Friday, February 8, 2013

Kamu ... maaf

“Menyenangkan sekali melihatmu bahagia seperti ini.”

“Memang sudah begitu seharusnya” Aku kembangkan senyum manisku, tulus.

“Andai memang benar hatimu sebahagia yang nampak dari luar”

“Semoga lambat laun akan seperti itu, ya, mungkin ini prosesnya.”

“Kenapa harus selalu menyakiti diri sendiri seperti itu? Kamu mempunyai hak bahagia yang  sama seperti yang lainnya!"

“Karena aku tak mau menyakiti orang lain”

“Itu tidak adil !”

“Tidak ada yang tahu bentuk keadilan yang hakiki.”

“Iya benar, semuanya hanya berusaha untuk mencapai ke arah sana. Tapi, mengapa Kamu tidak banyak bercerita akhir-akhir ini? Tentang hal apapun, apakah Kamu sudah tidak mempercayaiku? Sahabatmu … ”

“Bukan. Bukan seperti itu. Sekian lama kita bersahabat, Aku begitu tahu tabiat dan jalan pikiranmu. Aku hanya tidak ingin membuatmu membenci orang lain dengan ceritaku. Aku tahu posisiku dimana, dan kamu, karena kedekatan emosi kita, entah Aku salah atau benar, kamu pasti akan membelaku. Biarkan saja aku sendiri yang tau jalanku sekarang.”

“Aku hargai itu, tapi yakinlah terkadang berbagi cerita itu akan meringankan … aku hargai itu ... "

Kembali, Aku bukan perempuan yang kuat untuk terus menjaga kerisauan ini sendiri. Tapi Aku, tak pernah ingin ada penilaian buruk terhadap Kamu. Sesakit apapun yang Aku rasakan, Aku tak ingin orang lain tahu. Biarlah mereka menganggapmu baik. Iya, karena memang Kamu baik. 

Tanpa berbagi, Aku hanya terus menyepi sunyi. Diam dalam ramai. Dan ramai dalam keheningan hati. Banyak hal yang sebenarnya ingin ditumpahkan, tapi benar, itu tak akan mungkin. Dan untuk sedikit meringankan, Aku hanya meramaikan kesunyian kertas putih ini dengan segala coretan yang memang benar-benar harus segera Aku tumpahkan. Tentang Kamu, Dia, hanya itu memang. Sebelum tidur, Aku hanya terus menulis. Berharap ketika terbangun hanya ada cerita bahagia. Tapi hidup memang terlalu rumit untuk dimengerti. Menulis apa yang ada di pikiranku, hanya untuk mengurangi kebingungan ini. Bingung untuk melangkah ke arah mana, karena benar, Aku tak punya tujuan arah untuk masalah ini. Aku begitu bodoh. Segera menghilang, bukan waktu yang tepat ternyata. Mungkin iya nanti, tak lama lagi. 

Jika benar waktu bisa dikembalikan, aku hanya ingin tak berjanji pada siapapun.  Atau jika Tuhan memberikan bonus satu pengingkaran janji bukanlah hal yang berdosa, maka hanya satu pengingkaran janji yang akan Aku lakukan, pengingkaran  janji padamu.

Bukan Aku membencimu, ini terlebih karena Aku tak akan sanggup untuk benar-benar “melepaskanmu”. Maafkan Aku … butuh waktu yang lama untuk mengosongkan kenangan  dan mengisinya dengan kenangan baru, yang itu bukan Kamu ... maaf.


0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis