Sudah habis fase itu, fase dimana waktu yang ada aku habiskan dengan orang-orang yang membenciku. Aku terlalu perduli pada mereka yang membenciku, pada masa itu. Harusnya tidak perlu, tapi biarlah. Mungkin esok, Tuhan sudah mengambilku, karena memang pada fase waktu ini hal itu terjadi. Biasanya. Maka biarlah kini, Aku memasuki fase waktu yang hanya akan aku habiskan hanya dengan orang-orang yang menyayangiku. Kontrasnya pembagian fase waktu yang aku ciptakan, biarlah begitu.
"Neneeeekkkk" Ghaida berlari ke arahku, merangkak naik meminta untuk dipangku. Aku julurkan kedua tanganku dan sedikit membungkuk untuk menggendongnya dan meletakkannya di pangkuanku. "Nek, Ghaida punya temen baru lo. Namanya keke. Keke cantik sama seperti Ghaida, Tapi rambut Keke gak dikepang seperti Ghaida. Keke juga punya kakek dan nenek. Tadi yang menjemput Keke di sekolah kakek dan neneknya." Ah, cucuku ini cerewet sekali, persis seperti aku dan ibunya. "Wah, kalo begitu besok Keke diajak ke rumah sayang. Nanti nenek kepangin rambut Keke dan nenek buatkan kue gandum kesukaan Ghaida." Ghaida memainkan kepangan rambutnya sambil memasang muka sedih. "Kalo Keke dikepang, nanti lebih cantik Keke dong nek." Aku elus-elus kepala Ghaida."Setiap perempuan pasti cantik sayang. Ciptaan Tuhan selalu indah. Terlebih ketika tersenyum dan riang gembira. Jelek itu kalo manyuuunnn ..." Aku cubit lembut pipi Ghaida. Ghaida tertawa lepas. Aku menyukai sketsa ini. Tuhan, Maha Besar Engkau. "Bau apa ya ini, kok aaseemmm ..." Aku mainkan ekspresi mukaku menyerupai anjing yang mendengus-dengus."Hihiiii .. pasti bau Ghaida nek, Ghaida kan baru pulang sekolah." Aku dengus-denguskan ke arah ketiak Ghaida, "Iya, baunya dari sini". Ghaida langsung lompat turun dan berlari ke arah kamarnya. Aku kembali melanjutkan aktivitasku. Menulis.
Aku tak pernah menyesal dengan kontrasnya fase waktu yang aku ciptakan itu. Segalanya memang harus berjalan seperti itu. Tak ada waktu yang aku sesali, hingga kini. Entah esok. Semoga tetap tidak.Kuatnya aku menjalani fase waktu sebelum ini adalah Tuhan penyebabnya. Dan Kamu, suamiku.
Enam tahun yang lalu, sebulan setelah pernikahan anak perempuanku satu-satunya, suamiku meninggal. Tak ada kesedihan yang dia tinggalkan, hanya senyum bahagia yang selalu dia ciptakan selama kami menjalani kehidupan suami-istri. Ketika dia berpulang, kembali pada sisi Tuhannya, Aku merasa sebagian jiwaku hilang. Tak tahu harus bagaimana aku menjalani hidupku selanjutnya. Aku tidak sedih. Surgalah tempatmu, suamiku. Setelah kepergiannya, aku hidup dengan anak dan menantuku, dan kini cucuku.
"Nek, Ghaida udah mandi." Ghaida memakai baju potongan selutut berwarna ungu. Dia manis sekali dengan rambut basahnya. "Hmm, wangi sekali." Ghaida tersenyum centil."Nenek masih menulis?" Ghaida memanjat kakiku dan segera duduk di pangkuanku. Dia langsung melihat layar komputerku. "Ghaida udah bisa nulis juga lo nek, ni coba liat ya. " Ghaida mengetik tombol-tombol itu perlahan. Mencari huruf-huruf yang dimaksud. "Ghaida sayang Nenek". Ghaida menengok ke arahku, dan tersenyum memamerkan giginya yang penuh lubang. Aku kecup keningnya. "Nek, keluar yuk. Kita siram bunga sambil nunggu Ayah dan Ibu.""Yuk" Aku angkat ghaida dan menurunkannya ke lantai. Kami berdua keluar rumah untuk menyiram bunga. Sejam berlalu, anak dan menantuku datang. Aku tak pandai memasak, Aku hanya pandai membuat kue. Jika tak sempat dan merasa lelah, anakku selalu membeli makanan di luar."Ibuuuu" Ghaida berlari ke arah ibunya. Ibunya langsung menangkap dan mencium kening Ghaida. Kini, Ghaida digendong ayahnya masuk ke dalam rumah. Setelah makan malam, aku menemani Ghaida mengerjakan tugas sekolahnya. "Nek, Ghaida gak suka pelajaran matematika.""Kenapa sayang?""Ghaida pusing nek." Ghaida memegangi kepalanya."Ghaida pengen jadi penulis aja."
***
"Neneeekkkk .. nek" Ghaida berlari memasuki kamarku. "Itu ada Keke sama Kakek Neneknya, Nenek udah buat kue gandumnya kan?" Aku merapihkan letak kacamataku. Aku keluar dari kamarku menuju ruang tamu. Hening. Hanya sapaan ramah yang sayup-sayup aku dengar dari Nenek Keke. "Nek..nek" Ghaida menggoyang-goyangkan kakiku. "Ah, maaf. Saya neneknya ghaida." Aku julurkan tanganku ke arah Nenek Keke dan ... Kakek Keke. "Ghaida selalu membicarakan neneknya yang selalu mengepangkan rambutnya ke sekolah." Nenek Keke berbicara banyak. Aku hanya banyak tersenyum dan mengangguk. Pandanganku tetap tak terarah pada Nenek Keke. Selalu Aku curi-curi untuk melirik hal yang lebih membuatku tertarik, Kamu, Kakek Keke. Mereka pulang. Dan kami berencana ke taman kota esok pagi.
***
Pagi ini, Aku dan Ghaida pergi ke taman kota. Ayah dan Ibu Ghaida sedang keluar kota. Keke dan kakek neneknya sudah sampai di taman kota. Ghaida, Keke dan Nenek Keke bermain tali dan balon. Aku duduk pada kursi panjang di bawah pohon. Begitupun dengan Kamu, kakek keke. "Lama gak ketemu ya, kamu tidak berubah." Kamu memulai pembicaraan pagi ini. "Iya." Tetap kulayangkan pandanganku ke depan. "Jarak memang selalu hadir pada apapun. Dan aku tak memahami itu dulu, tapi tidak untuk kamu. Kamu paham betul jarak itu akan ada. Maka kamu memintaku untuk berjanji, tapi tidak untuk aku. Aku melepaskanmu denga jarak tanpa janji. Maka ketika jarak itu menghilangkanmu dari jangkauanku maka kamu tidak bersalah." Aku terus menatap lurus ke depan.""Maafkan aku, disuatu waktu dahulu ada hal yang benar-benar begitu membingungkan. Aku terjebak dalam kondisi keraguan hati yang pelik." Aku coba tersenyum, "Sudah aku katakan, kamu tidak bersalah. Istrimu beruntung." "Begitupun suamimu." "Ya, berulangkali aku ingatkan pada diriku bahwa aku bukanlah masalalu dan masadepanmu. Tapi tetap saja perasaan ini tak pernah bisa berbohong." "Hanya jika tak sekeras itu kamu, mungkin ... " Aku potong pembicaraannya, "Tak akan ada Keke dan Ghaida .. lihatlah sketsa indah anak-anak itu. Tak ada yang perlu disesali. Karena beginilah jalannya"

0 comments:
Post a Comment