Kini senjaku menjadi
aku. Rutinitasku untuk mengunjungi halte ini tetap sama, setiap sore, selepas
aku mengikuti les. Jika tidak menulis, aku hanya memandangi hal-hal yang aku
lihat di depanku. Seperti sore ini, aku melihat seorang pengamen kecil yang
sedang memunguti benda-benda bernilai, seperti gelas-gelas plastik , botol
plastik dan beberapa kardus bekas di tong sampah halte ini yang sudah penuh, bahkan
meluber isinya. Mungkin sama seperti otakku sekarang, dengan sampah sebagai
masalah-masalah yang aku pikirkan. Dia memandang ke arahku. Dan segera menghampiriku. Aku begitu kaget
dan sedikit takut. Ternyata dia hanya akan mengambil gelas plastik yang
berserakan di bawah kursi halte ini. Ah, sampah-sampah itupun tak pernah aku
sadari sebelumnya. Dia terus memunguti dan memisahkan bagian-bagain dari gelas
plastik itu. Beberapa botol bekaspun dia masukkan ke dalam plastik besar yang dia
bawa sejak tadi. Dia menatapku bingung. Segera aku ambil perbekalan makanan
ringanku.
“mau?”
Dia tersenyum dan
mengambil beberapa potong biskuit gandumku. Dia duduk di sebelahku. Memakannya
dengan lahap. Tangan itu, tangan yang dia gunakan juga untuk memunguti
sampah-sampah di tong sampah halte.
“lagi?” aku sodorkan
biscuitku. dia mengambilnya lagi beberapa. selepas mengunyah dia segera pergi
dengan membawa barang-barang temuannya. beberapa langkah dia berjalan, “terima
kasih”. aku kembangkan senyumku. selepes kepergian
pengamen kecil itu, ada hal yang aku pikirkan.
“Masalah memang tak akan pernah ada
habisnya, selalu datang, mengikuti celah yang kita buat. Masalah selalu bisa
diselesaikan, walaupun akan datang masalah lain lagi. Jika masalah itu tidak
kita selesaikan, maka masalah itu akan menumpuk seperti sampah dalam tong
sampah itu. Jika sudah demikian, kita hanya butuh pemulung kecil itu untuk
menyortirnya, mengambil yang bernilainya saja. Karena sampah lain ternyata
memang hanya sampah yang membusuk dan
menjadi sarang untuk penyakit. Begitupun masalah dalam hidup kita, kita hanya
perlu menyortirnya, masalah yang memang harus
diselesaikan dan ada nilai yang dapat kita ambil. Atau masalah yang
dibiarkan saja, karena masalah tersebut hanyalah sampah … sampah yang terus
membusuk dan melukai diri.”

0 comments:
Post a Comment