Monday, February 4, 2013

LELAH

bolehkah aku menyesal?”

“tidak”

“bolehkah aku mengeluh?”

tidak”

“kenapa? Aku tak sekuat itu untuk menahan semuanya.”

“karena kamu masih cukup kuat untuk mengemban semuanya.”

“Aku menyesal bertemu dengannya. Aku menyesal terlalu banyak tau tentangnya. Aku menyesal menyediakan waktu untuknya. Aku menyesal tentang apapun dari bagian hidupku yang berkaitan dengannya. Aku lelah. Aku lelah. Lelah dengan sejuta perasaan yang tak pernah menentu artinya. Aku lelah untuk selalu terlihat kuat. Aku lelah … Aku lelah dengan semua ini”

“Tanpa aku mengiyakan pun, kamu tetap bercerita sebanyak ini. Aku pergi, kamu hanya butuh waktu sendiri.”

Kamu menggeser kursi rotan itu ke belakang, dan segera akan bangkit dari kursi yang telah lama kamu duduki itu.

“Kenapa? Kenapa kamu selalu memperlakukan aku seperti ini? Aku benar-benar butuh untuk didengarkan! Kenapa kamu selalu bertindak seakan-akan kamu tau semuanya tentang aku? Dan bodohnya aku selalu percaya padamu, pergilah! Pergi! “

Kamu pun pergi setelah mendengarkan kemarahanku. Ini bukan kali pertamanya kamu bersikap seperti itu. Sejak sepuluh tahun yang lalu. Iya sikapmu seperti itu. Tapi baru pertama kali inilah aku benar-benar marah akan sikapmu itu. Aku terisak. Tak pernah habis kupikir tentang Kamu, ketika Aku butuh untuk didengarkan kamu pergi seolah tidak ada apa-apa, ketika aku butuh sendiri, kamu hadir dengan membawa sejuta diam. Aku tak pernah mengerti tentang kamu, mungkin kamu pun juga sama seperti itu, tak pernah mengerti aku. Tapi mengapa aku selalu nyaman dengan keanehanmu itu. Mungkin kamu memang tak pernah ingin benar-benar menghabiskan waktu denganku. 

Kenapa harus saling tidak mengerti jika saling mengerti adalah solusi dari segala masalah yang tercipta?

Sekarang tinggal aku sendiri. Benar-benar sendiri, menghimpun sejumlah pikiran-pikiran untuk menjadikan tindakan. Tindakan nyata agar gerak yang tercipta. Mungkin sudah tidak ada lagi Kamu dan Dia, kini hanya ada aku.

Kamu, sahabat yang selalu seakan-akan mengerti banyak tentang aku, padahal tidak.
Dan Dia, yang seakan-akan benar-benar mengharapkanku, padahal tidak. Tidak ada alasan lagi untuk menjadi kami, karena tumpukan alasan yang tercipta untuk melepaskan hatiku untukmu pun telah runtuh tak berbekas. Aku menyukaimu penuh dengan alasan … dan hilang adalah jawaban akhirnya, hilang yang takkan terlahir kembali. 

Aku mencoba menstabilkan emosi yang telah mengendalikanku. Kini hanya hening yang Aku temui.

Aku ambil secarik kertas,

Menjauh dari Dia, Kamu, dan Mereka adalah tindakan seorang pengecut. Tapi mungkin Aku membutuhkannya. Tak ada satupun orang yang tau bahwa sebenarnya Aku begitu takut dengan perpisahan. Aku tak pernah cepat untuk bisa mencintai, terlebih menyayangi, begitupun untuk melupakan. Aku butuhkan waktu yang banyak. Tapi waktu yang banyak itu begitu bernilai, karena aku tak pernah tau kapan waktu akan dihentikan untuk terus bersamaku, maka untuk melupakan, aku hanya butuh kegiatan yang membuatku gila. Iya hanya itu.  Dia yang tak pernah bisa menjadi kami, dan kamu yang tak pernah bisa memberikan telinga dan pundakmu untuk mendengar dan menyenderkan segala kelelahan hati ini untuk mencintai Dia. Iya, aku hanya seorang pengeluh dan pengecut. Tak kupungkiri itu. Maka kini hanya Aku, tanpa Kamu, Dia dan Mereka.

***
Kutinggalkan tanah lahirku, memeluk mimpi, sendiri, tanah mimpi, hidup.

0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis