Ibu :Akan ada amanah
yang lebih berat dari ini yang akan kamu pikul.
Kakak :Jika aku tak
sanggup?
Ibu :Tak ada
jika, karena itu bukanlah pilihan.
Kakak :Bukankah ada
yang tidak menerima amanah itu hingga sekarang?
Ibu :Itu
suratan. Bukan pilihan.
Kakak :Tapi mereka
bilang itu pilihan hidup mereka.
Ibu :Tuhanlah
yang sudah mengatur semuanya.
Kakak :Lantas mereka
lepas dari amanah itu?
Ibu :Bukan
lepas. Tapi tergantikan oleh amanah lain yang sama besarnya.
Kakak :Apa?
Ibu :Tidak
tahu.
Kakak :Tapi aku
lelah.
Ibu :Proses
yang melelahkan ini akan menjadi kebahagian pada akhirnya.
Kakak :Semuanya
bilang seperti itu. Tapi aku tak percaya.
Ibu :Yakinilah.
Semakin lama besi ditempa, dan semakin kuat tempaannya akan didapatkan keris yang indah dan mahal
harganya.
Kakak :Aku tahu itu.
Tapi tidak untuk hidup kita. Lihat saja orang miskin di luar sana. Begitu keras
tempaan mereka. Tapi apa jadinya sampai mereka mati? Mereka tetap menjadi yang
terbuang.
Ibu :Tempaan
itu tidak hanya ujian harta. Tempaan terberat adalah ujian keimanan. Rasa yakin
pada Tuhan. Rasa patuh dan berpasrah hanya pada-Nya.
Kakak :Mereka pun
ada yang demikian. Tapi apa? Hidupnya lantas tak berubah menjadi senang.
Ibu :Siapa
bilang?
Kakak :Aku lihat di
Tv.
Ibu :Cobalah
tengok mereka lebih dekat, agar nyata segala yang kita ketahui.
Kakak :Apakah Ibu
pernah melihatnya dari dekat? Senyata pertunjukan sirkus?
Ibu :Tentu.
Mereka, yang kamu bilang miskin itu selalu gembira hidupnya. Mereka banyak
tertawa. Mereka lebih banyak bercanda. Hanya dengan cara itu mereka bisa
melupakan nestapa mereka tentang kesejahteraan yang tak kunjung meningkat.
Mereka saling berbagi. Dengan rumah yang berhimpit semacam itu interaksi sosial
mereka kuat sekali. Mereka adakan arisan, ajang berkumpul, walau hanya rantang
penyok yang mereka perebutkan. Bukan untuk memamerkan kasta perekonomian
mereka, itu hanya ajang berkumpul dan bercerita. Terkadang kekaguman ibu muncul
ketika mereka saling menertawakan kesengsaran satu sama lainnya. Bukankah itu hebat? Makan dengan
garam dan nasi keras sudah menjadi hal lumrah yang cocok untuk menjadi santapan candaan mereka. Tak ada yang marah. Merka hanya tertawa.
Kakak :Benarkah?
Ibu :Bahkan di
beberapa lingkungan miskin, mereka adakan pengajian. Dengan baju dan penutup
kepala seadanya. Bukan karena mereka tidak sopan dan tidak taat agama. Itu Karena
mereka benar-benar tidak mampu untuk membeli kerudung yang layak untuk digunakan.
Beberapa ibu-ibu bahkan hanya menggunakan selendang kecil dengan kaos berlengan ¾
dan celana tak sampai mata kaki. Itupun hasil pemberian dan membeli di pasar
loak. Mereka menyadari akan pentingnya menutupi aurat, maka tak sedikit dalm kehidupan sehari-harinya ibu-ibu
itu hanya memakai kerudung dengan kaos pendek dan celana selutut. Rasanya terlihat
lucu memang dan beberapa orang mencela.
Tapi itu adalah bagian dari keyakinan hati mereka. Usaha untuk menjalankan
perintah yang Tuhan turunkan.
Kakak :Semiskin
itukah mereka?
Ibu : Harta
yang memiskinkan mereka. Tapi iman yang mengkayakan mereka. Ibu pun tak akan
berbohong padamu. Bahwa banyak juga di luar sana yang ternyata miskin harta dan
juga iman. Dan tak sedikit juga yang kaya harta namun miskin iman, semoga tidak menipa kita.
Kakak :Tentu ibu.
Ibu :
Bersyukurlah menjadi wanita, yang akan menjadi sandaran untuk suami dan
anak-anakmu ketika mereka lelah. Itu adalah sebagian dari ibadahmu.
Kakak : Jika aku
lelah, pada siapa aku bersandar?
Ibu : Pada
Tuhanmu. Tersenyumlah pada mereka, anak dan suamimu, karena itu adalah ibadah.
Kakak : JIka mereka
tak tersenyum padaku?
Ibu :Hanya memberi,
tak harap kembali ...
Kakak : Bagai sang
surya menyinari dunia ...
Kakak bangun dari kursinya dan segera menghampiri Ibu. Kakak
peluk Ibu dengan hangat. "I love you mom, so much". Kakak bisikkan kata-kata itu di telinga Ibu. "Jadilah pembuka surga untuk ayahmu". Ibu bisikkan kata-kata itu dengan lembut. Kakak pandangi mata Ibu dan mengangguk pelan. "Untukmu pun Ibu."

0 comments:
Post a Comment