“Selesai?”
“Belum.”
“Ada yang bisa aku bantu?”
“Tidak”
“Baiklah”
Kamu duduk di sampingku. Menenggak minuman kaleng itu. Kamu
terus mengamati jalanan yang ramai. Sesekali kamu mengucek matamu karena
terkena asap kendaraan. Kamu sodorkan minuman kaleng bersoda itu kepadaku.
“Minum?”
“Tidak”
Hening. Aku tetap melanjutkan menulis di smartphoneku, dan kamu tetap meminum
minuman itu. Di halte ini, tempat kita berjanji untuk saling bertemu.Dan tempatku untuk
menyepi. Menyepi? Iya benar menyepi. Menyepi dalam keramaian.
“Adakah hal lain yang bisa kita kerjakan selain duduk disini
sepanjang waktu? Aku tak tahan dengan bau pesing disini.” Kamu melempar kaleng
minuman itu ke arah tong sampah rusak yang tersedia di halte ini. Meleset. Kamu
segera memungutnya dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.
“Nikmatilah.” Pandanganku tetap tertuju pada layar
smartphoneku
“Apanya yang harus dinikmati? Baiklah apa kamu mau menjadi
pacarku?”
Aku segera menengadahkan mukaku ke arah ramainya kendaraan di
jalan. Kamu melihatku penuh penantian. Tak ada jawaban yang keluar dari
mulutku, hanya anggukan pelan kepalaku sebagai jawabannya. Kamu pegang tanganku
dan aku segera lepaskan.
“Kenapa? Sekarang kita berpacaran. Memegang tanganmu pun aku
tak boleh?”
“Sekarang kita putus.”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Aku hanya ingin lelaki yang menghargai wanita.”
“Aku hanya memegang tanganmu. Itupun hanya beberapa detik!”
“Itu awalnya, aku tidak seperti perempuanmu sebelumnya,
mungkin. Pernahkan kamu berpikir bahwa ketika kamu memagang, memeluk
pacar-pacar terdahulumu, itupun yang mereka lakukan pada pacarnya terdahulu
sebelum kamu? Mungkin lebih .. ah sudahlah!”
Kamu diam. Mungkin bingung harus menjawab apa. “Begitupun
aku tentunya ..., tapi jika kamu melakukannya pun … “
Segera aku potong ucapanmu, karena aku tahu arah
pembicaraan ini kemana, “Jika yang Tuhan turunkan untukku adalah lelaki yang
telah memeluk jutaan atau miliaran perempuan lain disana, Aku terima, tapi Aku,
akan tetap menjaga diriku untukNya.”
“Jadi maukah kamu menjadi pacarku?”
“Jika tidak?”
“Takkan ada lagi sketsa senja di halte ini”
“Akan aku buat sketsa senjaku sendiri. Jika hadirku kamu
butuhkan, kamu tahu harus kemana”
“Baiklah”
Kamu tetap duduk di sampingku. Memandangi cahaya lampu yang
bertebaran di jalanan depan halte.

0 comments:
Post a Comment