“Hey bangun! Ayo bangun!” Aku
pukul-pukulkan dengan lembut guling yang terbujur kaku di samping badannya.
“Ahhh .. bentar lagi.” Dia tarik
selimutnya lagi hingga menutupi seluruh badannya.
“Sakit ya?” Aku cari keningnya
dan menempelkan punggung tanganku.
“Enggak … enggak” Dia berusaha
menepis tanganku.
“Tumben …” Akhirnya aku putus asa
dan keluar dari kamarnya. Aku buatkan sarapan pagi untuk dia yang masih
terkapar di tepat tidurnya. Nasi goreng, hanya itu mungkin yang bisa aku
buatkan setelah melihat stok bahan makanan yang ada di dapur. Aku potong
beberapa siung bawang merah, bawang putih dan cabai hijau. Setelah minyak goreng
yang aku tuang ke dalam wajan sudah panas, aku masukkan semuanya, harum sisiran itu
menguap lalu aku masukan dua butir telur. Bunyi yang indah, dan tak kau temukan
di tempat lain. Potongan wortel dan sayuran lain pun tak lupuut aku masukkan, nasi sebagai pemeran utama dalam menu sarapan pagi ini masuk dengan brutalnya.
Tak ada tambahan kecap sebagai pewarna dan perasanya, hanya gula dan garam
sebagai pelezat yang tak merubah warna. Selesai, tak begitu buruk rasanya. Aku alihkan
pandanganku mencari bubuk hitam yang selalu menemani pagiku, kopi. Beberapa
sendok kopi pun masuk ke dalam cangkir kecil, aku tuangkan air panas dari
dispenser di dapur, kepulan asap yang membawa aroma kopi perawan, tanpa gula,
susu, dan creamer. Ahh, luar biasa. Nikmat sekali bau dapur ini. Aku susun
semuanya di atas meja. Tak ada yang lebih menyahdukan selain mendengar suara
kerupuk di waktu sarapan pagi. Aku pun kembali berdiri dan mencari benda yang
kumaksud. Tak ada. Ya, mungkin aku harus keluar, ke warung sebelah dan
mencarinya hingga dapat. Aku hanya ingin harmoni pagi ini sempurna. Aku dapat!
aku pikir akan sesulit penambang emas menemukan berlian, tapi ternyata tidak. Lama sekali dia. Belum juga muncul. Aku kembali
ke kamarnya. Pintunya tertutup rapat. Baiklah. Akan aku tunggu lagi di meja
makan. Akhirnya dia datang dengan pakaian rapih dan sopan, tidak berlebihan.
“Pagi bu, hari ini sekolah libur.
Nanti siang temani aku latihan menari ya?”
“Selamat pagi sayang. Oke. Pantas, ibu pikir kamu sakit. Capek ya?”
“Iya bu hehe.”
Dia seperti
ayahnya yang tak mau diam. Aku pikir sebagai seorang wanita, biarlah duduk saja
di rumah, menunggu suami datang dan mengurusnya. Tapi dia punya pemikiran
berbeda. Beberapa kali aku berdiskusi panas tentang segala kegiatan yang
diikutinya. Tapi tentu saja, pada akhirnya aku kalah. Aku sering melihat di
kakinya muncul biru-biru lebam. Aku pikir dia terjatuh. Tapi ternyata itu
akibat kelelahan. Selain tenaga, pikirannya pun selalu terkuras dengan kegiatan
di sekolah dan kegiatan di luar. Memikirkan orang lain adalah hobinya. Melestarikan
budaya adalah kewajibannya. Dia, anakku yang selalu aku syukuri hadirnya.
“Yaudah yuk sarapan”
Aku ambilkan nasi goreng untuknya
serta beberapa buah kerupuk yang aku cari tadi. Suara itu, kunyahan nasi goreng
dengan wortel dan sayuran yang tak matang benar, dipadu dengan suara krupuk
yang renyah. Harmonisasi yang indah.
“Mau susu?”
“Boleh bu. Makasi”
Tiga sendok susu bubuk yang tersimpan
di dalam toples plastik itu aku tuangkan ke dalam mug yang bergambar sapi
merumput. Untuk mengingatkan dia, bahwa susu ini bukanlah susuku, tapi dari
sapi yang jelas tergambar di mugnya. Agar dia tau kepada siapa harus
berterimakasih untuk segelas susunya di setiap pagi. Pemilik dan pencipta sapi.
Aku tuangkan air panas dan aku campurkan seperempat mug dengan air suhu ruang.
Harmonisasi itu semakin syahdu
dengan tegukan susu di akhir makannya. Aku terus menemaninya dengan si hitam
perawan, kopi hitam panas.
“Bagaimana hariku tidak selalu
gembira jika setiap pagi selalu ibu bahagiakan aku seperti ini.” Dia berlari dan
memelukku.
“Terimakasih sayang.” Aku kecup keningnya.

0 comments:
Post a Comment