Monday, April 1, 2013

Sarapan

“Hey bangun! Ayo bangun!” Aku pukul-pukulkan dengan lembut guling yang terbujur kaku di samping badannya.

“Ahhh .. bentar lagi.” Dia tarik selimutnya lagi hingga menutupi seluruh badannya. 

“Sakit ya?” Aku cari keningnya dan menempelkan punggung tanganku.

“Enggak … enggak” Dia berusaha menepis tanganku.

“Tumben …” Akhirnya aku putus asa dan keluar dari kamarnya. Aku buatkan sarapan pagi untuk dia yang masih terkapar di tepat tidurnya. Nasi goreng, hanya itu mungkin yang bisa aku buatkan setelah melihat stok bahan makanan yang ada di dapur. Aku potong beberapa siung bawang merah, bawang putih dan cabai hijau. Setelah minyak goreng yang aku tuang ke dalam wajan sudah panas, aku masukkan semuanya, harum sisiran itu menguap lalu aku masukan dua butir telur. Bunyi yang indah, dan tak kau temukan di tempat lain. Potongan wortel dan sayuran lain pun tak lupuut aku masukkan, nasi sebagai pemeran utama dalam menu sarapan pagi ini masuk dengan brutalnya. Tak ada tambahan kecap sebagai pewarna dan perasanya, hanya gula dan garam sebagai pelezat yang tak merubah warna. Selesai, tak begitu buruk rasanya. Aku alihkan pandanganku mencari bubuk hitam yang selalu menemani pagiku, kopi. Beberapa sendok kopi pun masuk ke dalam cangkir kecil, aku tuangkan air panas dari dispenser di dapur, kepulan asap yang membawa aroma kopi perawan, tanpa gula, susu, dan creamer. Ahh, luar biasa. Nikmat sekali bau dapur ini. Aku susun semuanya di atas meja. Tak ada yang lebih menyahdukan selain mendengar suara kerupuk di waktu sarapan pagi. Aku pun kembali berdiri dan mencari benda yang kumaksud. Tak ada. Ya, mungkin aku harus keluar, ke warung sebelah dan mencarinya hingga dapat. Aku hanya ingin harmoni pagi ini sempurna. Aku dapat! aku pikir akan sesulit penambang emas menemukan berlian, tapi ternyata tidak. Lama sekali dia. Belum juga muncul. Aku kembali ke kamarnya. Pintunya tertutup rapat. Baiklah. Akan aku tunggu lagi di meja makan. Akhirnya dia datang dengan pakaian rapih dan sopan, tidak berlebihan.

“Pagi bu, hari ini sekolah libur. Nanti siang temani aku latihan menari ya?”

“Selamat pagi sayang. Oke.  Pantas, ibu pikir kamu sakit. Capek ya?”

“Iya bu hehe.” 

Dia seperti ayahnya yang tak mau diam. Aku pikir sebagai seorang wanita, biarlah duduk saja di rumah, menunggu suami datang dan mengurusnya. Tapi dia punya pemikiran berbeda. Beberapa kali aku berdiskusi panas tentang segala kegiatan yang diikutinya. Tapi tentu saja, pada akhirnya aku kalah. Aku sering melihat di kakinya muncul biru-biru lebam. Aku pikir dia terjatuh. Tapi ternyata itu akibat kelelahan. Selain tenaga, pikirannya pun selalu terkuras dengan kegiatan di sekolah dan kegiatan di luar. Memikirkan orang lain adalah hobinya. Melestarikan budaya adalah kewajibannya. Dia, anakku yang selalu aku syukuri hadirnya.

“Yaudah yuk sarapan”

Aku ambilkan nasi goreng untuknya serta beberapa buah kerupuk yang aku cari tadi. Suara itu, kunyahan nasi goreng dengan wortel dan sayuran yang tak matang benar, dipadu dengan suara krupuk yang renyah. Harmonisasi yang indah. 

“Mau susu?”

“Boleh bu. Makasi”

Tiga sendok susu bubuk yang tersimpan di dalam toples plastik itu aku tuangkan ke dalam mug yang bergambar sapi merumput. Untuk mengingatkan dia, bahwa susu ini bukanlah susuku, tapi dari sapi yang jelas tergambar di mugnya. Agar dia tau kepada siapa harus berterimakasih untuk segelas susunya di setiap pagi. Pemilik dan pencipta sapi. Aku tuangkan air panas dan aku campurkan seperempat mug dengan air suhu ruang.
Harmonisasi itu semakin syahdu dengan tegukan susu di akhir makannya. Aku terus menemaninya dengan si hitam perawan, kopi hitam panas.

“Bagaimana hariku tidak selalu gembira jika setiap pagi selalu ibu bahagiakan aku seperti ini.” Dia berlari dan memelukku.

Terimakasih sayang.” Aku kecup keningnya.


0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis