Monday, February 18, 2013

Aysha


Terbangun di pagi yang indah dengan rintik hujan sebagai pengiring datangnya suara adzan yang bersautan, dengan kelabu sebagai warna alam yang menghiasinya. Indah, segala puji hanya untuk-Mu, Tuhan pencipta segala keindahan.
Memulai pagi dengan bersujud, memasrahkan segala hal  yang akan dilalui pada hari ini. Memohon perlindungan diri dan hati. Ikhlas, sujud ini hanya untuk-Mu, Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Terus berjalan di jalan yang Kau Ridhoi.
Perenungan pagi untuk terus berjalan sepanjang hari, hingga senja turun dan hanya kepekatan malam yang menjadi teman.
Segala Puji dan Syukur hanya untuk-Mu, Tuhan Semesta Alam.


“Harus tetap bersyukurkah walau hati sedang merasa tersakiti?” Suara itu tiba-tiba muncul dari belakang punggungku, ahh Kamu.


“Pertanyaan bodoh. Bersyukur, selalu, kapanpun dan bagaimanapun keadaan kita.”


“Oia?”


“Tentu. Hmm, Aku pikir ini akan menjadi obrolan panjang dan kamu sengaja memancingku untuk membahasnya …”


“Jika kamu tidak berminat, yasudah …”


“Yasudah.. hah, ya ya aku paham. Itu kata terjitu  yang bisa membuat orang lain merasa tidak enak padamu. Baiklah. Kita mulai darimana?”


“Sepertinya kamu sibuk, sudahlah tidak perlu, lain waktu saja mungkin.”


“Jika lain waktu itu masih ada tentunya.”


“Kenapa kamu selalu menakutiku tentang hal itu.”


“Kematian bukanlah hal yang menakutkan. Begitu takutkah kamu aku tinggalkan?”


“Tentu saja. Siapa lagi yang akan mendengarkan keluh kesahku jika kamu sudah tiada.”


“Baiklah, jika begitu, mungkin Aku bisa memintakan kamu terlebih dahulu yang meninggalkan dunia ini.”


“Aysha!”


“Ilo!”


“Ah, sudahlah, kamu selalu seperti itu.”


Kamu meminum teh hangat yang sekarang menjadi the dingin itu dengan pandangan menyapu sekeliling. Begitu banyak beban sepertinya, ini hanya dugaanku. 


Kamu memulai obrolan siang  ini, “Kamu … “


“Membahasnya lagi?”


“Memang kamu tahu apa yang akan aku katakan?”


“Tentu, menutup akun-akun itu?”


“Ya. Adakah sedikit alasan?”


“Membersihkan diri dari prasangka hati dan mencoba untuk mereduksi masalah yang bergejolak dalam diri.”


“Aku masih belum mengerti. Tapi baiklah selama kamu selalu nampak ceria seperti ini aku tidak pernah keberatan dengan keputusanmu. Coba kita mulai bicarakan tentang mensyukuri hati yang tersakiti.”


“Baiklah … Mana yang kamu pilih, terus menerus merasa bahagia, merasa sedih, atau merasakan keduanya?“


“Terus menerus merasa bahagia.”


“Tapi tidak untuk kenyataan. Kamu harus menemui kesedihan.”


“Jika aku tidak ingin?”


“Kamu melanggar ketetapan alam.”


“Kenapa?”


“Karena Tuhan menciptakannya  berpasangan. Begitupun dengan bahagia.”


“Tapi, bukankah Tuhan melarang bersedih? La Tahzan”


“Melarang, pertanda bahwa hal tersebut memang ada. Jika tidak ada, tidak mungkin adanya larangan.”


“Benar .. bagaimana menghadapinya?”


“Dengan mensyukuri kesedihan itu .. mm mungkin dalam hal ini, hati yang tersakiti.”


“caranya?”


“Terus berpikir bahwa kesedihan itu yang akan membuat kita jauh lebih mensyukuri hadirnya kebahagiaan. Semakin kesedihan itu menghujam kita, semakin kita sensitive terhadap kebahagian-kebahagiaan kecil yang Tuhan berikan. Yang tidak semua orang tahu, bahwa hal kecil tersebut adalah bentuk dari kebahagiaan.”


“ … maka biarkan Aku mendahuluimu untuk meninggalkan dunia ini. Darimu Aku banyak belajar tentang arti hidup. Aku selalu merasa jauh lebih baik sejak mengenalmu. Walaupun banyak hal yang sebenarnya tidak aku mengerti tentang nalarmu. Tapi kamu, sahabat terbaik.”


“Jangan mendahului takdir Tuhan. Sudahlah, Aku lemah terhadap pujian.”

"Aku bertengkar dengan pacarku."

Kamu ceritakan semua hal yang sejak tadi menggelayuti pikiranmu. Random, Tapi kamu hanya butuh teman cerita. Ya, dan Aku siapkan perhatian dan telingaku. Hanya itu yang bisa Aku berikan.Semoga cepat terselesaikan.

0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis