Ternyata, aku bukanlah bagian dari kebiasaanmu. Tapi sayangnya dalam kebiasanku terdapat kamu. Maka apa yang harus aku lakukan? Mungkin, mengasihani diriku sendiri. Dan menertawakan penderitaan ini sendiri. Sudahlah, abaikan ~ harusnya memang begitu. Tapi nyatanya tidak. Maka hanya berharap pada kesemuan yang semakin pekat yang pada akhirnya terjadi.
Gerimis, bantu aku samarkan air mata yang turun ini. Agar hanya kamu yang tahu bahwa kini aku memang bersedih. Sedih pada kenyataan tentang kamu.
.Gerimis, bantu aku samarkan air mata yang turun ini. Agar hanya kamu yang tahu bahwa kini aku memang bersedih. Sedih pada kenyataan tentang kamu.
Bolehkah aku mengasihanimu. Harusnya memang boleh, aku kasihan padamu yang selalu tidak bisa memutuskan dan berbicara sebenarnya. Hanya itu, sekian.

0 comments:
Post a Comment