"Aku ingin bersedih."
"Kapan?"
"Sekarang juga."
"Mendekatlah. Akan Aku ajari."
"Benarkah?"
"Tentu saja"
Aku mendekat. Tak ada perubahan apapun.
"Aku tak merasakan apapun."
"Benarkah?"
"Iya. apa mungkin aku kurang dekat?"
"Sepertinya begitu."
Aku lebih mendekat lagi.
"Tetap tak ada yang berbeda."
"Gunakan perasaanmu."
"Sudah."
"Kini apa yang kamu rasakan?"
"Sebuah rasa. Tapi aku yakin ini bukan kesedihan."
"Lantas apa?"
"Kehilangan"
Aku peluk pusara yang masih bertanah merah itu dengan bunga yang belum layu dan masih berbau air mawar. Aku terisak di atasnya.Ada kehilangan yang berubah menjadi kekosongan yang semakin meluas dalam setiap detik berikutnya. Aku tak sanggup berdiri untuk kembali menata hidupku. Aku hidup dalam kematian masa depanku. Aku dengar suara itu lagi.
"Bangunlah, dan lihatlah matahari itu."
"Untuk apa?"
"Untuk menghentikan air matamu."
Aku dongakkan kepalaku ke atas. Air mataku perlahan tertahan dan sedikit mengering. Terpapar sinar matahari yang menyengat.
"Aku buta oleh cahanya. Dan aku merasa kekosongan itu semakin nyata"
Mataku terpejam oleh silaunya matahari yang aku tantang secara tiba-tiba.
"Bukalah matamu perlahan. Dan lihatlah"
Aku buka mataku perlahan. Aku temui pusara dengan namamu. Kakek. Tak hanya itu, Ayah, Ibu, Nenek, semua berdiri di depanku. Dengan wajah yang sama. Penuh linangan air mata. Bahkan nenek nampak ditopang oleh ayah.
"Aku tahu maksudmu. Ada mereka sebagai pengisi kekosongan ini."
"Mereka menyayangimu, sama sepertiku. Pergilah bersama mereka."
"Iya."
Aku berdiri, disambut oleh pelukan ibu. Ibu memelukku erat. Semua tahu bahwa aku dan kake begitu dekat. Ini adalah hal terberat yang pernah aku alami. Ditinggalkan oleh orang yang sangat dekat dan sangat aku sayangi. Aku sangat terpukul dan merasa kosong.
Kini, hanya Tuhan yang aku jadikan tempat mengadu dan berbagi. Walau hanya saraf-saraf ini yang menegang pada akhirnya, karena terkadang rasa tak sabar menunggu jawaban dan rasa jengah untuk terus berprasangka baik pada takdir Tuhan. Aku rindu ucapan-ucapanmu, aku rindu kata-kata pengingatmu, aku rindu semua hal tentangmu.
Hilang kemudian menjadi kosong.

0 comments:
Post a Comment