Akhirnya selesai. Dan segera aku langkahkan kaki ini menuju tempat yang sama, Halte. Aku duduk dengan kedua tangan menyangga badan. Ahh, sebenernya tak perlu, tapi biarlah, aku hanya ingin. Melihat-lihat kondisi jalanan yang ramai. Serta bermacam-macam orang yang hilir mudik di depanku. Berbagai angkutan berhenti di depanku seketika. Tapi seketika itu pula segera meninggalkanku lagi, karena memang tak ada penumpang yang akan menaikinya.
Mungkin sama sepertimu, yang begitu cepat berhenti dan begitu cepat pula meninggalkankanku.
Aku tidak melamun, tidak-tidak, Aku sangat tahu bahaya melamun di situasi ramai seperti ini. Terlebih ini jalanan. Bukan, maksudku halte. Aku terus memandangi jalanan. Ada hal menarik yang tertangkap oleh mataku. Bukan mobil mewah yang melintas. Itu hal biasa. Tapi tentang angkutan umum yang berkeliaran di depanku secara brutal. Jalanan di depanku lurus, ada belokan memang, namun agak jauh jika harus ditempuh dengan berjalan kaki. Sebuah angkutan melaju dengan cukup kencang, lampu sen ke arah kanan terus dinyalakan oleh sang supir. Itu pertanda bahwa mobil yang dibawanya akan menyalip kendaraan lain dari arah kanan. Namun hal aneh terjadi. Ketika supir tersebut melihat "calon mangsanya" berdiri di sebelah kiri, sang supir segera membanting stir ke arah kiri. Tentu, suara klakson dari pengemudi lain langsung saja menghujani angkutan tersebut. Dan ketika mangsanya menolak, dengan cepat supir tersebut langsung segera memasuki jalanan ramai lagi.Mengikuti kode yang diberikn sebelumnya yang hingga saat ini masih terus menyala. Mobil itu tak kutangkap lagi keberadaannya. Hilang. Mungkin tertutup kendaraan lain.
Ah, aku teringat cerita temanku tentang lelakinya. Mungkin bisa Aku kaitkan dengan angkutan tadi. Jika aku ibartkan, lelakinya itu adalah angkutan yang dibawa oleh supir tersebut. Kode yang selalu dia berikan pada temanku ternyata hanyalah kode semu yang nyata. Hal ini karena ketika lelaki temanku menemukan "mangsa barunya", dia langsung banting setir. Sedangkan kode tersebut masih terus tertuju padanya (temanku).
Lampu jalanan menyala dengan angkuhnya. Menantang lampu-lampu kendaraan di bawahnya. Hanya sebagian wajahku yang mendapat penerangannya, sebagian tertutup bayangan atap halte yang lapuk. Ah, datang. Aku harus segera pulang, dengan angin sebagai teman perjalanan.
Hanya ini, hari ini. Menempuh esok, dengan lelah yang berganti ...

0 comments:
Post a Comment