Monday, February 25, 2013

HALTE (1)

“Selesai?”

“Belum.”

“Ada yang bisa aku bantu?”

“Tidak”

“Baiklah”

Kamu duduk di sampingku. Menenggak minuman kaleng itu. Kamu terus mengamati jalanan yang ramai. Sesekali kamu mengucek matamu karena terkena asap kendaraan. Kamu sodorkan minuman kaleng bersoda itu kepadaku.

“Minum?”

“Tidak”

Hening. Aku tetap melanjutkan menulis  di smartphoneku, dan kamu tetap meminum minuman itu. Di halte ini, tempat kita berjanji untuk saling bertemu.Dan tempatku untuk  menyepi. Menyepi? Iya benar menyepi. Menyepi dalam keramaian. 

Adakah hal lain yang bisa kita kerjakan selain duduk disini sepanjang waktu? Aku tak tahan dengan bau pesing disini.” Kamu melempar kaleng minuman itu ke arah tong sampah rusak yang tersedia di halte ini. Meleset. Kamu segera memungutnya dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.

“Nikmatilah.” Pandanganku tetap tertuju pada layar smartphoneku

“Apanya yang harus dinikmati? Baiklah apa kamu mau menjadi pacarku?”

Aku segera menengadahkan mukaku ke arah ramainya kendaraan di jalan. Kamu melihatku penuh penantian. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku, hanya anggukan pelan kepalaku sebagai jawabannya. Kamu pegang tanganku dan aku segera lepaskan.

“Kenapa? Sekarang kita berpacaran. Memegang tanganmu pun aku tak boleh?”

“Sekarang kita putus.”

“Hah? Apa maksudmu?”

“Aku hanya ingin lelaki yang menghargai wanita.”

“Aku hanya memegang tanganmu. Itupun hanya beberapa detik!”

“Itu awalnya, aku tidak seperti perempuanmu sebelumnya, mungkin. Pernahkan kamu berpikir bahwa ketika kamu memagang, memeluk pacar-pacar terdahulumu, itupun yang mereka lakukan pada pacarnya terdahulu sebelum kamu? Mungkin lebih .. ah sudahlah!”
Kamu diam. Mungkin bingung harus menjawab apa. “Begitupun aku tentunya ..., tapi jika kamu melakukannya pun … “
Segera aku potong ucapanmu, karena aku tahu arah pembicaraan ini kemana, “Jika yang Tuhan turunkan untukku adalah lelaki yang telah memeluk jutaan atau miliaran perempuan lain disana, Aku terima, tapi Aku, akan tetap menjaga diriku untukNya.”

“Jadi maukah kamu menjadi pacarku?”

“Jika tidak?”

“Takkan ada lagi sketsa senja di halte ini”
“Akan aku buat sketsa senjaku sendiri. Jika hadirku kamu butuhkan, kamu tahu harus kemana”
“Baiklah”
Kamu tetap duduk di sampingku. Memandangi cahaya lampu yang bertebaran di jalanan depan halte.


0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis