Sunday, February 17, 2013

JALAN

“ Sendiri?”

Aku tengokkan kepalaku kearah datangnya suara. “Haii .. kamu, apa kabar?”

“Baik. Boleh aku duduk?”

“Tentu …”

“Sedang apa?”

“Mengerjakan sesuatu yang membuat hati menjadi tenang.”

“Menulis?”

“Selain itu memang ada lagi?”

“Untukku, melukis jauh lebih menenangkan.”

Aku hentikan pekerjaanku. Aku matikan laptopku yang sejak tadi menamani kesendirianku. Aku coba untuk menerka, sepertinya kamu sedang butuh teman bicara.

“Boleh menebak dan sok tahu?”

“Pernahkah aku melarang?”

“Dia, menjadi masalahkah sekarang?”

“Sedikit.”

“Kenapa?”

“Sekarang aku bingung sedang di jalan mana … “

“Itulah kesulitannya. Kita harus bisa benar-benar tahu, apakah kamu dan dia memang benar berada di jalan yang sama, hanya jalan kamu dan dia memang sengaja diputar dan pada akhirnya akan bertemu. Atau memang kamu dan dia berjalan di jalan yang berbeda, sehingga jalan yang berputar pun tidak akan pernah kalian temui, sampai batas akhir pun. Karena kalian tercipta hanya untuk beriringan pada suatu masa, tanpa untuk menjadi saling satu. Karena kalian ditakdirkan mempunyai kehidupan masing-masing di jalan yang berbeda. Dan jika itu yang terjadi, sekarang pun, kalian sedang tidak ada di jalan yang sama, hanya beriringan dan seolah-olah sedang berada di satu jalan yang sama, semu ... ”

“Dasar penulis.”

“Loh, ada yang salah?”

“Tidak, hanya saja terkadang aku bingung dengan makna dari kata-katamu, ambigu.”

“Itulah kenapa aku lebih suka menulis. Pemaknaan setiap orang terhadap tulisanku berbeda-beda. Dan itulah hidup. Biarkan saja mereka menerka tanpa perlu kebenaran jawaban sesungguhnya …“

“Begitupun dengan melukis”

“Iya,”

“Tak pernah aku melukis sketsa wajah orang sesungguhnya, dalam setiap lukisanku selalu ada sketsa wajahnya yang selalu menggerakkan kuasku. Hanya sedikit diberi tambahan sentuhan lain, maka dia berubah menjadi sketsa wajah lainnya … “

Terdengar sayup-sayup terdengar sebuah lagu,

Susah juga ternyata
Punya pacar bermata liar
Seringkali memalukan
Dibuatnya aku tiada berharga
Mau marah percuma
Paling hanya menelan ludah
Daripada naik darah
Kuputuskan saja tali cintanya
Untung saja seluruh diriku
Dapat kujaga utuh
Sejak kucinta dia
Sehingga kini berpisah
Oh syukur tiada ternoda
Aduh aduh bisa gila
Punya pacar berhati dua
Aku ini punya siapa
Kuputuskan saja tali cintanya

“Hahahah kenapa masih ada lagu seperti ini di tempat makan seperti ini.”

“Jadi ? masih mau punya yang berhati dua? Januari Kristi saja memutuskan tali cintanya …”

Kami berdua tertawa bersama. Dan akhirnya manyantap hidangan yang sudah terabaikan sejak kedatangannya … dan pengabaian itu membuat segalanya menjadi tidak nikmat lagi. Pengabaian

0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis