Thursday, March 28, 2013

LEMON

"Rasanya seperti ada sebuah kertas yang tertelan dan membuat suara menjadi sulit keluar. Hanya telinga yang rasanya berubah menjadi belalai, agar lebih banyak kudengar suaranya dan kusimpan untuk waktu yang lama."

"Bagus. Lanjutkan saja seperti itu. Mungkin penghargaan setara piala oscar bisa kamu dapatkan untuk peran seperti itu."

"Peran? ini bukan peran. Ini hanya sebuah hasil dari reaksi tubuh yang tidak pernah aku mengerti."

"Karena selalu kamu tutup hati kamu dengan tirai yang tebal."

"Iya, aku selalu salah. Selalu .. aku yang terlalu egois untuk mencintainya dalam diam. Rasa bahagia ini aku simpan dalam topeng kepura-puraan menjadi biasa. Aku terlalu menikmati sendiri. Dan aku tutup rapat semuanya. Aku yang terlalu pengecut untuk bisa berperan sebagai tokoh utama dalam hidupnya."

“aku hanya takut bahwa rasa ini memang layak untuk kumiliki sendiri, tidak untuk dia. Itu yang akan kamu ucapkan pada akhirnya”

Kamu tinggalkan aku sendiri. Aku habiskan cassava chips ini sendiri, dan kutenggak habis segelas penuh perasan lemon sebagai teman sarapan pagi ini.

Sunday, March 17, 2013

Corat-Coret | Kematian

Gue pernah tiga kali hampir mati. Atau mungkin itu rasanya orang hampir mati. Dari hal tersebut, muncullah pertanyaan yang menggelayuti pikiran gue, "Apa gue musti nyia-nyiain hidup gue gitu aja, dengan galau karena udah puluhan tahun gue JOMBLO?"  sedangkan peringatan datangnya kematian sedeket itu. Hahaha, TIDAK ! Hidup hanya untuk bersenang-senang brouww , hahaha.

Inilah hal-hal yang pernah gue rasain, dan menurut gue  rasanya kaya hampir mati.

Pertama, ini gue denger cerita dari nenek gue dan tante om gue. Waktu umur 7 bulan gue masuk rumah sakit gara-gara keracunan. Gue masih gak kerasa dan serius gak inget apa-apa. Tapi dari cerita yang gue dengar: Ini semua salah nyokap gue! Hahaha. Umuran segitu gue kan masih ASI ekslusif, nah nyokap gue malah pesta makan rajungan *sejenis kepiting laut*. Setelah gue netek ke nyokap, tak berapa lama gue kejang dan … masuk rumah sakit. Hahaha. Dari hasil mendengar cerita itu gue gak berani makan dan gak pernah dikasi makan rajungan.  Etapi pernah nyobain sedikit waktu temen gue bawa ke kosan, tapi sediki pake banget. Dan itu pertama kalinya gue makan rajungan.

Kedua. Gue pernah kebakaran. Ceritanya gue, nyokap dan bokap *masih belum ada adek gue* masih seatap sama nenek. Di suatu malam, rumah nenek gue kebakaran, gue sama nyokap gue ada di dalem rumah, gue lupa dimana keberadaan nenek dan bokap gue saat kejadian itu. Alhasil cuma gue sama nyokap gue yang jadi korban dalam peristiwa itu.  Alhamdulillah :’) . Kejadiannya kira-kira  disaat gue belum TK atau pas lagi TK, gue lupa. Yang gue inget,  disaat nyokap nolongin gue, gue ngeliat ada api gede di kaki nyokap, itu karena nyokap gue pake celana kain panjang dan pake baju gamis. Jadi apinya lebih cepet ngerambat dan lebih gede. SEtelahgue liat api di kaki nyokap, ternyata begitupun di kaki gue. Padahal waktu kejadian gue pake celana pendek buat tidur. Kalo gak salah inget si gitu. Gue bener-bener gak inget apapun setelah ngeliat ada api di kaki gue dan ada rasa panas yang eumm .. sumpah gak bisa gue jelasin. Ingetan gue mulai ngerekam lagi disaat gue lagi digendong sama bokap gue, dan dikasihin ke pakde buat matiin api yang ada di kaki gue itu. Terus bokap gue masuk lagi ke rumah nylametin nyokap gue *duh kaya sinetron, tapi ini bener kejadian* Terus nyokap dibawa ke rumah sakit dan gue Cuma ditidurin di atas daun pisang dirumah pakde gue. Beberapa hari gue gak ketemu nyokap, yang ngurusin gue dan segala macemnya malah pakde. *ah sial, jadi pengen nangis, pakde, miss you :’) * Luka bakar gue gak separah nyokap, Entah dengan alasan apa, gue gak dibawa ke rumah sakit, cuma dokternya aja yang terus ngunjungin gue di rumah pakde. Lumayan lama gue cuma bisa berbaring dan gak main. Tapi, sampe sekarang gue gak takut sama api, walaupun ada kejadian buruk yang pernah gue dan orang yang amat sangat gue sayang, nyokap alamin sama api.

Ketiga. Cacar, ini yang paling kerasa dan gue inget betul gimana rasanya seluruh badan pegel dan dingin, tapi nafas naik turun panas, kepala pusing, seluruh badan udah dingin. Ada rasa yang gak bernama, yang semua jenis sakit rasanya numplek semua. Tapi ternyata bukan cacar bandel. Justru pemulihan dari rasa lemes dan “suatu rasa yang gak bernama” itu yang lumayan lama. Kalo cacarnya Cuma 2 hari terus ilang.

Ya, kalo gue pikir sih itu peringatan yang mesti banget gue sadarin bahwa kematian itu deket sama kita. Tapi itu bukan jadi alasan buat kita jadi pesimis gegara ngerasa udah gak ada masa depan. Kematian, ibarat cambuk yang ngingetin kita buat selalu lebih baik buat ibadah *tsaahh, udah kaya aa gym gue, ehh tapi gue kan cewek, kalo gitu udah kaya mamah dede hahaha*. Intinya, bersiaplah untuk mati ! haahahaha , ups, *mendadak serius*

Ditulis dibawah tekanan seminar besok, gak tau kenapa gue takut banget. Padahal banyak hal yang lebih nakutin yang pernah gue rasain (terlampir di atas). Gue takut BESOK ! Dan sekarang, bukannya gue baca-baca proposal, gue malah mainan blog gue dan mengisinya dengan cerita yang asli gak guna HAHAHA. hfft. kalo aja pakde masih ada .. kalo aja kakak gue yang nemu di jalan itu bisa gue ganggu di jam terbangnya .. kalo aja kalo aja ... huaaaaa :'( kalo aja Ayah dan Ibu gue ngeganti kata-kata balesan SMS tiap gue minta doa, hahahaha. (sampe hafal, tiap minta didoain, balesannya selalu sama, beda kalo balenya gak lewat SMS, tapi langsung telfon, ngahahaa). Haishhhh ...KALO AJA GUE SESEMANGAT BIASANYA! FANNI ! SEMANGAT (^^)9 *tenggak susu kedelai*
 

Saturday, March 16, 2013

Friday, March 15, 2013

HALTE (5)

Aku temukan sosokmu sedang duduk santai di singgasana senjaku. Aku terpaku, tepat setelah melihatmu. Mungkin kedatanganku merubah atmofser di sekitarmu, Kamu menengok ke arahku secara tiba-tiba. Aku pun tak dapat bersembunyi atau berbalik arah meninggalkanmu. Kamu benar-benar tak tahu diri, senyummu terkembang begitu manisnya dan Aku menyukai itu. Aku tetap diam dalam posisiku, berdiri memandangimu dan mensyukuri sketsa indah yang Tuhan ciptakan, senyummu.

" Aku tak datang untuk menagih jawaban yang minggu lalu aku tanyakan padamu." Jarak kami hanya sepuluh langkah, dan kata-katamu sangat jelas aku dengar. Terlalu jelas bahkan. Aku masih terdiam di tempatku. " Apakah aku lancang menempati singgasanamu?"

Aku tersadar dan melagkahkan kaki ke kursi di halte. Aku duduk di sebelahmu dengan jarak yang nyaman. " Tidak. Aku hanya kaget melihatmu disini. Sudah mulai menyukai bau pesing yang terus menguap ini?" 

"Tidak. Ada hal lain yang membuatku mulai menyukai tempat ini."

Rasa itu hadir lagi. Aku mulai merasa gestur tubuhku tidak nyaman pada  posisi apapun. Hal lain? Akukah itu? Cepat katakan! Katakan bahwa akulah hal lain yang menjadi penyebab kamu mulai menyukai tempat ini.

"Apa?" Tanyaku.

" Sesuatu hal yang tidak aku pahami."

" Kenapa bisa seperti itu?"

" Tentu bisa. Ternyata banyak hal yang tidak aku pahami dalam hidup ini."

" Lantas, kamu terus bertahan pada ketidakpahaman itu?"

" Tidak. Aku mencari tahu."

" Apa saja yang sudah kamu temukan?"

" Banyak. "

" Salah satunya?"

" Aku menemukanmu dalam ketidakpahamanku."

Tenggorokanku tercekat oleh sesuatu yang tidak aku telan.

" Kenapa aku?"

" Sudahlah ... "

Seorang perempuan cantik menghampiri kami. Sepertinya dia berumur sama denganku, hanya saja dia pandai bersolek. Cara berpakaiannya pun mengikuti mode kekinian. Sehingga aura kekanak-kanakannya tertutup sempurna oleh dempul padat dan kain yang membelit tubuhnya. Berbeda sekali denganku, tanpa polesan apapun dan  dengan baju terusan 3/4 ditambah leging dan kaos kaki senada dengan celana leging serta flat shoes dan ransel dengan gantungan boneka pisang yang cukup mencolok. Aku lebih terlihat seperti anak SMP yang baru pulang sekolah dan menunggu jemputan orangtuanya.

" Lama ya? sudah aku katakan, tunggulah di tempat tuggu. Jangan di tempat seperti ini. "

" Iya. Tapi beruntungnya aku bertemu dengan temanku ini lagi. Jadi aku tak merasa lama menunggumu."

Teman? Tak salahkah aku mendengar? Iya teman. Maksudku baiklah teman. Tidak, Iya kita hanya teman. Tapi ada rasa kecewa dan perih yang begitu lara.

" Kenalkan, ini teman kuliahku." Kami berjabat tangan. Tatapannya mulai menelanjangiku. Aku tak berni menatapnya kembali. Aku hanya tertunduk malu setelah melepaskan jabatan tangannya.

"Ayo sayang kita pulang ... " Rengek perempuanmu itu sambil menarik tanganmu. Kamu berdiri dan melihat ke arahku.


Sayang? Drama apalagi yang sekarang ada di depanku. Kamu terus melihat ke arahku, dan aku acuhkan. Kamupun beranjak pergi. Teman? Iya, kita hanya teman. Baiklah, dua tahun terakhir itu, janji-janjimu itu, mungkin anggaplah itu sebagai asap rokok, yang hilang bentuknya perlahan namun berbekas pada badan ini. Biarlah ... biarlah.

"Teman kamu kurang ramah sepertinya." Bisik perempuanmu sambil terus pergi meninggalkanku.

Aku duduk dengan tatapan kosong lurus ke depan. Harusnya aku membencimu, karena telah membuatku terperosok pada jurang kesedihan. Tapi mencintaimu adalah mata air dalam jurang kesedihan itu. Sumber hidupku. Yang membuatku masih bertahan hingga kini. Mencintaimu dalam diam, mungkin itu adalah pilihan terakhirku. Ini tentu bukan keputusan yang akan aku jalani dalam waktu yang tak lama. Percayalah, wanita selalu bertahan pada penantian. Penantian yang terkadang membuatnya sakit pada akhirnya. Aku dapati senja ini nampak sangat indah, dengan warna biru dan pink di tengah hamparan orange yang agung.

Thursday, March 14, 2013

HALTE (4)

Kamu temukan sosokku dengan sketsa yang sama, di tempat dan jam yang sama. Aku sedang meminum sekotak susu rasa strawbery yang aku beli di kantin tempat lesku. Setelah peristiwa itu, ini adalah kunjunganmu yang pertama. Entah kamu bawa angin apa, atau mungkin hanya sekedar melepas rindu padaku. Ah tapi mungkinkah itu? Jika iya, aku senang sekali mendengarnya. Tapi sudahlah.

" Ternyata benar, mudah sekali menemuimu." Kamu duduk di sampingku. Di kursi panjang di halte ini, dengan jarak yang membuatku nyaman.

" Kapan aku mengingkari ucapanku, dan kamu ternyata paham apa yang aku ucapkan terakhir kali."

" Masih dengan bau yang sama, bau pesing yang terus menguap oleh terpaan angin."

" Ada apa?"

" Harus ada alasan sekarang untuk menemukanmu?"

Aku mulai tidak nyaman dengan gestur tubuhku sendiri. Aku merasa ada yang aneh sejak kedatanganmu. 

" Kenapa diam?"

" Karena aku ingin kamu sendiri yang menjawab pertanyaan itu."

" Begitukah?"

"Iya."

" Aku hanya butuh teman mengobrol."

Hanya itukah? Cepat katakan bahwa kamu merindukanku. Ah bodohnya aku, setelah kejadian itu mustahil masih ada rasa yang sama yang kamu simpan untukku. Iya, wanita memang seperti ini, pandai berakting. Tapi aku benar-benar tak suka dengan cara kamu memegang tanganku seperti itu. Tapi aku menyukaimu. Yasudahlah ...

" Dan kamu datang pada orang yang tepat tentunya." Pandanganku lurus ke depan, dengan sedikit senyum yang aku kembangkan. Aku sangat menyadari bahwa kamu mulai menatap ke arahku. Tolong hentikan. Aku tak sekuat itu. Kamu akan tahu semuanya jika mataku berhasil kamu tatap.

" Bagaimana pendapatmu jika ada orang yang merasa nyaman hidup dalam kesalahan?"

" Kesalahan? "

" Iya, kesalahan. Kesalahan menurut standar yang telah ada."

" Menurutku ya?" mendadak aku buntu akan semua teori dan semua hal yang aku tahu dalam hidup ini. Apa yang sedang terjadi? Ah, aku benci diriku sendiri.

" Iya. Menurutmu,apa?"

" Menurutku tak masalah" Tolong jangan tanyakan kenapa, karena yang aku jawab sekarang pun tak berdasar apapun. Ternyata kamu membaca gelagatku yang tak biasa.

" Waktu selalu merubah seseorang ya?"

" Hah? Masih berkaitan dengan pertanyaan tadi kah?"

" Tidak. Aku sedang membicarakanmu. Padahal baru satu bulan kita tidak bertemu. Tapi aku sudah menemukan sosok yang berbeda dalam dirimu. Atau kamu sedang tidak sehat?" Kamu mengangkat tanganmu dan mencoba menyentuh keningku, tapi urung, mungkin kamu masih mengingat kejadian terakhir di sini. Di tempat ini, ketika pertama kalinya kamu memegang tanganku. 

Aku beranikan untuk menatapmu, sekilas dan cepat. " Temui aku lagi disini, kamu tahu kapan itu. Akan aku jawab pertanyaanmu." Kemudian aku bangkit dan berjalan. Meninggalkanmu sendiri di halte itu. Kamu masih duduk dengan tenangnya. Setelah beberapa langkah aku berjalan, aku coba untuk menengok ke belakang, dan kutemukan sosokmu dengan sketsa yang berbeda, Kamu dan seorang wanita. Kamu, Dia, Halte, dan Senja. Ah, mungkin itu teman perempuanmu yang baru, pikirku. Sudahlah. Sebulan, waktu yang lama untuk dapat mendekati perempuan baru. Perempuan yang lebih berprasaan, bukan perempuan yang keras dan aneh sepertiku. Iya, waktu memang mengubah segalanya, termasuk hati para pengelana ...

Wednesday, March 13, 2013

Hilang dan Kosong

"Aku ingin bersedih."

"Kapan?"

"Sekarang juga."

"Mendekatlah. Akan Aku ajari."

"Benarkah?"

"Tentu saja"

Aku mendekat. Tak ada perubahan apapun.

"Aku tak merasakan apapun."

"Benarkah?"

"Iya. apa mungkin aku kurang dekat?"

"Sepertinya begitu."

Aku lebih mendekat lagi.

"Tetap tak ada yang berbeda."

"Gunakan perasaanmu."

"Sudah."

"Kini apa yang kamu rasakan?"

"Sebuah rasa. Tapi aku yakin ini bukan kesedihan."

"Lantas apa?"

"Kehilangan"

Aku peluk pusara yang masih bertanah merah itu dengan bunga yang belum layu dan masih berbau air mawar. Aku terisak di atasnya.Ada kehilangan yang berubah menjadi kekosongan yang semakin meluas dalam setiap detik berikutnya. Aku tak sanggup berdiri untuk kembali menata hidupku. Aku hidup dalam kematian masa depanku. Aku dengar suara itu lagi.

"Bangunlah, dan lihatlah matahari itu."

"Untuk apa?"

"Untuk menghentikan air matamu." 

Aku dongakkan kepalaku ke atas. Air mataku perlahan tertahan dan sedikit mengering. Terpapar sinar matahari yang menyengat.

"Aku buta oleh cahanya. Dan aku merasa kekosongan itu semakin nyata"

Mataku terpejam oleh silaunya matahari yang aku tantang secara tiba-tiba.

"Bukalah matamu perlahan. Dan lihatlah"

Aku buka mataku perlahan. Aku temui pusara dengan namamu. Kakek. Tak hanya itu, Ayah, Ibu, Nenek, semua berdiri di depanku. Dengan wajah yang sama. Penuh linangan air mata. Bahkan nenek nampak ditopang oleh ayah. 

"Aku tahu maksudmu. Ada mereka sebagai pengisi kekosongan ini."

"Mereka menyayangimu, sama sepertiku. Pergilah bersama mereka."

"Iya."

 Aku berdiri, disambut oleh pelukan ibu. Ibu memelukku erat. Semua tahu bahwa aku dan kake begitu dekat.  Ini adalah hal terberat yang pernah aku alami. Ditinggalkan oleh orang yang sangat dekat dan sangat aku sayangi. Aku sangat terpukul dan merasa kosong. 

Kini, hanya Tuhan yang aku jadikan tempat mengadu dan berbagi. Walau hanya saraf-saraf ini yang menegang pada akhirnya, karena terkadang rasa tak sabar menunggu jawaban dan rasa jengah untuk terus berprasangka baik pada takdir Tuhan. Aku rindu ucapan-ucapanmu, aku rindu kata-kata pengingatmu, aku rindu semua hal tentangmu. 

Hilang kemudian menjadi kosong.

Tuesday, March 12, 2013

KADOKU


Aku, terbuat dari miliaran sekon dan jutaan lembar takdir. Dalam miliaran sekon itu semuanya terisi bahagia. Dan dalam jutaan lembar takdir itu terisi syukur . Rahimmu yang menjadi pintu waktu mulai berjalan. Pintu surga, Ibu.
 Aku yang hingga kini masih memberatkan bahumu. Tapi bahumu begitu kuat menahan semua salah yang aku ciptakan. Bahumu adalah pintu hidupku. Pintu surga, Ayah.

Happy wedding anniversary, Ayah Ibu.

Semoga, merupakan jodoh dunia dan akhirat. Dan aku, sebagai salah satu penyebab kalian menempatinya, 
Surga Tuhan yang Indah.
Terimakasih atas contoh dan panutan. Semoga kelak aku pun dapat merasakan kehidupan indah seperti kalian.




© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis