“ Sendiri?”
Aku tengokkan kepalaku kearah datangnya suara. “Haii .. kamu, apa
kabar?”
“Baik. Boleh aku duduk?”
“Tentu …”
“Sedang apa?”
“Mengerjakan sesuatu yang membuat hati menjadi tenang.”
“Menulis?”
“Selain itu memang ada lagi?”
“Untukku, melukis jauh lebih menenangkan.”
Aku hentikan pekerjaanku. Aku matikan laptopku yang sejak tadi menamani
kesendirianku. Aku coba untuk menerka, sepertinya kamu sedang butuh teman bicara.
“Boleh menebak dan sok tahu?”
“Pernahkah aku melarang?”
“Dia, menjadi masalahkah sekarang?”
“Sedikit.”
“Kenapa?”
“Sekarang aku bingung sedang di jalan mana … “
“Itulah kesulitannya. Kita harus bisa benar-benar tahu, apakah kamu dan
dia memang benar berada di jalan yang sama, hanya jalan kamu dan dia memang
sengaja diputar dan pada akhirnya akan bertemu. Atau memang kamu dan dia
berjalan di jalan yang berbeda, sehingga jalan yang berputar pun tidak akan
pernah kalian temui, sampai batas akhir pun. Karena kalian tercipta hanya untuk
beriringan pada suatu masa, tanpa untuk menjadi saling satu. Karena kalian ditakdirkan
mempunyai kehidupan masing-masing di jalan yang berbeda. Dan jika itu yang terjadi, sekarang pun, kalian sedang tidak ada di jalan yang sama, hanya beriringan dan seolah-olah sedang berada di satu jalan yang sama, semu ... ”
“Dasar penulis.”
“Loh, ada yang salah?”
“Tidak, hanya saja terkadang aku bingung dengan makna dari kata-katamu,
ambigu.”
“Itulah kenapa aku lebih suka menulis. Pemaknaan setiap orang terhadap
tulisanku berbeda-beda. Dan itulah hidup. Biarkan saja mereka menerka tanpa
perlu kebenaran jawaban sesungguhnya …“
“Begitupun dengan melukis”
“Iya,”
“Tak pernah aku melukis sketsa wajah orang sesungguhnya, dalam setiap
lukisanku selalu ada sketsa wajahnya yang selalu menggerakkan kuasku. Hanya
sedikit diberi tambahan sentuhan lain, maka dia berubah menjadi sketsa wajah
lainnya … “
Terdengar sayup-sayup terdengar sebuah lagu,
Susah juga
ternyata
Punya
pacar bermata liar
Seringkali
memalukan
Dibuatnya
aku tiada berharga
Mau marah
percuma
Paling
hanya menelan ludah
Daripada
naik darah
Kuputuskan
saja tali cintanya
Untung
saja seluruh diriku
Dapat
kujaga utuh
Sejak
kucinta dia
Sehingga
kini berpisah
Oh syukur
tiada ternoda
Aduh aduh
bisa gila
Punya
pacar berhati dua
Aku ini
punya siapa
Kuputuskan
saja tali cintanya
“Hahahah kenapa masih ada lagu seperti ini di tempat makan seperti ini.”
“Jadi ? masih mau punya yang berhati dua? Januari Kristi saja
memutuskan tali cintanya …”
Kami berdua tertawa bersama. Dan akhirnya manyantap hidangan yang sudah
terabaikan sejak kedatangannya … dan pengabaian itu membuat segalanya menjadi
tidak nikmat lagi. Pengabaian …

0 comments:
Post a Comment