“Kamu pernah merasa tersakiti”
“Tidak”
“Untuk itu kamu terus menyakitiku?”
“Tidak”
“Apa maumu? Kanapa harus dengannya kamu jatuh hati?”
Aku diam … berpikir dan tak kunjung menemukan jawaban,
sehingga hasilnya adalah berupa diam kembali.
“Kamu wanita, begitupun aku. Tak pernahkah kau memikirkan
atau coba merasakan sedikit saja rasanya tersakiti?”
“Untuk apa? Kenapa harus mencoba? Kenapa tidak menjalani apa
yang dirasa saja?”
“Entah harus dengan kata apalagi aku berbicara padamu!”
“Tak perlu ada, karena aku hanya menjalani apa yang aku
rasakan …”
“Walaupun itu menyakiti perempuan lain?”
“Memang ada yang tersakiti? Aku berjalan sebagaimana
mestinya aku harus berjalan … “
“Entah dari apa hatimu terbuat … aku tak mengerti. Jangan dekati
dia lagi !”
“Kenapa?”
“Dia milikku. Kamu mengerti itu?”
“Kenapa kamu bertindak seperti Tuhan?”
“Hah? Kenapa aku harus bertemu denganmu? Setiap wanita punya
hati yang lembut dan pengasih. Tapi mungkin tidak untukmu!”
“Kenapa kamu berbicara seerti itu? Apa salahku? Mengenal baikmu
pun aku tidak …”
“Karena aku telah terlanjut sakit hati terhadapmu, perempuan
yang dengan bangganya merebut lelaki perempuan lain!"
“Aku tidak suka kata-katamu. Dan tak aku tak pernah merebut
siapapun dari siapapun …”
“Kenapa kamu masih bisa berbicara seperti itu? Apa namany
jika seorang perepmuan yang sudah jelas-jelas mengetahui seorang lelaki yang
telah memiliki pacar kemudian masih tetap mendekatinya? Hah?”
“Apa yang kamu maksud mendekati?”
“Selalu berkirim kabar, mengkhawatirkan keadaan, dan lainnya.
Kamu pikir aku tidak tahu semua itu? … apa maksud dari semua itu? Kenapa disaat
kamu melakukan itu kamu tidak memikirkanku, perempuannya?”
“Aku hidup bukan untuk orang-orang sepertimu, aku hidup
untuk diriku dan mengabdikan hidupku untuk hal-hal yang sudah jelas … “
“Cukup! Terserah! Aku hanya ingin satu hal darimu, jauhi
lelakiku! Cukup itu! Apa itu hal yang sangat berat untukmu?“
“Aku tidak akan pernah melakukannya .. bukan karena aku
ingin menyakiti siapapun, hal ini hanya karena aku ingin menjalani hidupku
sebagaimana mestinya, menjalani apa yang dirasa. Masih ada yang akan kamu
bicarakan denganku? Jika tidak aku akan pergi. Semoga kamu bisa mengenal
lelakimu lebih baik lagi, dan ini bukanlah hal baik yang perempuan lakukan. Terserah,
kamu menganggapku sebagai perusak hubungan atau apapun, tapi tetap aku tak akan
melakukan apapun demi siapapun, terlebih kamu, orang yang tidak aku kenali. aku
hanya akan melakukan apapun untuk Tuhanku. “
Aku tinggalkan kamu yang masih mencoba menguasai diri dari
kemarahan padaku. Aku tak perduli.
“Tunggu!”
“Apa lagi?”
“Baiklah jika itu yang kamu minta. Aku akan putuskan dia
untukmu!”
Aku dekati mejamu lagi …
“Terserah .. karena aku tidak perduli dengan kalian. Apapun
yang kalian lakukan tak pernah aku pikirkan … jangan berbicara seperti itu.
Jangan buat seolah-olah aku yang bersalah dalam hubungan kalian. Dan jangan
berharap aku merasa bersalah atas apa yang terjadi pada hubungan kalian.”
Kamu menangis terisak. “Aku tidak pernah mengerti, kenapa
ada perempuan sepertimu? Kenapa kau begitu jahat pada
ku?”
“Aku tak pernah merasa menyakiti siapapun. Simpanlah dugaan dan hal-hal lain tentangku. Simpanlah airmatamu, kenapa harus menangis seperti itu?"
“Diam kamu!”
Aku tinggalkan dia yang sedang terisak menangisi hubungannya
yang telah dirusak olehku, katanya … aku tak perduli.
***
“Jauhi perempuan itu! Pilih dia
atau aku?”
“Perempuan yang mana? Kamu kenapa?”
“Jangan pura-pura, aku sudah tahu
semuanya. Di belakangku kamu berhubungan dengan wanita gila itu. Aku sudah
bertemu dengan wanita itu. Dia tidak mau menjauhimu, jadi tolonglah hargai aku
sebagai perempuanmu. Jauhi dia … tapi jika tidak, baiklah aku yang mundur.”
“Sayang, kenapa harus seperti ini?”
“Karena memang harus seperti itu!”
“Aku tidak bisa menjauhinya dan
aku tidak ingin putus denganmu.”
“Kamu gila! Aku tidak akan
mungkin bisa menjalani hubungan seperti ini. Kamu pikir kamu siapa?”
“Aku menyayangimu .. Aku
mencintaimu”
“Lantas dengan perempuan itu? Apa
perasaan itu juga yang kamu rasakan?”
“Entahlah .. Aku tak tahu
perasaan apa jika … “
“Cukup! Semuanya sudah jelas! Aku
mundur!”
“Kenapa?”

Memang sulit tapi tetap memilih mundur
ReplyDelete