“bolehkah aku menyesal?”
“tidak”
“bolehkah aku mengeluh?”
“tidak”
“kenapa? Aku tak sekuat itu untuk menahan semuanya.”
“karena kamu masih cukup kuat untuk mengemban semuanya.”
“Aku menyesal bertemu dengannya. Aku menyesal terlalu banyak
tau tentangnya. Aku menyesal menyediakan waktu untuknya. Aku menyesal tentang
apapun dari bagian hidupku yang berkaitan dengannya. Aku lelah. Aku lelah.
Lelah dengan sejuta perasaan yang tak pernah menentu artinya. Aku lelah untuk
selalu terlihat kuat. Aku lelah … Aku lelah dengan semua ini”
“Tanpa aku mengiyakan pun, kamu tetap bercerita sebanyak
ini. Aku pergi, kamu hanya butuh waktu sendiri.”
Kamu menggeser kursi rotan itu ke belakang, dan segera akan
bangkit dari kursi yang telah lama kamu duduki itu.
“Kenapa? Kenapa kamu selalu memperlakukan aku seperti ini?
Aku benar-benar butuh untuk didengarkan! Kenapa kamu selalu bertindak
seakan-akan kamu tau semuanya tentang aku? Dan bodohnya aku selalu percaya
padamu, pergilah! Pergi! “
Kamu pun pergi setelah mendengarkan kemarahanku. Ini bukan
kali pertamanya kamu bersikap seperti itu. Sejak sepuluh tahun yang lalu. Iya
sikapmu seperti itu. Tapi baru pertama kali inilah aku benar-benar marah akan
sikapmu itu. Aku terisak. Tak pernah habis kupikir tentang Kamu, ketika Aku
butuh untuk didengarkan kamu pergi seolah tidak ada apa-apa, ketika aku butuh
sendiri, kamu hadir dengan membawa sejuta diam. Aku tak pernah mengerti tentang
kamu, mungkin kamu pun juga sama seperti itu, tak pernah mengerti aku. Tapi
mengapa aku selalu nyaman dengan keanehanmu itu. Mungkin kamu memang tak pernah
ingin benar-benar menghabiskan waktu denganku.
Kenapa harus saling tidak mengerti jika saling mengerti adalah solusi dari segala masalah yang tercipta?
Sekarang tinggal aku sendiri. Benar-benar sendiri, menghimpun
sejumlah pikiran-pikiran untuk menjadikan tindakan. Tindakan nyata agar gerak
yang tercipta. Mungkin sudah tidak ada lagi Kamu dan Dia, kini hanya ada aku.
Kamu, sahabat yang selalu seakan-akan mengerti banyak tentang
aku, padahal tidak.
Dan Dia, yang seakan-akan benar-benar mengharapkanku,
padahal tidak. Tidak ada alasan lagi untuk menjadi kami, karena tumpukan alasan yang tercipta untuk melepaskan hatiku untukmu pun telah runtuh tak berbekas. Aku
menyukaimu penuh dengan alasan … dan hilang adalah jawaban akhirnya, hilang
yang takkan terlahir kembali.
Aku mencoba menstabilkan emosi yang telah mengendalikanku.
Kini hanya hening yang Aku temui.
Aku ambil secarik kertas,
Menjauh dari Dia, Kamu, dan Mereka adalah tindakan seorang
pengecut. Tapi mungkin Aku membutuhkannya. Tak ada satupun orang yang tau bahwa
sebenarnya Aku begitu takut dengan perpisahan. Aku tak pernah cepat untuk bisa
mencintai, terlebih menyayangi, begitupun untuk melupakan. Aku butuhkan waktu
yang banyak. Tapi waktu yang banyak itu begitu bernilai, karena aku tak pernah
tau kapan waktu akan dihentikan untuk terus bersamaku, maka untuk melupakan,
aku hanya butuh kegiatan yang membuatku gila. Iya hanya itu. Dia yang tak pernah bisa menjadi kami, dan
kamu yang tak pernah bisa memberikan telinga dan pundakmu untuk mendengar dan
menyenderkan segala kelelahan hati ini untuk mencintai Dia. Iya, aku hanya
seorang pengeluh dan pengecut. Tak kupungkiri itu. Maka kini hanya Aku, tanpa Kamu, Dia dan Mereka.
***
Kutinggalkan tanah lahirku, memeluk mimpi, sendiri, tanah mimpi, hidup.

0 comments:
Post a Comment