"Rasanya seperti ada sebuah kertas yang tertelan dan
membuat suara menjadi sulit keluar. Hanya telinga yang rasanya berubah menjadi
belalai, agar lebih banyak kudengar suaranya dan kusimpan untuk waktu yang lama."
"Bagus. Lanjutkan saja seperti itu. Mungkin penghargaan setara piala oscar bisa kamu dapatkan untuk peran seperti itu."
"Peran? ini bukan peran. Ini hanya sebuah hasil dari reaksi tubuh yang tidak pernah aku mengerti."
"Karena selalu kamu tutup hati kamu dengan tirai yang tebal."
"Iya, aku selalu salah. Selalu .. aku yang terlalu egois untuk mencintainya dalam diam. Rasa bahagia ini aku simpan dalam topeng kepura-puraan menjadi biasa. Aku terlalu menikmati sendiri. Dan aku tutup rapat semuanya. Aku yang terlalu pengecut untuk bisa berperan sebagai tokoh utama dalam hidupnya."
“aku hanya takut bahwa rasa ini memang layak untuk kumiliki
sendiri, tidak untuk dia. Itu yang akan kamu ucapkan pada akhirnya”
Kamu tinggalkan aku sendiri. Aku habiskan cassava chips ini sendiri, dan kutenggak habis segelas penuh perasan lemon sebagai teman sarapan pagi ini.

0 comments:
Post a Comment