Thursday, March 14, 2013

HALTE (4)

Kamu temukan sosokku dengan sketsa yang sama, di tempat dan jam yang sama. Aku sedang meminum sekotak susu rasa strawbery yang aku beli di kantin tempat lesku. Setelah peristiwa itu, ini adalah kunjunganmu yang pertama. Entah kamu bawa angin apa, atau mungkin hanya sekedar melepas rindu padaku. Ah tapi mungkinkah itu? Jika iya, aku senang sekali mendengarnya. Tapi sudahlah.

" Ternyata benar, mudah sekali menemuimu." Kamu duduk di sampingku. Di kursi panjang di halte ini, dengan jarak yang membuatku nyaman.

" Kapan aku mengingkari ucapanku, dan kamu ternyata paham apa yang aku ucapkan terakhir kali."

" Masih dengan bau yang sama, bau pesing yang terus menguap oleh terpaan angin."

" Ada apa?"

" Harus ada alasan sekarang untuk menemukanmu?"

Aku mulai tidak nyaman dengan gestur tubuhku sendiri. Aku merasa ada yang aneh sejak kedatanganmu. 

" Kenapa diam?"

" Karena aku ingin kamu sendiri yang menjawab pertanyaan itu."

" Begitukah?"

"Iya."

" Aku hanya butuh teman mengobrol."

Hanya itukah? Cepat katakan bahwa kamu merindukanku. Ah bodohnya aku, setelah kejadian itu mustahil masih ada rasa yang sama yang kamu simpan untukku. Iya, wanita memang seperti ini, pandai berakting. Tapi aku benar-benar tak suka dengan cara kamu memegang tanganku seperti itu. Tapi aku menyukaimu. Yasudahlah ...

" Dan kamu datang pada orang yang tepat tentunya." Pandanganku lurus ke depan, dengan sedikit senyum yang aku kembangkan. Aku sangat menyadari bahwa kamu mulai menatap ke arahku. Tolong hentikan. Aku tak sekuat itu. Kamu akan tahu semuanya jika mataku berhasil kamu tatap.

" Bagaimana pendapatmu jika ada orang yang merasa nyaman hidup dalam kesalahan?"

" Kesalahan? "

" Iya, kesalahan. Kesalahan menurut standar yang telah ada."

" Menurutku ya?" mendadak aku buntu akan semua teori dan semua hal yang aku tahu dalam hidup ini. Apa yang sedang terjadi? Ah, aku benci diriku sendiri.

" Iya. Menurutmu,apa?"

" Menurutku tak masalah" Tolong jangan tanyakan kenapa, karena yang aku jawab sekarang pun tak berdasar apapun. Ternyata kamu membaca gelagatku yang tak biasa.

" Waktu selalu merubah seseorang ya?"

" Hah? Masih berkaitan dengan pertanyaan tadi kah?"

" Tidak. Aku sedang membicarakanmu. Padahal baru satu bulan kita tidak bertemu. Tapi aku sudah menemukan sosok yang berbeda dalam dirimu. Atau kamu sedang tidak sehat?" Kamu mengangkat tanganmu dan mencoba menyentuh keningku, tapi urung, mungkin kamu masih mengingat kejadian terakhir di sini. Di tempat ini, ketika pertama kalinya kamu memegang tanganku. 

Aku beranikan untuk menatapmu, sekilas dan cepat. " Temui aku lagi disini, kamu tahu kapan itu. Akan aku jawab pertanyaanmu." Kemudian aku bangkit dan berjalan. Meninggalkanmu sendiri di halte itu. Kamu masih duduk dengan tenangnya. Setelah beberapa langkah aku berjalan, aku coba untuk menengok ke belakang, dan kutemukan sosokmu dengan sketsa yang berbeda, Kamu dan seorang wanita. Kamu, Dia, Halte, dan Senja. Ah, mungkin itu teman perempuanmu yang baru, pikirku. Sudahlah. Sebulan, waktu yang lama untuk dapat mendekati perempuan baru. Perempuan yang lebih berprasaan, bukan perempuan yang keras dan aneh sepertiku. Iya, waktu memang mengubah segalanya, termasuk hati para pengelana ...

0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis