aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja.
aku hilang kendali atas perasaan yang begitu dalam ini. aku seperti penyakitan dalam penjara sepi. dada yang selalu sesak, mata perih oleh air mata yang tak kunjung kering, dan tak bisa dibayangkan oleh siapapun. pada siapa aku mengadu? aku mulai hilang kendali atas rasa percaya pada orang-orang itu. maka aku diam, menikmati ini sendiri, dan tak ada yang bisa mengingatkan bahwa aku dalam kondisi tidak baik-baik saja. tidak ada yang mengingatkanku bahwa aku harus mengobati ini. aku mengandalkan diriku sendiri atas semua kendali itu. aku pun mulai lelah ketika aku harus terus menerus katakan pada orang-orang yang seharusnya aku percayai itu, "aku tidak apa-apa". itu semakin membuat dalam seluruh luka dalam diri ini.
dan, Tuhan. Ampuni Aku. yang kemudian melupakan kematian yang begitu dekat. baru pagi ini aku sadari, bahwa waktu berjalan begitu cepat, tak ditunggu pun kematian pasti akan datang. aku sedih. belum sampai ilmuku bahwa aku bisa tenang dan ikhlas menghadapi kematian. aku takut sendiri dan gelap.
aku takut tak menemukan wajah penuh kasih, ayah dan ibu. aku takut tak bisa bercanda gurau dengan adikku. aku takut kehilangan mereka.
dan rasa sakit ini pun mungkin bukti atas kurangnya rasa percayaku pada-Mu. Aku selalu gelisah dengan jodohku, rejekiku, dan aku sering melupakan kematian.

0 comments:
Post a Comment