Terbangun
di pagi yang indah dengan rintik hujan sebagai pengiring datangnya suara adzan
yang bersautan, dengan kelabu sebagai warna alam yang menghiasinya. Indah,
segala puji hanya untuk-Mu, Tuhan pencipta segala keindahan.
Memulai
pagi dengan bersujud, memasrahkan segala hal yang akan dilalui pada hari ini. Memohon
perlindungan diri dan hati. Ikhlas, sujud ini hanya untuk-Mu, Tuhan yang maha
pengasih lagi maha penyayang. Terus berjalan di jalan yang Kau Ridhoi.
Perenungan
pagi untuk terus berjalan sepanjang hari, hingga senja turun dan hanya
kepekatan malam yang menjadi teman.
Segala
Puji dan Syukur hanya untuk-Mu, Tuhan Semesta Alam.
“Harus tetap bersyukurkah walau hati sedang merasa tersakiti?”
Suara itu tiba-tiba muncul dari belakang punggungku, ahh Kamu.
“Pertanyaan bodoh. Bersyukur, selalu, kapanpun dan
bagaimanapun keadaan kita.”
“Oia?”
“Tentu. Hmm, Aku pikir ini akan menjadi obrolan panjang dan
kamu sengaja memancingku untuk membahasnya …”
“Jika kamu tidak berminat, yasudah …”
“Yasudah.. hah, ya ya aku paham. Itu kata terjitu yang bisa membuat orang lain merasa tidak enak
padamu. Baiklah. Kita mulai darimana?”
“Sepertinya kamu sibuk, sudahlah tidak perlu, lain waktu
saja mungkin.”
“Jika lain waktu itu masih ada tentunya.”
“Kenapa kamu selalu menakutiku tentang hal itu.”
“Kematian bukanlah hal yang menakutkan. Begitu takutkah kamu
aku tinggalkan?”
“Tentu saja. Siapa lagi yang akan mendengarkan keluh kesahku
jika kamu sudah tiada.”
“Baiklah, jika begitu, mungkin Aku bisa memintakan kamu
terlebih dahulu yang meninggalkan dunia ini.”
“Aysha!”
“Ilo!”
“Ah, sudahlah, kamu selalu seperti itu.”
Kamu meminum teh hangat yang sekarang menjadi the dingin itu
dengan pandangan menyapu sekeliling. Begitu banyak beban sepertinya, ini hanya
dugaanku.
Kamu memulai obrolan siang
ini, “Kamu … “
“Membahasnya lagi?”
“Memang kamu tahu apa yang akan aku katakan?”
“Tentu, menutup akun-akun itu?”
“Ya. Adakah sedikit alasan?”
“Membersihkan diri dari prasangka hati dan mencoba untuk
mereduksi masalah yang bergejolak dalam diri.”
“Aku masih belum mengerti. Tapi baiklah selama kamu selalu nampak
ceria seperti ini aku tidak pernah keberatan dengan keputusanmu. Coba kita
mulai bicarakan tentang mensyukuri hati yang tersakiti.”
“Baiklah … Mana yang kamu pilih, terus menerus merasa
bahagia, merasa sedih, atau merasakan keduanya?“
“Terus menerus merasa bahagia.”
“Tapi tidak untuk kenyataan. Kamu harus menemui kesedihan.”
“Jika aku tidak ingin?”
“Kamu melanggar ketetapan alam.”
“Kenapa?”
“Karena Tuhan menciptakannya berpasangan. Begitupun dengan bahagia.”
“Tapi, bukankah Tuhan melarang bersedih? La Tahzan”
“Melarang, pertanda bahwa hal tersebut memang ada. Jika
tidak ada, tidak mungkin adanya larangan.”
“Benar .. bagaimana menghadapinya?”
“Dengan mensyukuri kesedihan itu .. mm mungkin dalam hal
ini, hati yang tersakiti.”
“caranya?”
“Terus berpikir bahwa kesedihan itu yang akan membuat kita
jauh lebih mensyukuri hadirnya kebahagiaan. Semakin kesedihan itu menghujam
kita, semakin kita sensitive terhadap kebahagian-kebahagiaan kecil yang Tuhan
berikan. Yang tidak semua orang tahu, bahwa hal kecil tersebut adalah bentuk
dari kebahagiaan.”
“ … maka biarkan Aku mendahuluimu untuk meninggalkan dunia
ini. Darimu Aku banyak belajar tentang arti hidup. Aku selalu merasa jauh lebih
baik sejak mengenalmu. Walaupun banyak hal yang sebenarnya tidak aku mengerti
tentang nalarmu. Tapi kamu, sahabat terbaik.”
“Jangan mendahului takdir Tuhan. Sudahlah, Aku lemah
terhadap pujian.”
"Aku bertengkar dengan pacarku."
Kamu ceritakan semua hal yang sejak tadi menggelayuti pikiranmu. Random, Tapi kamu hanya butuh teman cerita. Ya, dan Aku siapkan perhatian dan telingaku. Hanya itu yang bisa Aku berikan.Semoga cepat terselesaikan.

0 comments:
Post a Comment