita gila itu. Aku sudah bertemu dengan wanita itu. Dia tidak mau menjauhimu, jadi tolonglah hargai aku sebagai perempuanmu. Jauhi dia … tapi jika tidak, baiklah aku yang mundur.”

“Sayang, kenapa harus seperti ini?”

“Karena memang harus seperti itu!”

“Aku tidak bisa menjauhinya dan aku tidak ingin putus denganmu.”

“Kamu gila! Aku tidak akan mungkin bisa menjalani hubungan seperti ini. Kamu pikir kamu siapa?”

“Aku menyayangimu .. Aku mencintaimu”

“Lantas dengan perempuan itu? Apa perasaan itu juga yang kamu rasakan?”

“Entahlah .. Aku tak tahu perasaan apa jika … “

“Cukup! Semuanya sudah jelas! Aku mundur!”

“Kenapa?”

1 comments:

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis