Aku masih terjaga hingga adzan shubuh berkumandang. Matamu terbuka pelan dan langsung memiringkan posisi tidurmu.“Apakah kamu tidak tidur semalam ini? Apakah paracetamol yang Aku berikan tidak cukup kuat untuk membuatmu terlelap sayang?”. Aku gelengkan kepala sebisaku, karena terganjal bantal yang mengalasi kepalaku. Kamu kecup keningku. “Demamnya sudah turun. Jika masih belum kuat, beristirahatlah lagi. Akan Aku siapkan sarapan setelah kita sholat.” Kamu membantuku bangun dari tempat tidur. Aku masih terlalu lemas untuk bergerak sendiri. Aku dan Kamu beribadah bersama. Aku kembali membaringkan tubuhku di ranjang. Sesuai janjimu, Kamu langsung ke dapur menyiapkan sarapan untukku. Betapa berharganya kamu, lelakiku, dan Aku berdosa.
Satu mangkok bubur dan satu gelas air putih hangat kamu antarkan ke kamar. Kamu menyuapiku dan kembali, lidah ini kelu. Dan kamu tetap sabar dengan kekeluanku. Kamu terlalu mengerti Aku. Dan Aku? Tidak pernah tau Kamu. Lagi-lagi, maka berdosalah Aku.
Harum sabun yang Kamu gunakan menempel di badanku. Kamu peluk erat Aku sebelum Kamu pergi. Nyaman dan takut. Aku takut kehilanganmu selamanya. Jangan jadikan ini pelukan terakhir. Karena Aku tak sanggup untuk pincang menjalani kehidupan ini. Biarlah tetap seperti ini. Walau tak adil. “beristirahatlah lagi. Pulihkan kondisimu, baru pikirkan yang lain.” Kamu kecup keningku. Aku tersenyum. Kembali aku baringkan tubuhku di ranjang. Aku miringkan posisiku ke jendela yang tirainya tetap tidak Aku buka. Sinar matahari pagi ini hangat namun terlalu menyengat. Dan tanpa sinar matahari pagi ini pun Aku sudah hangat, hangat oleh cinta lelakiku. Dan untuk pagi ini, Aku belum membutuhkan kehangatanmu, mentari pagi. Aku hanya menunggu hujan. Agar hujan dapat menghapus jejak terkaan dan praduga yang ada di pikiranku, Kamu dan Dia. Terlalu jelas terkaan dan praduga itu.
Aku tutup mataku. Visualisasi itu nampak sangat jelas. Seakan-akan Aku sedang melihatnya kembali, tanpa cacat. Kamu merangkul Dia, berpelukan mesra, mengobrol bersama, dan tertawa bersama. Kamu nampak bahagia lelakiku. Dan Aku pun bahagia. Tapi rasa egois yang Aku miliki ini pun menutupi segalanya, kebahagianmu yang Aku saksikan menjadi duri tajam yang menyayat. Perih. Harusnya Aku siap. Tapi nyatanya Aku benar-benar tak siap.
Hingga petang menjelang pun hujan tak juga turun. Aku kehabisan kesabaran untuk menunggunya. Aku putuskan untuk segera bangkit dari ranjangku. Aku keluar dari kamar. Aku jatuhkan tubuhku pada sofa di ruang tv. Aku tak akan mendapatinya lagi, hujan, segelas air putih hangat dan lelakiku. Mereka semua pergi meninggalkanku. Dan akhirnya air mata ini yang turun. Membasahi pipiku. Mengalir begitu deras. Harusnya Aku sadari resikonya sejak awal. Tak akan Aku dapati lagi lelakiku. Aku hanya bisa meronta, menangis, tanpa ada yang mendengar selain Kau, Tuhan. Aku terus menangis. Aku lelah. Aku ingin kepastian. Namun setelah kepastian itu Aku dapat, nyatanya Aku tak siap menerimanya. Aku tak siap, Tuhan. Kepada siapa lagi Aku meminta. Tuhan, apakah Kau masih mendengar. Aku tak dapat berdoa secara lisan padaMu, Tuhan. Aku tak dapat. Aku hanya bisa menangis. Aku bingung sekarang. Aku begitu ketakutan, Aku lipat kedua kakiku dan aku dekapkan ke dadaku. Aku terus menangis. Berakhir. Aku ingin Kamu, lelakiku. Hingga air mata ini berhenti turun. Aku buka laptopku. Entah perasaan macam apa ini, sepertinya ada sesuatu yang harus segera Aku ketahui. Benar, satu email masuk, dari Kamu.
Satu mangkok bubur dan satu gelas air putih hangat kamu antarkan ke kamar. Kamu menyuapiku dan kembali, lidah ini kelu. Dan kamu tetap sabar dengan kekeluanku. Kamu terlalu mengerti Aku. Dan Aku? Tidak pernah tau Kamu. Lagi-lagi, maka berdosalah Aku.
Harum sabun yang Kamu gunakan menempel di badanku. Kamu peluk erat Aku sebelum Kamu pergi. Nyaman dan takut. Aku takut kehilanganmu selamanya. Jangan jadikan ini pelukan terakhir. Karena Aku tak sanggup untuk pincang menjalani kehidupan ini. Biarlah tetap seperti ini. Walau tak adil. “beristirahatlah lagi. Pulihkan kondisimu, baru pikirkan yang lain.” Kamu kecup keningku. Aku tersenyum. Kembali aku baringkan tubuhku di ranjang. Aku miringkan posisiku ke jendela yang tirainya tetap tidak Aku buka. Sinar matahari pagi ini hangat namun terlalu menyengat. Dan tanpa sinar matahari pagi ini pun Aku sudah hangat, hangat oleh cinta lelakiku. Dan untuk pagi ini, Aku belum membutuhkan kehangatanmu, mentari pagi. Aku hanya menunggu hujan. Agar hujan dapat menghapus jejak terkaan dan praduga yang ada di pikiranku, Kamu dan Dia. Terlalu jelas terkaan dan praduga itu.
Aku tutup mataku. Visualisasi itu nampak sangat jelas. Seakan-akan Aku sedang melihatnya kembali, tanpa cacat. Kamu merangkul Dia, berpelukan mesra, mengobrol bersama, dan tertawa bersama. Kamu nampak bahagia lelakiku. Dan Aku pun bahagia. Tapi rasa egois yang Aku miliki ini pun menutupi segalanya, kebahagianmu yang Aku saksikan menjadi duri tajam yang menyayat. Perih. Harusnya Aku siap. Tapi nyatanya Aku benar-benar tak siap.
Hingga petang menjelang pun hujan tak juga turun. Aku kehabisan kesabaran untuk menunggunya. Aku putuskan untuk segera bangkit dari ranjangku. Aku keluar dari kamar. Aku jatuhkan tubuhku pada sofa di ruang tv. Aku tak akan mendapatinya lagi, hujan, segelas air putih hangat dan lelakiku. Mereka semua pergi meninggalkanku. Dan akhirnya air mata ini yang turun. Membasahi pipiku. Mengalir begitu deras. Harusnya Aku sadari resikonya sejak awal. Tak akan Aku dapati lagi lelakiku. Aku hanya bisa meronta, menangis, tanpa ada yang mendengar selain Kau, Tuhan. Aku terus menangis. Aku lelah. Aku ingin kepastian. Namun setelah kepastian itu Aku dapat, nyatanya Aku tak siap menerimanya. Aku tak siap, Tuhan. Kepada siapa lagi Aku meminta. Tuhan, apakah Kau masih mendengar. Aku tak dapat berdoa secara lisan padaMu, Tuhan. Aku tak dapat. Aku hanya bisa menangis. Aku bingung sekarang. Aku begitu ketakutan, Aku lipat kedua kakiku dan aku dekapkan ke dadaku. Aku terus menangis. Berakhir. Aku ingin Kamu, lelakiku. Hingga air mata ini berhenti turun. Aku buka laptopku. Entah perasaan macam apa ini, sepertinya ada sesuatu yang harus segera Aku ketahui. Benar, satu email masuk, dari Kamu.
“ Apapun yang terjadi, jangan pernah takut. Ada Tuhan yang menjagamu, yakinilah Dia. Aku hanya kepanjangan tangan dari Tuhan untuk menjagamu dalam batas waktu yang singkat. Aku tak tahu apa yang akan terjadi esok, lusa, dan hari kemudian. Aku tak tahu. Aku pun tak tahu apakah Aku akan benar-benar bisa menjadi ayah yang baik untuk calon anakku ini. Jika Aku boleh menyesal, Aku sangat menyesal tidak pernah bisa menjelaskan hubungan kita. Aku begitu pecundangnya tak berani mau bertanya padamu. Dan betapa bodohnya Aku tidak bisa menolak Dia. Aku lelaki pengecut yang tidak bisa mengambil keputusan bahkan untuk hidupku sendiri. Tapi sekarang apa? Apa yang bisa Aku perbuat? Aku menyakiti semuanya. Aku menyakiti diriku sendiri dan Aku menyakitimu. Jangan maafkan Aku. Biarkan Aku hidup dalam rasa bersalahku padamu. Biar Aku tanggung semua itu. Jaga dirimu, dan yakinilah Tuhanmu, maka ketakutanmu pun akan berangsur hilang. Dan hilangkan segala terkaan dan praduga yang kamu pikirkan itu. Bebaskan dirimu. Aku ingin melihatmu bahagia dengan atau tanpa pendamping selain Aku”
Hujan pun turun, begitupun air mata ini, turun membasahi bumi. Aku tersenyum. Tuhan tidak benar-benar meninggalkanku sendiri. Masih ada hujan yang menemaniku. Aku kembali masuk ke kamar dan berbaring di ranjang dengan selimut merah, tanpa segelas air putih hangat dan tanpa Kamu, lelakiku.
Aku pejamkan mata, dan tertidur. Tertidur dengan tenang, tanpa ada terkaan dan praduga itu kembali. Tak ada lagi visualisasi nyata tentang Kamu dan Dia. Aku benar-benar tenang.
Aku pejamkan mata, dan tertidur. Tertidur dengan tenang, tanpa ada terkaan dan praduga itu kembali. Tak ada lagi visualisasi nyata tentang Kamu dan Dia. Aku benar-benar tenang.
***
Dan Tuhan lebih menyayangiku. Tuhan ingin Aku lebih dekat. Tuhan mengambilku dari ragaku yang indah itu. Aku bahagia. Aku tak takut sekarang. Aku sudah ada dalam kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang lebih abadi daripada kehidupan maya di bumi. Kematian. Aku bersamaMu, Tuhan.
***
Kamu menjadi seorang Ayah sekarang. Ayah dari seorang putri yang cantik. Kamu, Dia, dan putri kecil kalian, bahagia. Aku bisikkan sesuatu pada Tuhan, “Jaga mereka Tuhan, bahagiakan mereka.“ Kamu menggendong putri kecil cantikmu, kamu meneteskan air mata, dan membisikkan sesuatu yang sangat jelas Aku dengar pada putri kecilmu, “Maafkan Aku”.

0 comments:
Post a Comment