“ hey bangun, malu dong sama bulan. Happy new year.”
Aku baca pesan
singkatmu. Mataku masih setengah tertidur. Ah, rupanya aku ketiduran, Aku lihat
sekeliling kamarku, ternyata laptopku masih menyala. Aku lihat jam di dinding kamarku,
pukul 09.00 malam. Aku balas pesan singkatmu.
“ Ini tahun baru?Tidak ada yang berbeda, eh kecuali kamu. Iya kamu. Sekarang kamu Adalah pria dewasa yang pemberani. Selamat yaa … “
Disaat kamu ingin bisa memutuskan,
disitulah banyak pilihan hadir. Karena Tuhan mendengarkan doamu. Tuhan, menyayangimu dengan cara yang tak
terduga. Maka peluklah Tuhanmu. Maka akan kamu rasakan kehangatan Tuhan dan
kasihnya yang tak terkira. Begitupun jika kamu ingin menjadi kuat, Tuhan turunkan hal-hal menyakitkan. Jangan putuslah berdoa.
Tak lama ponselku
menyala, balasan darimu.
“besok kita bertemu di tempat biasa pukul 02.00 pm. Jangan lupa ya.”
Hanya aku baca pesan
singkat itu. Aku kembali tertidur.
Aku tepati perintahmu.
Begitupun kamu. Dua potong banana cake dan satu cangkir green tea hangat
menemaniku mendengarkan curahan hatimu tentang wanita itu. Kamu hanya butuh
teman cerita dan teman diskusi untuk hal ini. Kamu pun hanya butuh didengarkan dengan
sesekali harus dipancing. Kamu begitu pemalu, bahkan ketika kamu menceritakan
wanita pujaanmu itu. Ah, tapi hal itu sudah terbiasa terjadi. Kapanpun, aku siap mendengarkan.
Kamu tak lepas
memainkan gadget-gadgetmu itu, entah apa yang sedang kamu lakukan. Aku pun tak
mau tahu. Kadang aku curi-curi pandang, kamu tersenyum, mengernyit, bingung.
Begitu kamu sudah sibuk dengan duniamu, aku layangkan pandanganku ke arah sekelilingku.
Dan mulailah, aku masuk dalam duniaku, berkhayal, ya, akupun sama, tersenyum,
mengernyit, bingung. Kita memasuki dunia masing-masing dengan jalan yang berbeda. Mungkin kami terlihat sangat aneh, duduk berdua dalam satu
meja tapi hanya berkomunikasi sebentar saja. Dari 3 jam waktu kami bertemu,
hanya 45 menit waktu yang kami habiskan untuk saling bercerita dan
mendengarkan. Sisanya, kami habiskan dengan menyibukkan diri di dunia kami
masing-masing. Dunia yang tidak pernah kami temukan jika tidak bertemu seperti ini. Dunia
yang selalu terampas dari keegoisan makhluk yang berwujud manusia. Yang tidak
pernah mengerti dan tidak pernah mau mengerti tentang dunia kami. Dunia yang
hanya kami masing-masing yang tahu.
“sore, pulang yuk! ”
“yuk, bungkus pisangnya
ya. Dan ke toko buku sebentar.”
“ah lupa, aku tidak bisa
mengentarkanmu pulang. Kita pulang masing-masing. Dia datang malam ini, dan aku
harus menjemputnya.” Kamu elus-elus kepalaku.
“jahat. Baiklah, semua
tagihan dan bungkusan pisang ini kamu yang bayar.”
Aku tinggalkan kamu
selagi kamu di cashier. Iya, hal ini memang nampak aneh dan sedikit tidak
biasa. Aku tidak marah. Kami hanya saling jujur dalam segala sesuatunya. Itu mungkin
yang membuat sampai saat ini kami bias menjalin hubungan yang “baik”. Aku tak
segan bercerita apapun, begitupun kamu. Kami tidak merasa malu satu sama lain, karena
kami memang terlahir “aneh”. Serasa menemukan agen yang terpisah. Aku segera
mencari angkutan kea rah took buku. Aku ambil pesanan bukuku dan aku kembali
pulang ke rumah.
Dan malam ini, banana
cake, yogurth dan novel baru. Aku dedikasikan seluruh malamku untuk kalian
semua. Tanpa ponsel. Setibanya landing ke alam nyata setelah mengudara di alam
khayalku, aku buka ponselku.
“maaf ya tadi sore, aku lalai memberitahumu sebelumnya. Selamat menikmati novel baru.”
“pasti lagi baca. Yaudah, selamat membaca.”
Dua pesan singkat
darimu, hanya darimu. Aku segera balas pesan singkatmu itu.
“ sudah termaafkan oleh pisang ini. Dan baru landing dari duniaku. Sukses dong kencan malam ini?”
Taklama kamu pun
membalasnya,
“not bad, makasi ya. Entah harus aku sebut apa kamu ini, sahabat? Berlebihan, dan kamu sudah punya banyak di luar sana. Teman? Memang lebih. Ahh iya, nona.”
Seperti biasa, kamu
jarang sekali mengumbar cerita kemesraan kalian di depanku. Iya, mungkin dengan
pertimbangan sekarang aku masih single. Dan begitu kejamnya kah Kau berpikir
bahwa aku akan iri terhadap kalian? sial. Hatiku tak sehitam itu. Ah, sudahlah. Aku bercanda.
“aku adalah bundadari”
“iya, bundadari.”
“jaga dia baik-baik ya pria dewasa. Semoga Tuhan selalu menjaga dan membahagiakan kalian”
“amiin. Segeralah menyusul untuk mendapatkan “dia” "
“aku ini wanita, berbeda denganmu. Tuhan punya cara yang lain untuk menurunkan “dia” yang bias melangkah dan berlari bersamaku.”
“semoga tak lama ya nona, selalu kabari aku, pengagummu.”
“tentu saja. begitupun kamu”
“istirahatlah, selamat malam.”
“malam”
Aku hempaskan tubuhku
di atas ranjang, tak lama ponselku pun menyala kembali. Ada pesan singkat yang
masuk. Aku buka pesan singkat itu, bukan kamu tapi yang lain. Aku lelah, pulas.
Hari kedua di tahun
yang baru ini, aku dedikasikan waktuku dengan kopi, laptop dan tugas akhir kuliahku,
tanpa ponsel dan kabar darimu. Ini adalah waktu terakhirku di bangku
perkuliahan. Aku ingin lulus secepatnya dan segera pergi dari kota ini.
Menyingkir dari hiruk pikuknya peradaban.

0 comments:
Post a Comment