Tuesday, March 12, 2013

KADOKU


Aku, terbuat dari miliaran sekon dan jutaan lembar takdir. Dalam miliaran sekon itu semuanya terisi bahagia. Dan dalam jutaan lembar takdir itu terisi syukur . Rahimmu yang menjadi pintu waktu mulai berjalan. Pintu surga, Ibu.
 Aku yang hingga kini masih memberatkan bahumu. Tapi bahumu begitu kuat menahan semua salah yang aku ciptakan. Bahumu adalah pintu hidupku. Pintu surga, Ayah.

Happy wedding anniversary, Ayah Ibu.

Semoga, merupakan jodoh dunia dan akhirat. Dan aku, sebagai salah satu penyebab kalian menempatinya, 
Surga Tuhan yang Indah.
Terimakasih atas contoh dan panutan. Semoga kelak aku pun dapat merasakan kehidupan indah seperti kalian.




Tuesday, March 5, 2013

Obrolan Dapur : Hidup

Ibu         :Akan ada amanah yang lebih berat dari ini yang akan kamu pikul.

Kakak    :Jika aku tak sanggup?

Ibu         :Tak ada jika, karena itu bukanlah pilihan. 

Kakak    :Bukankah ada yang tidak menerima amanah itu hingga sekarang?

Ibu         :Itu suratan. Bukan pilihan.

Kakak    :Tapi mereka bilang itu pilihan hidup mereka.

Ibu         :Tuhanlah yang sudah mengatur semuanya.

Kakak    :Lantas mereka lepas dari amanah itu?

Ibu         :Bukan lepas. Tapi tergantikan oleh amanah lain yang sama besarnya.

Kakak    :Apa?

Ibu         :Tidak tahu.

Kakak    :Tapi aku lelah.

Ibu         :Proses yang melelahkan ini akan menjadi kebahagian pada akhirnya.

Kakak    :Semuanya bilang seperti itu. Tapi aku tak percaya.

Ibu         :Yakinilah. Semakin lama besi ditempa, dan semakin kuat tempaannya  akan didapatkan keris yang indah dan mahal harganya.

Kakak    :Aku tahu itu. Tapi tidak untuk hidup kita. Lihat saja orang miskin di luar sana. Begitu keras tempaan mereka. Tapi apa jadinya sampai mereka mati? Mereka tetap menjadi yang terbuang.

Ibu         :Tempaan itu tidak hanya ujian harta. Tempaan terberat adalah ujian keimanan. Rasa yakin pada Tuhan. Rasa patuh dan berpasrah hanya pada-Nya.

Kakak    :Mereka pun ada yang demikian. Tapi apa? Hidupnya lantas tak berubah menjadi senang.

Ibu         :Siapa bilang?

Kakak    :Aku lihat di Tv.

Ibu         :Cobalah tengok mereka lebih dekat, agar nyata segala yang kita ketahui.

Kakak    :Apakah Ibu pernah melihatnya dari dekat? Senyata pertunjukan sirkus?

Ibu         :Tentu. Mereka, yang kamu bilang miskin itu selalu gembira hidupnya. Mereka banyak tertawa. Mereka lebih banyak bercanda. Hanya dengan cara itu mereka bisa melupakan nestapa mereka tentang kesejahteraan yang tak kunjung meningkat. Mereka saling berbagi. Dengan rumah yang berhimpit semacam itu interaksi sosial mereka kuat sekali. Mereka adakan arisan, ajang berkumpul, walau hanya rantang penyok yang mereka perebutkan. Bukan untuk memamerkan kasta perekonomian mereka, itu hanya ajang berkumpul dan bercerita. Terkadang kekaguman ibu muncul ketika mereka saling menertawakan kesengsaran satu sama lainnya. Bukankah itu hebat? Makan dengan garam dan nasi keras sudah menjadi hal lumrah yang cocok untuk menjadi santapan candaan mereka. Tak ada yang marah. Merka hanya tertawa.

Kakak    :Benarkah?

Ibu         :Bahkan di beberapa lingkungan miskin, mereka adakan pengajian. Dengan baju dan penutup kepala seadanya. Bukan karena mereka tidak sopan dan tidak taat agama. Itu Karena mereka benar-benar tidak mampu untuk membeli kerudung yang layak untuk digunakan. Beberapa ibu-ibu bahkan hanya menggunakan selendang kecil dengan kaos berlengan ¾ dan celana tak sampai mata kaki. Itupun hasil pemberian dan membeli di pasar loak. Mereka menyadari akan pentingnya menutupi aurat, maka tak sedikit dalm kehidupan sehari-harinya ibu-ibu itu hanya memakai kerudung dengan kaos pendek dan celana selutut. Rasanya terlihat lucu memang dan  beberapa orang mencela. Tapi itu adalah bagian dari keyakinan hati mereka. Usaha untuk menjalankan perintah yang Tuhan turunkan.

Kakak    :Semiskin itukah mereka?

Ibu         : Harta yang memiskinkan mereka. Tapi iman yang mengkayakan mereka. Ibu pun tak akan berbohong padamu. Bahwa banyak juga di luar sana yang ternyata miskin harta dan juga iman. Dan tak sedikit juga yang kaya harta namun miskin iman, semoga tidak menipa kita.

Kakak    :Tentu ibu.

Ibu         : Bersyukurlah menjadi wanita, yang akan menjadi sandaran untuk suami dan anak-anakmu ketika mereka lelah. Itu adalah sebagian dari ibadahmu.

Kakak    : Jika aku lelah, pada siapa aku bersandar?

Ibu         : Pada Tuhanmu. Tersenyumlah pada mereka, anak dan suamimu, karena itu adalah ibadah.

Kakak    : JIka mereka tak tersenyum padaku?

Ibu         :Hanya memberi, tak harap kembali ...

Kakak    : Bagai sang surya menyinari dunia ...

Kakak bangun dari kursinya dan segera menghampiri Ibu. Kakak peluk Ibu dengan hangat. "I love you mom, so much". Kakak bisikkan kata-kata itu di telinga Ibu. "Jadilah pembuka surga untuk ayahmu". Ibu bisikkan kata-kata itu dengan lembut. Kakak pandangi mata Ibu dan mengangguk pelan. "Untukmu pun Ibu."

Sunday, March 3, 2013

Kebiasaan

Ternyata, aku bukanlah bagian dari kebiasaanmu. Tapi sayangnya dalam kebiasanku terdapat kamu. Maka apa yang harus aku lakukan? Mungkin, mengasihani diriku sendiri. Dan menertawakan penderitaan ini sendiri. Sudahlah, abaikan ~ harusnya memang begitu. Tapi nyatanya tidak. Maka hanya berharap pada kesemuan yang semakin pekat yang pada akhirnya terjadi.

Gerimis, bantu aku samarkan air mata yang turun ini. Agar hanya kamu yang tahu bahwa kini aku memang bersedih. Sedih pada kenyataan tentang kamu.
.

Bolehkah  aku mengasihanimu. Harusnya memang boleh, aku kasihan padamu yang selalu tidak bisa memutuskan dan berbicara sebenarnya. Hanya itu, sekian.

Saturday, March 2, 2013

Tuan Rumah

Harusnya setelah gue tahu blog gue ini isinya random, gue harus mutusin blog gue ini mau masuk ke jalur mana, bukannya malah dibikin tambah random -____-
Mungkin lain kali. Diwaktu setelah hak untuk berlibur sudah didapatkan hahaha. Sampai waktu yang tidak dapat ditentukan kayanya bakal tetap random kaya gini.
Fokus dan menekuni salah satu hal mungkin lebih baik, daripada melakukan semuanya tapi tidak maksimal. Hmm, mungkin sama seperti fokus saja pada satu istri, punya istri banyak kualitas perhatian tidak akan semaksimal hanya pada satu istri. Hahaha. *ngaco*
Yah, waktunya tidur memang. Selamat pagi dan selamat tidur :)

Menu | Bubur Ayu

Nah, ini ada resep yang simpelnya minta ampun. Menu ini gue bikin kalo gue lagi sakit tenggorokan, flu, atau gak enak badan dan males ngunyah.

Bubur Ayu (Ayam Sayuran)
Bahan:
Seperempat kilogram beras putih
seperempat kilogram ayam yang sudah dipisahkan daging dan tulangnya. Kalo ribet beli aja yang bagian dada, soalnya tulangnya emang dikit.
1 buah wortel, potong dadau kecil
1 buah kentang, potong dadau kecil
1 batang daun seledri
air

Bumbu:
Garam secukupnya
Gula secukupnya
Merica secukupnya

Cara membuat:
Masukkan semua bahan dan bumbu ke dalam magic com. Tunggu hingga matang dan sajikan hangat.

sumber gambar : google

Menu | Sayur Sop

Biar makin rame, sekarang gue bakal ngeshare resep masakan. Biar blog gue rada guna dikit. Hahaha, mungkin guna, atau mungkin menjerumuskan.

Sayur Sop
Bahan:
Isi: 
2 buah wortel
I buah brokoli
Setengah buah Kol
2 Batang daun bawang
2 Batang daun seledri
Buncis secukupnya
Kentang secukupnya
Setengah kilogram ayam
Air

Bumbu:
Gula secukupnya
Garam secukupnya
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
Merica secukupnya

Taburan: Bawang goreng

Cara membuat:
1. Bersihkan semua sayur. Untuk brokoli, potong-potong dari batangnya dan masukkan ke dalam air panas yang dicampur garam, agar ulat-ulatnya mati. Setelah dicuci bersih, semua sayura dipotong. Untuk wortel dipotong sehingga berbentuk bundar agak sedikit tebal. Kol dpotong kotak-kotak, Daun bawang dipotong memanjang begitupun daun seledri dan buncis. Kentang dipotong kotak-kotak.
2. Setelah membersihkan semua sayuran, baru membersihkan ayam. Potong ayam sesuai selera. cuci bersih di bawah air mengalir. sisihkan.
3. Kupas dan potong bawang merah dan bawang putih. Sisir kembut kemudian goreng hingga setengah matang dan sisihkan. Menggoreng sampe setengah matang ini agar bawang tidak terlihat gosong, karena setelah diangkat, bawang masih menyimpan panas yang membuatnya terus memasak dirinya sendiri. (teori sendiri)
4. Didihkan air dan ayam.
5. Setelah mendidih masukkan kentang. Biarkan hingga kentang 1/2  matang baru masukkan buncis. Setelah kentang 3/4 matang masukkan semua sayuran dan bawang merah dan bawang putih yang telah digoreng.
6. Bumbui sayur tersebut menggunakan garam, gula dan merica.
7. Angkat dan sajikan. Proses perembusan setelah sayuran dimasukkan jangan terlalu lama, agar vitamin pada sayuran tetap terjaga.

Sumber gambar: google (biar keliatan enak)

Fashion | Edisi Kondangan

Kalo diliat-liat blog gue emang aneh. Udah tema tulisannya random, tema tulisan ama tema blog gak nyambung. Hmm, tapi biarin deh, Ini kan blog gue, kenapa juga harus repot. Hahaha. Nah, biar makin random, postingan kali ini gue mau bahas tentang fashion. Kayanya belum pernah. Postingan selanjtnya gue mau nulis tentang resep masakan. hahaha. Biar blog gue gak bisa diklasifikasiin kedalam jenis-jenis blog yang udah umum ada. ngahahaha *ketawa ngikutin adik gue, biar keliatan gaul*

Mulai ...

Akhir-akhir ini, makin sering aja gue dateng ke acara pernikahan. Masalah yang sering terjadi adalah bingung mau make baju apa. Sebagai remaja yang beranjak dewasa, gue gak mau terlihat emak-emak banget dan anak bocah banget. Pengen yang formal tapi tetep anak muda gitu. hahaha. Untungnya gue selalu menemukan cara buat mangatasinya. Gue bukan anak hijabers yang kerudungnya mengelilingi seluruh kepala. Lebih kepada seenaknya-style hahaha. Dan inilah hasilnya.

1. Pernikahan Dewi
    Pernikahan pertama yang gak gue hadirin bareng orangtua gue. Agak bingung tapi akhirnya bisa juga maduinnya. 


 Cardigan hitam
 rok mega mendung warna hijau
sendal tali colate warna cream dan coklat
Tas tangan hitam
kerudung hitam (dan warna kerudungnya diprotes ibu haha)

2. Pernikahan Dwi Agustiani 
    Stok baju di rumah adalah baju yang emang jarang banget gue pake, dan baju yang sering banget gue pake buat main. Buat main! camkan. hahaha. Menyadari hal itu gue bawa salah satu rok gue yang biasa gue pake buat kuliah. Roknya banyak warna, jadi gue gak terlalu bingung buat nyari atasan, kerudung, sepatu dan tasnya. Tas yang dipilih sengaja gede karena abis kondangan, gue mau kongkow sama ibu dan benazir (kerudung biru)


Kerudung warna cream
Baju kalong ukuran XL warna cream muda
Manset baju warna cream
Rok semi batik dengan banyak warna
Tas tangan coklat.
Sepatu warna coklat Amanda Jones.


3. Pernikahan Kakak Juwansyah
    Tanpa banyak bicara, inilah hasilnya.

 Kerudung warna putih gading. Harusnya merah,tapi syudahlah.
Blazer semi formal. Blazer ini karya pertama gue. Gue yang ngedesain tapi yang jahit orang lain. Kain blazer ini gue temuin waktu gue lagi di kendari. Dan ternyata itu motif bali haha :)
kaos warna hitam.
Rok sifon warna merah cerah.
Tas coklat.
Sepatu warna coklat Amanda Jones.

Kayanya gue gak malu-maluin banget kalo diajak kondangan. Hahaha. Tapi masih belum berani pake sepatu dengan "hak" tinggi, celana bahan dan pake make-up. Cukup sekian. Salam seenaknya-style. Sebenernya pake baju itu yang penting nyaman. Perkara jatuhnya bagus apa enggak ya itu mah tergantung maduinnya juga hahaha. Daann, terantung kita PD apa enggak makenya. Tapi yang paling penting lagi adalah sopan :) hehehe


orasi

Lebih baik hidup dari sampah, daripada hidup menjadi sampah - Ibu-ibu di Kick Andy

Tentu saja, marilah menjadi berguna. Lakukan hal-hal yang bisa Kamu lakukan. Tak harus hal besar. Hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya dan menanam pohon. Cintailah penciptamu, Tuhan, melalui menjaga alam dan lingkungan serta kegiatan sosial antar sesama manusia. Bantulah sebisamu, lihat sekelilingmu. Bukalah kacamata keegoisanmu, maka hal-hal yang membuatmu terenyuh akan kamu temukan.
Tidak harus menjadi sama untuk merasa, hanya menjadi lebih untuk dapat mengasihi. Harta lebih menjadi berarti jika bisa dibagi. Jika tidak,  lebihkanlah rasa cintamu untuk alam dan penduduk bumi. Ini kehidupan nyata dengan masalah yang ada. Bukan dongeng dengan masalah yang selalu diada-ada. Tidak cukup hanya merutuki dan mencerca pemangku kebijakan negara saja, laku nyata kita untuk saling membantu dan menjaga adalah solusinya. 


-orasi sebelum tidur-

Laku Kata

Bukan pada rangkaian kataku, aku mencintai-Mu. Tapi pada lakuku, aku mencintai-Mu. Tuhan. Maka getarkan pengingat ini, hatiku, jika laku tak sejalan dengan aturan-Mu. Kitab Suci agamaku Aku memuja-Mu, maka aku bersujud dan bersimpuh memohon ampunan. Tak ada untaian kata yang paling indah didengar selain doa yang kupanjatkan pada-Mu.
Aku berdosa, dan ampunilah. Hanya dalam naungan-Mu hati ini terjaga. Maka naungilah hati yang rapuh ini dari segala prasangka yang menjadi pengotor lakuku.

Jika yang terjadi dalam hidupku adalah penyelamat untukku. Maka bisikkan pada telingaku, dan mudahkan Aku mendengarnya. Jika tak Kau bisikkan, tunjukkan pada mataku, dan mudahkanlah Aku melihatnya. Jika tak kau perlihatkan, maka tanamkan dalam hati ini, agar Aku merasakannya. Agar prasangkaku pada-Mu tetap terjaga dalam kebaikan.

Lirih sunyi kupanjatkan dalam malam panjang pada setiap waktu yang disebut hari. Bibir ini terkunci, hanya derasnya air mata yang selalu membasahi pesujudanku.

Selamatkan orangtuaku yang menanggung segala salah pada masaku kini. Dan terus giring aku dalam kebaikan abadi-Mu, agar imamku tak menanggung salah akibat lakuku.

Aku bukan wanita baik, tapi aku terus belajar untuk menjadi baik.
Untuk-Mu, Tuhan. Agar matiku menjadi tidur panjang yang menyenangkan hingga terbangun pada surga indah yang Kau janjikan.


NENEK

Sudah habis fase itu, fase dimana waktu yang ada aku habiskan dengan orang-orang yang membenciku. Aku terlalu perduli pada mereka yang membenciku, pada masa itu. Harusnya tidak perlu, tapi biarlah. Mungkin esok, Tuhan sudah mengambilku, karena memang pada fase waktu ini hal itu terjadi. Biasanya. Maka biarlah kini, Aku memasuki fase waktu yang hanya akan aku habiskan hanya dengan orang-orang yang menyayangiku. Kontrasnya pembagian fase waktu yang aku ciptakan, biarlah begitu.

"Neneeeekkkk" Ghaida berlari ke arahku, merangkak naik meminta untuk dipangku. Aku julurkan kedua tanganku dan sedikit membungkuk untuk menggendongnya dan meletakkannya di pangkuanku. "Nek, Ghaida punya temen baru lo. Namanya keke. Keke cantik sama seperti Ghaida, Tapi rambut Keke gak dikepang seperti Ghaida. Keke juga punya kakek dan nenek. Tadi yang menjemput Keke di sekolah kakek dan neneknya." Ah, cucuku ini cerewet sekali, persis seperti aku dan ibunya. "Wah, kalo begitu besok Keke diajak ke rumah sayang. Nanti nenek kepangin rambut Keke dan nenek buatkan kue gandum kesukaan Ghaida." Ghaida memainkan kepangan rambutnya sambil memasang muka sedih. "Kalo Keke dikepang, nanti lebih cantik Keke dong nek." Aku elus-elus kepala Ghaida."Setiap perempuan pasti cantik sayang. Ciptaan Tuhan selalu indah. Terlebih ketika tersenyum dan riang gembira. Jelek itu kalo manyuuunnn ..." Aku cubit lembut pipi Ghaida. Ghaida tertawa lepas. Aku menyukai sketsa ini. Tuhan, Maha Besar Engkau. "Bau apa ya ini, kok aaseemmm ..." Aku mainkan ekspresi mukaku menyerupai anjing yang mendengus-dengus."Hihiiii .. pasti bau Ghaida nek, Ghaida kan baru pulang sekolah." Aku dengus-denguskan ke arah ketiak Ghaida, "Iya, baunya dari sini". Ghaida langsung lompat turun dan berlari ke arah kamarnya. Aku kembali melanjutkan aktivitasku. Menulis.

Aku tak pernah menyesal dengan kontrasnya fase waktu yang aku ciptakan itu. Segalanya memang harus berjalan seperti itu. Tak ada waktu yang aku sesali, hingga kini. Entah esok. Semoga tetap tidak.Kuatnya aku menjalani fase waktu sebelum ini adalah Tuhan penyebabnya. Dan Kamu, suamiku.

Enam tahun yang lalu, sebulan setelah pernikahan anak perempuanku satu-satunya, suamiku meninggal. Tak ada kesedihan yang dia tinggalkan, hanya senyum bahagia yang selalu dia ciptakan selama kami menjalani kehidupan suami-istri. Ketika dia berpulang, kembali pada sisi Tuhannya, Aku merasa sebagian jiwaku hilang. Tak tahu harus bagaimana aku menjalani hidupku selanjutnya. Aku tidak sedih. Surgalah tempatmu, suamiku. Setelah kepergiannya, aku hidup dengan anak dan menantuku, dan kini cucuku.
"Nek, Ghaida udah mandi." Ghaida memakai baju potongan selutut berwarna ungu. Dia manis sekali dengan rambut basahnya. "Hmm, wangi sekali." Ghaida tersenyum centil."Nenek masih menulis?" Ghaida memanjat kakiku dan segera duduk di pangkuanku. Dia langsung melihat layar komputerku. "Ghaida udah bisa nulis juga lo nek, ni coba liat ya. " Ghaida mengetik tombol-tombol itu perlahan. Mencari huruf-huruf yang dimaksud. "Ghaida sayang Nenek". Ghaida menengok ke arahku, dan tersenyum memamerkan giginya yang penuh lubang. Aku kecup keningnya. "Nek, keluar yuk. Kita siram bunga sambil nunggu Ayah dan Ibu.""Yuk" Aku angkat ghaida dan menurunkannya ke lantai. Kami berdua keluar rumah untuk menyiram bunga. Sejam berlalu, anak dan menantuku datang. Aku tak pandai memasak, Aku hanya pandai membuat kue. Jika tak sempat dan merasa lelah, anakku selalu membeli makanan di luar."Ibuuuu" Ghaida berlari ke arah ibunya. Ibunya langsung menangkap dan mencium kening Ghaida. Kini, Ghaida digendong ayahnya masuk ke dalam rumah. Setelah makan malam, aku menemani Ghaida mengerjakan tugas sekolahnya. "Nek, Ghaida gak suka pelajaran matematika.""Kenapa sayang?""Ghaida pusing nek." Ghaida memegangi kepalanya."Ghaida pengen jadi penulis aja."

***

"Neneeekkkk .. nek" Ghaida berlari memasuki kamarku. "Itu ada Keke sama Kakek Neneknya, Nenek udah buat kue gandumnya kan?" Aku merapihkan letak kacamataku. Aku keluar dari kamarku menuju ruang tamu. Hening. Hanya sapaan ramah yang sayup-sayup aku dengar dari Nenek Keke. "Nek..nek" Ghaida menggoyang-goyangkan kakiku. "Ah, maaf. Saya neneknya ghaida." Aku julurkan tanganku ke arah Nenek Keke dan ... Kakek Keke. "Ghaida selalu membicarakan neneknya yang selalu mengepangkan rambutnya ke sekolah." Nenek Keke berbicara banyak. Aku hanya banyak tersenyum dan mengangguk. Pandanganku tetap tak terarah pada Nenek Keke. Selalu Aku curi-curi untuk melirik hal yang lebih membuatku tertarik, Kamu, Kakek Keke. Mereka pulang. Dan kami berencana ke taman kota esok pagi.

***

Pagi ini, Aku dan Ghaida pergi ke taman kota. Ayah dan Ibu Ghaida sedang keluar kota. Keke dan kakek neneknya sudah sampai di taman kota. Ghaida, Keke dan Nenek Keke bermain tali dan balon. Aku duduk pada kursi panjang di bawah pohon. Begitupun dengan Kamu, kakek keke. "Lama gak ketemu ya, kamu tidak berubah." Kamu memulai pembicaraan pagi ini. "Iya." Tetap kulayangkan pandanganku ke depan. "Jarak memang selalu hadir pada apapun. Dan aku tak memahami itu dulu, tapi tidak untuk kamu. Kamu paham betul jarak itu akan ada. Maka kamu memintaku untuk berjanji, tapi tidak untuk aku. Aku melepaskanmu denga jarak tanpa janji. Maka ketika jarak itu menghilangkanmu dari jangkauanku maka kamu tidak bersalah." Aku terus menatap lurus ke depan.""Maafkan aku, disuatu waktu dahulu ada hal yang benar-benar begitu membingungkan. Aku terjebak dalam kondisi keraguan hati yang pelik." Aku coba tersenyum, "Sudah aku katakan, kamu tidak bersalah. Istrimu beruntung." "Begitupun suamimu." "Ya, berulangkali aku ingatkan pada diriku bahwa aku bukanlah masalalu dan masadepanmu. Tapi tetap saja perasaan ini tak pernah bisa berbohong." "Hanya jika tak sekeras itu kamu, mungkin ... " Aku potong pembicaraannya, "Tak akan ada Keke dan Ghaida .. lihatlah sketsa indah anak-anak itu. Tak ada yang perlu disesali. Karena beginilah jalannya"

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis