Aku temukan sosokmu sedang duduk santai di singgasana senjaku. Aku terpaku, tepat setelah melihatmu. Mungkin kedatanganku merubah atmofser di sekitarmu, Kamu menengok ke arahku secara tiba-tiba. Aku pun tak dapat bersembunyi atau berbalik arah meninggalkanmu. Kamu benar-benar tak tahu diri, senyummu terkembang begitu manisnya dan Aku menyukai itu. Aku tetap diam dalam posisiku, berdiri memandangimu dan mensyukuri sketsa indah yang Tuhan ciptakan, senyummu.
" Aku tak datang untuk menagih jawaban yang minggu lalu aku tanyakan padamu." Jarak kami hanya sepuluh langkah, dan kata-katamu sangat jelas aku dengar. Terlalu jelas bahkan. Aku masih terdiam di tempatku. " Apakah aku lancang menempati singgasanamu?"
Aku tersadar dan melagkahkan kaki ke kursi di halte. Aku duduk di sebelahmu dengan jarak yang nyaman. " Tidak. Aku hanya kaget melihatmu disini. Sudah mulai menyukai bau pesing yang terus menguap ini?"
"Tidak. Ada hal lain yang membuatku mulai menyukai tempat ini."
Rasa itu hadir lagi. Aku mulai merasa gestur tubuhku tidak nyaman pada posisi apapun. Hal lain? Akukah itu? Cepat katakan! Katakan bahwa akulah hal lain yang menjadi penyebab kamu mulai menyukai tempat ini.
"Apa?" Tanyaku.
" Sesuatu hal yang tidak aku pahami."
" Kenapa bisa seperti itu?"
" Tentu bisa. Ternyata banyak hal yang tidak aku pahami dalam hidup ini."
" Lantas, kamu terus bertahan pada ketidakpahaman itu?"
" Tidak. Aku mencari tahu."
" Apa saja yang sudah kamu temukan?"
" Banyak. "
" Salah satunya?"
" Aku menemukanmu dalam ketidakpahamanku."
Tenggorokanku tercekat oleh sesuatu yang tidak aku telan.
" Kenapa aku?"
" Sudahlah ... "
Seorang perempuan cantik menghampiri kami. Sepertinya dia berumur sama denganku, hanya saja dia pandai bersolek. Cara berpakaiannya pun mengikuti mode kekinian. Sehingga aura kekanak-kanakannya tertutup sempurna oleh dempul padat dan kain yang membelit tubuhnya. Berbeda sekali denganku, tanpa polesan apapun dan dengan baju terusan 3/4 ditambah leging dan kaos kaki senada dengan celana leging serta flat shoes dan ransel dengan gantungan boneka pisang yang cukup mencolok. Aku lebih terlihat seperti anak SMP yang baru pulang sekolah dan menunggu jemputan orangtuanya.
" Lama ya? sudah aku katakan, tunggulah di tempat tuggu. Jangan di tempat seperti ini. "
" Iya. Tapi beruntungnya aku bertemu dengan temanku ini lagi. Jadi aku tak merasa lama menunggumu."
Teman? Tak salahkah aku mendengar? Iya teman. Maksudku baiklah teman. Tidak, Iya kita hanya teman. Tapi ada rasa kecewa dan perih yang begitu lara.
" Kenalkan, ini teman kuliahku." Kami berjabat tangan. Tatapannya mulai menelanjangiku. Aku tak berni menatapnya kembali. Aku hanya tertunduk malu setelah melepaskan jabatan tangannya.
"Ayo sayang kita pulang ... " Rengek perempuanmu itu sambil menarik tanganmu. Kamu berdiri dan melihat ke arahku.
Sayang? Drama apalagi yang sekarang ada di depanku. Kamu terus melihat ke arahku, dan aku acuhkan. Kamupun beranjak pergi. Teman? Iya, kita hanya teman. Baiklah, dua tahun terakhir itu, janji-janjimu itu, mungkin anggaplah itu sebagai asap rokok, yang hilang bentuknya perlahan namun berbekas pada badan ini. Biarlah ... biarlah.
"Teman kamu kurang ramah sepertinya." Bisik perempuanmu sambil terus pergi meninggalkanku.
Aku duduk dengan tatapan kosong lurus ke depan. Harusnya aku membencimu, karena telah membuatku terperosok pada jurang kesedihan. Tapi mencintaimu adalah mata air dalam jurang kesedihan itu. Sumber hidupku. Yang membuatku masih bertahan hingga kini. Mencintaimu dalam diam, mungkin itu adalah pilihan terakhirku. Ini tentu bukan keputusan yang akan aku jalani dalam waktu yang tak lama. Percayalah, wanita selalu bertahan pada penantian. Penantian yang terkadang membuatnya sakit pada akhirnya. Aku dapati senja ini nampak sangat indah, dengan warna biru dan pink di tengah hamparan orange yang agung.