Monday, February 25, 2013

HALTE (2)


Kini senjaku menjadi aku. Rutinitasku untuk mengunjungi halte ini tetap sama, setiap sore, selepas aku mengikuti les. Jika tidak menulis, aku hanya memandangi hal-hal yang aku lihat di depanku. Seperti sore ini, aku melihat seorang pengamen kecil yang sedang memunguti benda-benda bernilai, seperti gelas-gelas plastik , botol plastik dan beberapa kardus bekas di tong sampah halte ini yang sudah penuh, bahkan meluber isinya. Mungkin sama seperti otakku sekarang, dengan sampah sebagai masalah-masalah yang aku pikirkan. Dia memandang ke arahku.  Dan segera menghampiriku. Aku begitu kaget dan sedikit takut. Ternyata dia hanya akan mengambil gelas plastik yang berserakan di bawah kursi halte ini. Ah, sampah-sampah itupun tak pernah aku sadari sebelumnya. Dia terus memunguti dan memisahkan bagian-bagain dari gelas plastik itu. Beberapa botol bekaspun dia masukkan ke dalam plastik besar yang dia bawa sejak tadi. Dia menatapku bingung. Segera aku ambil perbekalan makanan ringanku.

“mau?”

Dia tersenyum dan mengambil beberapa potong biskuit gandumku. Dia duduk di sebelahku. Memakannya dengan lahap. Tangan itu, tangan yang dia gunakan juga untuk memunguti sampah-sampah di tong sampah halte.

“lagi?” aku sodorkan biscuitku. dia mengambilnya lagi beberapa. selepas mengunyah dia segera pergi dengan membawa barang-barang temuannya. beberapa langkah dia berjalan, “terima kasih”. aku kembangkan senyumku. selepes kepergian pengamen kecil itu, ada hal yang aku pikirkan.



“Masalah memang tak akan pernah ada habisnya, selalu datang, mengikuti celah yang kita buat. Masalah selalu bisa diselesaikan, walaupun akan datang masalah lain lagi. Jika masalah itu tidak kita selesaikan, maka masalah itu akan menumpuk seperti sampah dalam tong sampah itu. Jika sudah demikian, kita hanya butuh pemulung kecil itu untuk menyortirnya, mengambil yang bernilainya saja. Karena sampah lain ternyata memang hanya  sampah yang membusuk dan menjadi sarang untuk penyakit. Begitupun masalah dalam hidup kita, kita hanya perlu menyortirnya, masalah yang memang harus  diselesaikan dan ada nilai yang dapat kita ambil. Atau masalah yang dibiarkan saja, karena masalah tersebut hanyalah sampah … sampah yang terus membusuk dan melukai diri.”

0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis