Satu
hal yang selalu membuat hati ini teriris perih adalah ketika dalam akhir
waktumu, aku tak berada di sampingmu. Hal-hal dunia yang Aku lakukan, ternyata
begitu menguras segala perhatianku. Sehingga kabarmu pun tak sempat aku
tanyakan dalam beberapa waktu sebelum ajal menjemputmu. Itulah penyesalan
terdalam yang sampai saat ini Aku
rasakan. Begitu banyak janji yang aku ucapkan padamu, berharap, diwaktu
terpenting dalam hidupku, kamu ikut hadir dan bersamaku. Memelukku penuh hangat
sebagai ucapan selamat atas tercapainya apa yang aku janjikan padamu. Masih
terngiang sunggingan senyummu ketika terbaring dengan penyakit-penyakit yang
menggerogoti seluruh kesehatanmu. Tak dapat
aku sembunyikan kesedihanku melihatmu tak berdaya di atas ranjang tuamu.
Aku ingin pelukan hangatmu lagi. Aku rindukan itu. Namun, kini senyum itu hanya
ada dalam bayangku. Dan rindu ini aku selipkan dalam setiap doaku. Semoga akhir
kehidupan duniamu adalah tidur panjang yang menyenangkan. Aku ingin
dipertemukan denganmu dalam Surga Tuhan Kita. Aku tidak ingin terus bersedih
hati, tapi penyesalan ini begitu dalam. Hingga kemarin, di saat Aku benar-benar merindukanmu, entah ini isyarat
agar Aku ikhlas melepas kepergianmu dan mengubur segala sesal terdalam atau apapun itu ...
Aku segera mengambil wudhu di masjid ketika adzan berkumandang. Melaksanakan sholat. Selepas itu, aku segera kembali ke kamar mandi untuk merapihkan kerudungku. Tak berapa lama, seorang nenek datang menghampiriku, “Nak, nenek nitip mukenah.” Sejenak aku terlonjak kaget, seperti kebiasaanku yang kamu ketahui, Aku sering sekali melamun ketika sendiri, terlebih di depan cermin. Belum sempat aku menjawab, nenek tersebut berkata kembali, “Ya Alloh, kenapa nenek tidak percaya pada penjagaan Alloh. Mukenah ini juga milik masjid, bukan milik nenek. Apapun yang terjadi pada mukenah ini adalah kehendaknya, jika kemudian ada yang mengambil pun itu sudah garis takdirnya, maafkan nenek nak.” Aku bingung dan entah harus berkata apa. Hanya aku kembangkan sedikit senyum penuh kebingungan. Aku tunggu nenek tersbut, namun nenek tersebut belum juga keluar dari kamar mandi, akhirnya aku meninggalkan mukenah itu, dan berharapa mukenah titu masih tetap di tempatnya hingga nenek datang.
Itu
mungkin kejadian biasa. Tapi sangat berbekas dalam hidupku kini. Aku
coba untuk belajar meretas rasa sesal dalam hati. Dan akan kucoba ikhlas
atas kepergianmu. Dalam angan semu, aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku
merindukanmu . Hanya doa yang bisa aku kirimkan untukmu, berharap itu dapat
meringankanmu. Dan Aku berjanji akan menjadi anak yang baik dan berguna. Seperti
yang selalu aku ucapkan padamu.
Kebiasanmu meminum secangkir teh manis itu selalu mengingatkanku padamu. Terserah ini berlebihan atau tidak. Luka atas penyesalan itu
yang selalu membuatku menolak untuk meminumnya. Aku hanya meminum secangkir teH
tanpa gula, bukan karena aku tak mau mengingatmu dalam tegukan teh itu,
terlebih karena ingatan itu akan memperdalam lubang sesal yang telah terbentuk … Aku ingin ada disana. Ketika nafas terahirmu masih bisa aku rasakan.
Pakde, kangen :'(

0 comments:
Post a Comment