Thursday, February 28, 2013

kupan~9

bukan pada kemarin atau kini, tapi pada nanti aku titipkan salam rinduku-kupan

kupan~8

Bukan pada hadir, tapi pada jutaan kenangan aku titipkan ini .. rindu-kupan

kupan~7

Menjadi hidup, untuk dapat bertahan pada kematian rasa, tentangmu-kupan

kupan~6

Dan berhenti disini.Untuk menunggumu datang dan membawaku kembali, masalalu.-kupan

kupan~5

dan rindu ini begitu menggigitku, hingga bekasnya menjadi luka yang perih-kupan

kupan~4

ini langkahku, mundur. karena masa depan bukanlah kita, tapi aku dan kamu-kupan

kupan~3

GELISAH, melakukan hal yang tidak sesuai dengan keyakinan hati-kupan

kupan~2

hanya hitam yang akan menjadi teman, ketika kelabu menghampiri-kupan

kupan

ini bukan karena aku wanita yang kuat, terlebih karena aku lelah dengan prasangka yang aku buat sendiri - kupan

HALTE (3)

Akhirnya selesai. Dan segera aku langkahkan kaki ini menuju tempat yang sama, Halte. Aku duduk dengan kedua tangan menyangga badan. Ahh, sebenernya tak perlu, tapi biarlah, aku hanya ingin. Melihat-lihat kondisi jalanan yang  ramai. Serta bermacam-macam orang yang hilir mudik di depanku. Berbagai angkutan berhenti di depanku seketika. Tapi seketika itu pula segera meninggalkanku lagi, karena memang tak ada penumpang yang akan menaikinya. 
Mungkin sama sepertimu, yang begitu cepat berhenti dan begitu cepat pula meninggalkankanku
Aku tidak melamun, tidak-tidak, Aku sangat tahu bahaya melamun di situasi ramai seperti ini. Terlebih ini jalanan. Bukan, maksudku halte. Aku terus memandangi jalanan. Ada hal menarik yang tertangkap oleh mataku. Bukan mobil mewah yang melintas. Itu hal biasa. Tapi tentang angkutan umum yang berkeliaran di depanku secara brutal. Jalanan di depanku lurus, ada belokan memang, namun agak jauh jika harus ditempuh dengan berjalan kaki. Sebuah angkutan melaju dengan cukup kencang, lampu sen ke arah kanan terus dinyalakan oleh sang supir. Itu pertanda bahwa mobil yang dibawanya akan menyalip kendaraan lain dari arah kanan. Namun hal aneh terjadi. Ketika supir tersebut melihat "calon mangsanya" berdiri di sebelah kiri,  sang supir segera membanting stir ke arah kiri. Tentu, suara klakson dari pengemudi lain langsung saja menghujani angkutan tersebut. Dan ketika mangsanya menolak, dengan cepat supir tersebut langsung segera memasuki jalanan ramai lagi.Mengikuti kode yang diberikn sebelumnya yang hingga saat ini masih terus menyala. Mobil itu tak kutangkap lagi keberadaannya. Hilang. Mungkin tertutup kendaraan lain.
Ah, aku teringat cerita temanku tentang lelakinya. Mungkin bisa Aku kaitkan dengan angkutan tadi. Jika aku ibartkan, lelakinya itu adalah angkutan yang dibawa oleh supir tersebut. Kode yang selalu dia berikan pada temanku ternyata hanyalah kode semu yang nyata. Hal ini karena ketika lelaki temanku menemukan "mangsa barunya", dia langsung banting setir. Sedangkan kode tersebut masih terus tertuju padanya (temanku).
Lampu jalanan menyala dengan angkuhnya. Menantang lampu-lampu kendaraan di bawahnya. Hanya sebagian wajahku yang mendapat penerangannya, sebagian tertutup bayangan atap halte yang lapuk. Ah, datang. Aku harus segera pulang, dengan angin sebagai teman perjalanan.

Hanya ini, hari ini. Menempuh esok, dengan lelah yang berganti ...

Monday, February 25, 2013

HALTE (2)


Kini senjaku menjadi aku. Rutinitasku untuk mengunjungi halte ini tetap sama, setiap sore, selepas aku mengikuti les. Jika tidak menulis, aku hanya memandangi hal-hal yang aku lihat di depanku. Seperti sore ini, aku melihat seorang pengamen kecil yang sedang memunguti benda-benda bernilai, seperti gelas-gelas plastik , botol plastik dan beberapa kardus bekas di tong sampah halte ini yang sudah penuh, bahkan meluber isinya. Mungkin sama seperti otakku sekarang, dengan sampah sebagai masalah-masalah yang aku pikirkan. Dia memandang ke arahku.  Dan segera menghampiriku. Aku begitu kaget dan sedikit takut. Ternyata dia hanya akan mengambil gelas plastik yang berserakan di bawah kursi halte ini. Ah, sampah-sampah itupun tak pernah aku sadari sebelumnya. Dia terus memunguti dan memisahkan bagian-bagain dari gelas plastik itu. Beberapa botol bekaspun dia masukkan ke dalam plastik besar yang dia bawa sejak tadi. Dia menatapku bingung. Segera aku ambil perbekalan makanan ringanku.

“mau?”

Dia tersenyum dan mengambil beberapa potong biskuit gandumku. Dia duduk di sebelahku. Memakannya dengan lahap. Tangan itu, tangan yang dia gunakan juga untuk memunguti sampah-sampah di tong sampah halte.

“lagi?” aku sodorkan biscuitku. dia mengambilnya lagi beberapa. selepas mengunyah dia segera pergi dengan membawa barang-barang temuannya. beberapa langkah dia berjalan, “terima kasih”. aku kembangkan senyumku. selepes kepergian pengamen kecil itu, ada hal yang aku pikirkan.



“Masalah memang tak akan pernah ada habisnya, selalu datang, mengikuti celah yang kita buat. Masalah selalu bisa diselesaikan, walaupun akan datang masalah lain lagi. Jika masalah itu tidak kita selesaikan, maka masalah itu akan menumpuk seperti sampah dalam tong sampah itu. Jika sudah demikian, kita hanya butuh pemulung kecil itu untuk menyortirnya, mengambil yang bernilainya saja. Karena sampah lain ternyata memang hanya  sampah yang membusuk dan menjadi sarang untuk penyakit. Begitupun masalah dalam hidup kita, kita hanya perlu menyortirnya, masalah yang memang harus  diselesaikan dan ada nilai yang dapat kita ambil. Atau masalah yang dibiarkan saja, karena masalah tersebut hanyalah sampah … sampah yang terus membusuk dan melukai diri.”

HALTE (1)

“Selesai?”

“Belum.”

“Ada yang bisa aku bantu?”

“Tidak”

“Baiklah”

Kamu duduk di sampingku. Menenggak minuman kaleng itu. Kamu terus mengamati jalanan yang ramai. Sesekali kamu mengucek matamu karena terkena asap kendaraan. Kamu sodorkan minuman kaleng bersoda itu kepadaku.

“Minum?”

“Tidak”

Hening. Aku tetap melanjutkan menulis  di smartphoneku, dan kamu tetap meminum minuman itu. Di halte ini, tempat kita berjanji untuk saling bertemu.Dan tempatku untuk  menyepi. Menyepi? Iya benar menyepi. Menyepi dalam keramaian. 

Adakah hal lain yang bisa kita kerjakan selain duduk disini sepanjang waktu? Aku tak tahan dengan bau pesing disini.” Kamu melempar kaleng minuman itu ke arah tong sampah rusak yang tersedia di halte ini. Meleset. Kamu segera memungutnya dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.

“Nikmatilah.” Pandanganku tetap tertuju pada layar smartphoneku

“Apanya yang harus dinikmati? Baiklah apa kamu mau menjadi pacarku?”

Aku segera menengadahkan mukaku ke arah ramainya kendaraan di jalan. Kamu melihatku penuh penantian. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku, hanya anggukan pelan kepalaku sebagai jawabannya. Kamu pegang tanganku dan aku segera lepaskan.

“Kenapa? Sekarang kita berpacaran. Memegang tanganmu pun aku tak boleh?”

“Sekarang kita putus.”

“Hah? Apa maksudmu?”

“Aku hanya ingin lelaki yang menghargai wanita.”

“Aku hanya memegang tanganmu. Itupun hanya beberapa detik!”

“Itu awalnya, aku tidak seperti perempuanmu sebelumnya, mungkin. Pernahkan kamu berpikir bahwa ketika kamu memagang, memeluk pacar-pacar terdahulumu, itupun yang mereka lakukan pada pacarnya terdahulu sebelum kamu? Mungkin lebih .. ah sudahlah!”
Kamu diam. Mungkin bingung harus menjawab apa. “Begitupun aku tentunya ..., tapi jika kamu melakukannya pun … “
Segera aku potong ucapanmu, karena aku tahu arah pembicaraan ini kemana, “Jika yang Tuhan turunkan untukku adalah lelaki yang telah memeluk jutaan atau miliaran perempuan lain disana, Aku terima, tapi Aku, akan tetap menjaga diriku untukNya.”

“Jadi maukah kamu menjadi pacarku?”

“Jika tidak?”

“Takkan ada lagi sketsa senja di halte ini”
“Akan aku buat sketsa senjaku sendiri. Jika hadirku kamu butuhkan, kamu tahu harus kemana”
“Baiklah”
Kamu tetap duduk di sampingku. Memandangi cahaya lampu yang bertebaran di jalanan depan halte.


Thursday, February 21, 2013

Yang Aku Cinta

Satu hal yang selalu membuat hati ini teriris perih adalah ketika dalam akhir waktumu, aku tak berada di sampingmu. Hal-hal dunia yang Aku lakukan, ternyata begitu menguras segala perhatianku. Sehingga kabarmu pun tak sempat aku tanyakan dalam beberapa waktu sebelum ajal menjemputmu. Itulah penyesalan terdalam  yang sampai saat ini Aku rasakan. Begitu banyak janji yang aku ucapkan padamu, berharap, diwaktu terpenting dalam hidupku, kamu ikut hadir dan bersamaku. Memelukku penuh hangat sebagai ucapan selamat atas tercapainya apa yang aku janjikan padamu. Masih terngiang sunggingan senyummu ketika terbaring dengan penyakit-penyakit yang menggerogoti seluruh kesehatanmu. Tak dapat  aku sembunyikan kesedihanku melihatmu tak berdaya di atas ranjang tuamu. Aku ingin pelukan hangatmu lagi. Aku rindukan itu. Namun, kini senyum itu hanya ada dalam bayangku. Dan rindu ini aku selipkan dalam setiap doaku. Semoga akhir kehidupan duniamu adalah tidur panjang yang menyenangkan. Aku ingin dipertemukan denganmu dalam Surga Tuhan Kita. Aku tidak ingin terus bersedih hati, tapi penyesalan ini begitu dalam. Hingga kemarin, di saat Aku benar-benar merindukanmu, entah ini isyarat agar Aku ikhlas melepas kepergianmu dan mengubur segala sesal terdalam atau apapun itu ...

Aku segera mengambil wudhu di masjid ketika adzan berkumandang. Melaksanakan sholat. Selepas itu, aku segera kembali ke kamar mandi untuk merapihkan kerudungku. Tak berapa lama, seorang nenek datang menghampiriku, “Nak, nenek nitip mukenah.” Sejenak aku terlonjak kaget, seperti kebiasaanku yang kamu ketahui, Aku sering sekali melamun ketika sendiri, terlebih di depan cermin. Belum sempat aku menjawab, nenek tersebut berkata kembali, “Ya Alloh, kenapa nenek tidak percaya pada penjagaan Alloh. Mukenah ini juga milik masjid, bukan milik nenek. Apapun yang terjadi pada mukenah ini adalah kehendaknya, jika kemudian ada yang mengambil pun itu sudah garis takdirnya, maafkan nenek nak.” Aku bingung dan entah harus berkata apa. Hanya aku kembangkan sedikit senyum penuh kebingungan. Aku tunggu nenek tersbut, namun nenek tersebut belum juga keluar dari kamar mandi, akhirnya aku meninggalkan mukenah itu, dan berharapa mukenah titu masih tetap di tempatnya hingga nenek datang.

Itu mungkin kejadian biasa. Tapi sangat berbekas dalam hidupku kini. Aku coba untuk belajar meretas rasa sesal dalam hati. Dan akan kucoba ikhlas atas kepergianmu. Dalam angan semu, aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu . Hanya doa yang bisa aku kirimkan untukmu, berharap itu dapat meringankanmu. Dan Aku berjanji akan menjadi anak yang baik dan berguna. Seperti yang selalu aku ucapkan padamu. 

Kebiasanmu meminum secangkir teh manis itu selalu mengingatkanku padamu. Terserah ini berlebihan atau tidak. Luka atas penyesalan itu yang selalu membuatku menolak untuk meminumnya. Aku hanya meminum secangkir teH tanpa gula, bukan karena aku tak mau mengingatmu dalam tegukan teh itu, terlebih karena ingatan itu akan memperdalam lubang sesal yang telah terbentuk … Aku ingin ada disana. Ketika nafas terahirmu masih bisa aku rasakan. 


Pakde, kangen :'(

Monday, February 18, 2013

Aysha


Terbangun di pagi yang indah dengan rintik hujan sebagai pengiring datangnya suara adzan yang bersautan, dengan kelabu sebagai warna alam yang menghiasinya. Indah, segala puji hanya untuk-Mu, Tuhan pencipta segala keindahan.
Memulai pagi dengan bersujud, memasrahkan segala hal  yang akan dilalui pada hari ini. Memohon perlindungan diri dan hati. Ikhlas, sujud ini hanya untuk-Mu, Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Terus berjalan di jalan yang Kau Ridhoi.
Perenungan pagi untuk terus berjalan sepanjang hari, hingga senja turun dan hanya kepekatan malam yang menjadi teman.
Segala Puji dan Syukur hanya untuk-Mu, Tuhan Semesta Alam.


“Harus tetap bersyukurkah walau hati sedang merasa tersakiti?” Suara itu tiba-tiba muncul dari belakang punggungku, ahh Kamu.


“Pertanyaan bodoh. Bersyukur, selalu, kapanpun dan bagaimanapun keadaan kita.”


“Oia?”


“Tentu. Hmm, Aku pikir ini akan menjadi obrolan panjang dan kamu sengaja memancingku untuk membahasnya …”


“Jika kamu tidak berminat, yasudah …”


“Yasudah.. hah, ya ya aku paham. Itu kata terjitu  yang bisa membuat orang lain merasa tidak enak padamu. Baiklah. Kita mulai darimana?”


“Sepertinya kamu sibuk, sudahlah tidak perlu, lain waktu saja mungkin.”


“Jika lain waktu itu masih ada tentunya.”


“Kenapa kamu selalu menakutiku tentang hal itu.”


“Kematian bukanlah hal yang menakutkan. Begitu takutkah kamu aku tinggalkan?”


“Tentu saja. Siapa lagi yang akan mendengarkan keluh kesahku jika kamu sudah tiada.”


“Baiklah, jika begitu, mungkin Aku bisa memintakan kamu terlebih dahulu yang meninggalkan dunia ini.”


“Aysha!”


“Ilo!”


“Ah, sudahlah, kamu selalu seperti itu.”


Kamu meminum teh hangat yang sekarang menjadi the dingin itu dengan pandangan menyapu sekeliling. Begitu banyak beban sepertinya, ini hanya dugaanku. 


Kamu memulai obrolan siang  ini, “Kamu … “


“Membahasnya lagi?”


“Memang kamu tahu apa yang akan aku katakan?”


“Tentu, menutup akun-akun itu?”


“Ya. Adakah sedikit alasan?”


“Membersihkan diri dari prasangka hati dan mencoba untuk mereduksi masalah yang bergejolak dalam diri.”


“Aku masih belum mengerti. Tapi baiklah selama kamu selalu nampak ceria seperti ini aku tidak pernah keberatan dengan keputusanmu. Coba kita mulai bicarakan tentang mensyukuri hati yang tersakiti.”


“Baiklah … Mana yang kamu pilih, terus menerus merasa bahagia, merasa sedih, atau merasakan keduanya?“


“Terus menerus merasa bahagia.”


“Tapi tidak untuk kenyataan. Kamu harus menemui kesedihan.”


“Jika aku tidak ingin?”


“Kamu melanggar ketetapan alam.”


“Kenapa?”


“Karena Tuhan menciptakannya  berpasangan. Begitupun dengan bahagia.”


“Tapi, bukankah Tuhan melarang bersedih? La Tahzan”


“Melarang, pertanda bahwa hal tersebut memang ada. Jika tidak ada, tidak mungkin adanya larangan.”


“Benar .. bagaimana menghadapinya?”


“Dengan mensyukuri kesedihan itu .. mm mungkin dalam hal ini, hati yang tersakiti.”


“caranya?”


“Terus berpikir bahwa kesedihan itu yang akan membuat kita jauh lebih mensyukuri hadirnya kebahagiaan. Semakin kesedihan itu menghujam kita, semakin kita sensitive terhadap kebahagian-kebahagiaan kecil yang Tuhan berikan. Yang tidak semua orang tahu, bahwa hal kecil tersebut adalah bentuk dari kebahagiaan.”


“ … maka biarkan Aku mendahuluimu untuk meninggalkan dunia ini. Darimu Aku banyak belajar tentang arti hidup. Aku selalu merasa jauh lebih baik sejak mengenalmu. Walaupun banyak hal yang sebenarnya tidak aku mengerti tentang nalarmu. Tapi kamu, sahabat terbaik.”


“Jangan mendahului takdir Tuhan. Sudahlah, Aku lemah terhadap pujian.”

"Aku bertengkar dengan pacarku."

Kamu ceritakan semua hal yang sejak tadi menggelayuti pikiranmu. Random, Tapi kamu hanya butuh teman cerita. Ya, dan Aku siapkan perhatian dan telingaku. Hanya itu yang bisa Aku berikan.Semoga cepat terselesaikan.

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis