Tuesday, March 5, 2013

Obrolan Dapur : Hidup

Ibu         :Akan ada amanah yang lebih berat dari ini yang akan kamu pikul.

Kakak    :Jika aku tak sanggup?

Ibu         :Tak ada jika, karena itu bukanlah pilihan. 

Kakak    :Bukankah ada yang tidak menerima amanah itu hingga sekarang?

Ibu         :Itu suratan. Bukan pilihan.

Kakak    :Tapi mereka bilang itu pilihan hidup mereka.

Ibu         :Tuhanlah yang sudah mengatur semuanya.

Kakak    :Lantas mereka lepas dari amanah itu?

Ibu         :Bukan lepas. Tapi tergantikan oleh amanah lain yang sama besarnya.

Kakak    :Apa?

Ibu         :Tidak tahu.

Kakak    :Tapi aku lelah.

Ibu         :Proses yang melelahkan ini akan menjadi kebahagian pada akhirnya.

Kakak    :Semuanya bilang seperti itu. Tapi aku tak percaya.

Ibu         :Yakinilah. Semakin lama besi ditempa, dan semakin kuat tempaannya  akan didapatkan keris yang indah dan mahal harganya.

Kakak    :Aku tahu itu. Tapi tidak untuk hidup kita. Lihat saja orang miskin di luar sana. Begitu keras tempaan mereka. Tapi apa jadinya sampai mereka mati? Mereka tetap menjadi yang terbuang.

Ibu         :Tempaan itu tidak hanya ujian harta. Tempaan terberat adalah ujian keimanan. Rasa yakin pada Tuhan. Rasa patuh dan berpasrah hanya pada-Nya.

Kakak    :Mereka pun ada yang demikian. Tapi apa? Hidupnya lantas tak berubah menjadi senang.

Ibu         :Siapa bilang?

Kakak    :Aku lihat di Tv.

Ibu         :Cobalah tengok mereka lebih dekat, agar nyata segala yang kita ketahui.

Kakak    :Apakah Ibu pernah melihatnya dari dekat? Senyata pertunjukan sirkus?

Ibu         :Tentu. Mereka, yang kamu bilang miskin itu selalu gembira hidupnya. Mereka banyak tertawa. Mereka lebih banyak bercanda. Hanya dengan cara itu mereka bisa melupakan nestapa mereka tentang kesejahteraan yang tak kunjung meningkat. Mereka saling berbagi. Dengan rumah yang berhimpit semacam itu interaksi sosial mereka kuat sekali. Mereka adakan arisan, ajang berkumpul, walau hanya rantang penyok yang mereka perebutkan. Bukan untuk memamerkan kasta perekonomian mereka, itu hanya ajang berkumpul dan bercerita. Terkadang kekaguman ibu muncul ketika mereka saling menertawakan kesengsaran satu sama lainnya. Bukankah itu hebat? Makan dengan garam dan nasi keras sudah menjadi hal lumrah yang cocok untuk menjadi santapan candaan mereka. Tak ada yang marah. Merka hanya tertawa.

Kakak    :Benarkah?

Ibu         :Bahkan di beberapa lingkungan miskin, mereka adakan pengajian. Dengan baju dan penutup kepala seadanya. Bukan karena mereka tidak sopan dan tidak taat agama. Itu Karena mereka benar-benar tidak mampu untuk membeli kerudung yang layak untuk digunakan. Beberapa ibu-ibu bahkan hanya menggunakan selendang kecil dengan kaos berlengan ¾ dan celana tak sampai mata kaki. Itupun hasil pemberian dan membeli di pasar loak. Mereka menyadari akan pentingnya menutupi aurat, maka tak sedikit dalm kehidupan sehari-harinya ibu-ibu itu hanya memakai kerudung dengan kaos pendek dan celana selutut. Rasanya terlihat lucu memang dan  beberapa orang mencela. Tapi itu adalah bagian dari keyakinan hati mereka. Usaha untuk menjalankan perintah yang Tuhan turunkan.

Kakak    :Semiskin itukah mereka?

Ibu         : Harta yang memiskinkan mereka. Tapi iman yang mengkayakan mereka. Ibu pun tak akan berbohong padamu. Bahwa banyak juga di luar sana yang ternyata miskin harta dan juga iman. Dan tak sedikit juga yang kaya harta namun miskin iman, semoga tidak menipa kita.

Kakak    :Tentu ibu.

Ibu         : Bersyukurlah menjadi wanita, yang akan menjadi sandaran untuk suami dan anak-anakmu ketika mereka lelah. Itu adalah sebagian dari ibadahmu.

Kakak    : Jika aku lelah, pada siapa aku bersandar?

Ibu         : Pada Tuhanmu. Tersenyumlah pada mereka, anak dan suamimu, karena itu adalah ibadah.

Kakak    : JIka mereka tak tersenyum padaku?

Ibu         :Hanya memberi, tak harap kembali ...

Kakak    : Bagai sang surya menyinari dunia ...

Kakak bangun dari kursinya dan segera menghampiri Ibu. Kakak peluk Ibu dengan hangat. "I love you mom, so much". Kakak bisikkan kata-kata itu di telinga Ibu. "Jadilah pembuka surga untuk ayahmu". Ibu bisikkan kata-kata itu dengan lembut. Kakak pandangi mata Ibu dan mengangguk pelan. "Untukmu pun Ibu."

0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis