bukan pada kemarin atau kini, tapi pada nanti aku titipkan salam rinduku-kupan
Thursday, February 28, 2013
kupan
ini bukan karena aku wanita yang kuat, terlebih karena aku lelah dengan prasangka yang aku buat sendiri - kupan
HALTE (3)
Akhirnya selesai. Dan segera aku langkahkan kaki ini menuju tempat yang sama, Halte. Aku duduk dengan kedua tangan menyangga badan. Ahh, sebenernya tak perlu, tapi biarlah, aku hanya ingin. Melihat-lihat kondisi jalanan yang ramai. Serta bermacam-macam orang yang hilir mudik di depanku. Berbagai angkutan berhenti di depanku seketika. Tapi seketika itu pula segera meninggalkanku lagi, karena memang tak ada penumpang yang akan menaikinya.
Mungkin sama sepertimu, yang begitu cepat berhenti dan begitu cepat pula meninggalkankanku.
Aku tidak melamun, tidak-tidak, Aku sangat tahu bahaya melamun di situasi ramai seperti ini. Terlebih ini jalanan. Bukan, maksudku halte. Aku terus memandangi jalanan. Ada hal menarik yang tertangkap oleh mataku. Bukan mobil mewah yang melintas. Itu hal biasa. Tapi tentang angkutan umum yang berkeliaran di depanku secara brutal. Jalanan di depanku lurus, ada belokan memang, namun agak jauh jika harus ditempuh dengan berjalan kaki. Sebuah angkutan melaju dengan cukup kencang, lampu sen ke arah kanan terus dinyalakan oleh sang supir. Itu pertanda bahwa mobil yang dibawanya akan menyalip kendaraan lain dari arah kanan. Namun hal aneh terjadi. Ketika supir tersebut melihat "calon mangsanya" berdiri di sebelah kiri, sang supir segera membanting stir ke arah kiri. Tentu, suara klakson dari pengemudi lain langsung saja menghujani angkutan tersebut. Dan ketika mangsanya menolak, dengan cepat supir tersebut langsung segera memasuki jalanan ramai lagi.Mengikuti kode yang diberikn sebelumnya yang hingga saat ini masih terus menyala. Mobil itu tak kutangkap lagi keberadaannya. Hilang. Mungkin tertutup kendaraan lain.
Ah, aku teringat cerita temanku tentang lelakinya. Mungkin bisa Aku kaitkan dengan angkutan tadi. Jika aku ibartkan, lelakinya itu adalah angkutan yang dibawa oleh supir tersebut. Kode yang selalu dia berikan pada temanku ternyata hanyalah kode semu yang nyata. Hal ini karena ketika lelaki temanku menemukan "mangsa barunya", dia langsung banting setir. Sedangkan kode tersebut masih terus tertuju padanya (temanku).
Lampu jalanan menyala dengan angkuhnya. Menantang lampu-lampu kendaraan di bawahnya. Hanya sebagian wajahku yang mendapat penerangannya, sebagian tertutup bayangan atap halte yang lapuk. Ah, datang. Aku harus segera pulang, dengan angin sebagai teman perjalanan.
Hanya ini, hari ini. Menempuh esok, dengan lelah yang berganti ...
Monday, February 25, 2013
HALTE (2)
Kini senjaku menjadi
aku. Rutinitasku untuk mengunjungi halte ini tetap sama, setiap sore, selepas
aku mengikuti les. Jika tidak menulis, aku hanya memandangi hal-hal yang aku
lihat di depanku. Seperti sore ini, aku melihat seorang pengamen kecil yang
sedang memunguti benda-benda bernilai, seperti gelas-gelas plastik , botol
plastik dan beberapa kardus bekas di tong sampah halte ini yang sudah penuh, bahkan
meluber isinya. Mungkin sama seperti otakku sekarang, dengan sampah sebagai
masalah-masalah yang aku pikirkan. Dia memandang ke arahku. Dan segera menghampiriku. Aku begitu kaget
dan sedikit takut. Ternyata dia hanya akan mengambil gelas plastik yang
berserakan di bawah kursi halte ini. Ah, sampah-sampah itupun tak pernah aku
sadari sebelumnya. Dia terus memunguti dan memisahkan bagian-bagain dari gelas
plastik itu. Beberapa botol bekaspun dia masukkan ke dalam plastik besar yang dia
bawa sejak tadi. Dia menatapku bingung. Segera aku ambil perbekalan makanan
ringanku.
“mau?”
Dia tersenyum dan
mengambil beberapa potong biskuit gandumku. Dia duduk di sebelahku. Memakannya
dengan lahap. Tangan itu, tangan yang dia gunakan juga untuk memunguti
sampah-sampah di tong sampah halte.
“lagi?” aku sodorkan
biscuitku. dia mengambilnya lagi beberapa. selepas mengunyah dia segera pergi
dengan membawa barang-barang temuannya. beberapa langkah dia berjalan, “terima
kasih”. aku kembangkan senyumku. selepes kepergian
pengamen kecil itu, ada hal yang aku pikirkan.
“Masalah memang tak akan pernah ada
habisnya, selalu datang, mengikuti celah yang kita buat. Masalah selalu bisa
diselesaikan, walaupun akan datang masalah lain lagi. Jika masalah itu tidak
kita selesaikan, maka masalah itu akan menumpuk seperti sampah dalam tong
sampah itu. Jika sudah demikian, kita hanya butuh pemulung kecil itu untuk
menyortirnya, mengambil yang bernilainya saja. Karena sampah lain ternyata
memang hanya sampah yang membusuk dan
menjadi sarang untuk penyakit. Begitupun masalah dalam hidup kita, kita hanya
perlu menyortirnya, masalah yang memang harus
diselesaikan dan ada nilai yang dapat kita ambil. Atau masalah yang
dibiarkan saja, karena masalah tersebut hanyalah sampah … sampah yang terus
membusuk dan melukai diri.”
HALTE (1)
“Selesai?”
“Belum.”
“Ada yang bisa aku bantu?”
“Tidak”
“Baiklah”
Kamu duduk di sampingku. Menenggak minuman kaleng itu. Kamu
terus mengamati jalanan yang ramai. Sesekali kamu mengucek matamu karena
terkena asap kendaraan. Kamu sodorkan minuman kaleng bersoda itu kepadaku.
“Minum?”
“Tidak”
Hening. Aku tetap melanjutkan menulis di smartphoneku, dan kamu tetap meminum
minuman itu. Di halte ini, tempat kita berjanji untuk saling bertemu.Dan tempatku untuk
menyepi. Menyepi? Iya benar menyepi. Menyepi dalam keramaian.
“Adakah hal lain yang bisa kita kerjakan selain duduk disini
sepanjang waktu? Aku tak tahan dengan bau pesing disini.” Kamu melempar kaleng
minuman itu ke arah tong sampah rusak yang tersedia di halte ini. Meleset. Kamu
segera memungutnya dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.
“Nikmatilah.” Pandanganku tetap tertuju pada layar
smartphoneku
“Apanya yang harus dinikmati? Baiklah apa kamu mau menjadi
pacarku?”
Aku segera menengadahkan mukaku ke arah ramainya kendaraan di
jalan. Kamu melihatku penuh penantian. Tak ada jawaban yang keluar dari
mulutku, hanya anggukan pelan kepalaku sebagai jawabannya. Kamu pegang tanganku
dan aku segera lepaskan.
“Kenapa? Sekarang kita berpacaran. Memegang tanganmu pun aku
tak boleh?”
“Sekarang kita putus.”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Aku hanya ingin lelaki yang menghargai wanita.”
“Aku hanya memegang tanganmu. Itupun hanya beberapa detik!”
“Itu awalnya, aku tidak seperti perempuanmu sebelumnya,
mungkin. Pernahkan kamu berpikir bahwa ketika kamu memagang, memeluk
pacar-pacar terdahulumu, itupun yang mereka lakukan pada pacarnya terdahulu
sebelum kamu? Mungkin lebih .. ah sudahlah!”
Kamu diam. Mungkin bingung harus menjawab apa. “Begitupun
aku tentunya ..., tapi jika kamu melakukannya pun … “
Segera aku potong ucapanmu, karena aku tahu arah
pembicaraan ini kemana, “Jika yang Tuhan turunkan untukku adalah lelaki yang
telah memeluk jutaan atau miliaran perempuan lain disana, Aku terima, tapi Aku,
akan tetap menjaga diriku untukNya.”
“Jadi maukah kamu menjadi pacarku?”
“Jika tidak?”
“Takkan ada lagi sketsa senja di halte ini”
“Akan aku buat sketsa senjaku sendiri. Jika hadirku kamu
butuhkan, kamu tahu harus kemana”
“Baiklah”
Kamu tetap duduk di sampingku. Memandangi cahaya lampu yang
bertebaran di jalanan depan halte.
Thursday, February 21, 2013
Yang Aku Cinta
Satu
hal yang selalu membuat hati ini teriris perih adalah ketika dalam akhir
waktumu, aku tak berada di sampingmu. Hal-hal dunia yang Aku lakukan, ternyata
begitu menguras segala perhatianku. Sehingga kabarmu pun tak sempat aku
tanyakan dalam beberapa waktu sebelum ajal menjemputmu. Itulah penyesalan
terdalam yang sampai saat ini Aku
rasakan. Begitu banyak janji yang aku ucapkan padamu, berharap, diwaktu
terpenting dalam hidupku, kamu ikut hadir dan bersamaku. Memelukku penuh hangat
sebagai ucapan selamat atas tercapainya apa yang aku janjikan padamu. Masih
terngiang sunggingan senyummu ketika terbaring dengan penyakit-penyakit yang
menggerogoti seluruh kesehatanmu. Tak dapat
aku sembunyikan kesedihanku melihatmu tak berdaya di atas ranjang tuamu.
Aku ingin pelukan hangatmu lagi. Aku rindukan itu. Namun, kini senyum itu hanya
ada dalam bayangku. Dan rindu ini aku selipkan dalam setiap doaku. Semoga akhir
kehidupan duniamu adalah tidur panjang yang menyenangkan. Aku ingin
dipertemukan denganmu dalam Surga Tuhan Kita. Aku tidak ingin terus bersedih
hati, tapi penyesalan ini begitu dalam. Hingga kemarin, di saat Aku benar-benar merindukanmu, entah ini isyarat
agar Aku ikhlas melepas kepergianmu dan mengubur segala sesal terdalam atau apapun itu ...
Aku segera mengambil wudhu di masjid ketika adzan berkumandang. Melaksanakan sholat. Selepas itu, aku segera kembali ke kamar mandi untuk merapihkan kerudungku. Tak berapa lama, seorang nenek datang menghampiriku, “Nak, nenek nitip mukenah.” Sejenak aku terlonjak kaget, seperti kebiasaanku yang kamu ketahui, Aku sering sekali melamun ketika sendiri, terlebih di depan cermin. Belum sempat aku menjawab, nenek tersebut berkata kembali, “Ya Alloh, kenapa nenek tidak percaya pada penjagaan Alloh. Mukenah ini juga milik masjid, bukan milik nenek. Apapun yang terjadi pada mukenah ini adalah kehendaknya, jika kemudian ada yang mengambil pun itu sudah garis takdirnya, maafkan nenek nak.” Aku bingung dan entah harus berkata apa. Hanya aku kembangkan sedikit senyum penuh kebingungan. Aku tunggu nenek tersbut, namun nenek tersebut belum juga keluar dari kamar mandi, akhirnya aku meninggalkan mukenah itu, dan berharapa mukenah titu masih tetap di tempatnya hingga nenek datang.
Itu
mungkin kejadian biasa. Tapi sangat berbekas dalam hidupku kini. Aku
coba untuk belajar meretas rasa sesal dalam hati. Dan akan kucoba ikhlas
atas kepergianmu. Dalam angan semu, aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku
merindukanmu . Hanya doa yang bisa aku kirimkan untukmu, berharap itu dapat
meringankanmu. Dan Aku berjanji akan menjadi anak yang baik dan berguna. Seperti
yang selalu aku ucapkan padamu.
Kebiasanmu meminum secangkir teh manis itu selalu mengingatkanku padamu. Terserah ini berlebihan atau tidak. Luka atas penyesalan itu
yang selalu membuatku menolak untuk meminumnya. Aku hanya meminum secangkir teH
tanpa gula, bukan karena aku tak mau mengingatmu dalam tegukan teh itu,
terlebih karena ingatan itu akan memperdalam lubang sesal yang telah terbentuk … Aku ingin ada disana. Ketika nafas terahirmu masih bisa aku rasakan.
Pakde, kangen :'(
Monday, February 18, 2013
Aysha
Terbangun
di pagi yang indah dengan rintik hujan sebagai pengiring datangnya suara adzan
yang bersautan, dengan kelabu sebagai warna alam yang menghiasinya. Indah,
segala puji hanya untuk-Mu, Tuhan pencipta segala keindahan.
Memulai
pagi dengan bersujud, memasrahkan segala hal yang akan dilalui pada hari ini. Memohon
perlindungan diri dan hati. Ikhlas, sujud ini hanya untuk-Mu, Tuhan yang maha
pengasih lagi maha penyayang. Terus berjalan di jalan yang Kau Ridhoi.
Perenungan
pagi untuk terus berjalan sepanjang hari, hingga senja turun dan hanya
kepekatan malam yang menjadi teman.
Segala
Puji dan Syukur hanya untuk-Mu, Tuhan Semesta Alam.
“Harus tetap bersyukurkah walau hati sedang merasa tersakiti?”
Suara itu tiba-tiba muncul dari belakang punggungku, ahh Kamu.
“Pertanyaan bodoh. Bersyukur, selalu, kapanpun dan
bagaimanapun keadaan kita.”
“Oia?”
“Tentu. Hmm, Aku pikir ini akan menjadi obrolan panjang dan
kamu sengaja memancingku untuk membahasnya …”
“Jika kamu tidak berminat, yasudah …”
“Yasudah.. hah, ya ya aku paham. Itu kata terjitu yang bisa membuat orang lain merasa tidak enak
padamu. Baiklah. Kita mulai darimana?”
“Sepertinya kamu sibuk, sudahlah tidak perlu, lain waktu
saja mungkin.”
“Jika lain waktu itu masih ada tentunya.”
“Kenapa kamu selalu menakutiku tentang hal itu.”
“Kematian bukanlah hal yang menakutkan. Begitu takutkah kamu
aku tinggalkan?”
“Tentu saja. Siapa lagi yang akan mendengarkan keluh kesahku
jika kamu sudah tiada.”
“Baiklah, jika begitu, mungkin Aku bisa memintakan kamu
terlebih dahulu yang meninggalkan dunia ini.”
“Aysha!”
“Ilo!”
“Ah, sudahlah, kamu selalu seperti itu.”
Kamu meminum teh hangat yang sekarang menjadi the dingin itu
dengan pandangan menyapu sekeliling. Begitu banyak beban sepertinya, ini hanya
dugaanku.
Kamu memulai obrolan siang
ini, “Kamu … “
“Membahasnya lagi?”
“Memang kamu tahu apa yang akan aku katakan?”
“Tentu, menutup akun-akun itu?”
“Ya. Adakah sedikit alasan?”
“Membersihkan diri dari prasangka hati dan mencoba untuk
mereduksi masalah yang bergejolak dalam diri.”
“Aku masih belum mengerti. Tapi baiklah selama kamu selalu nampak
ceria seperti ini aku tidak pernah keberatan dengan keputusanmu. Coba kita
mulai bicarakan tentang mensyukuri hati yang tersakiti.”
“Baiklah … Mana yang kamu pilih, terus menerus merasa
bahagia, merasa sedih, atau merasakan keduanya?“
“Terus menerus merasa bahagia.”
“Tapi tidak untuk kenyataan. Kamu harus menemui kesedihan.”
“Jika aku tidak ingin?”
“Kamu melanggar ketetapan alam.”
“Kenapa?”
“Karena Tuhan menciptakannya berpasangan. Begitupun dengan bahagia.”
“Tapi, bukankah Tuhan melarang bersedih? La Tahzan”
“Melarang, pertanda bahwa hal tersebut memang ada. Jika
tidak ada, tidak mungkin adanya larangan.”
“Benar .. bagaimana menghadapinya?”
“Dengan mensyukuri kesedihan itu .. mm mungkin dalam hal
ini, hati yang tersakiti.”
“caranya?”
“Terus berpikir bahwa kesedihan itu yang akan membuat kita
jauh lebih mensyukuri hadirnya kebahagiaan. Semakin kesedihan itu menghujam
kita, semakin kita sensitive terhadap kebahagian-kebahagiaan kecil yang Tuhan
berikan. Yang tidak semua orang tahu, bahwa hal kecil tersebut adalah bentuk
dari kebahagiaan.”
“ … maka biarkan Aku mendahuluimu untuk meninggalkan dunia
ini. Darimu Aku banyak belajar tentang arti hidup. Aku selalu merasa jauh lebih
baik sejak mengenalmu. Walaupun banyak hal yang sebenarnya tidak aku mengerti
tentang nalarmu. Tapi kamu, sahabat terbaik.”
“Jangan mendahului takdir Tuhan. Sudahlah, Aku lemah
terhadap pujian.”
"Aku bertengkar dengan pacarku."
Kamu ceritakan semua hal yang sejak tadi menggelayuti pikiranmu. Random, Tapi kamu hanya butuh teman cerita. Ya, dan Aku siapkan perhatian dan telingaku. Hanya itu yang bisa Aku berikan.Semoga cepat terselesaikan.
Subscribe to:
Comments (Atom)
