Sunday, May 5, 2013

Sampah Malam I

Ini adalah posisi yang benar-benar rawan. Disaat kita benar-benar tidak "terlalu paham" dengan suatu hal, namun harus tetap membagikannya. Pada akhirnya kembali pada pertanyaan, "kenapa kamu harus pilih sesuatu yang tidak "terlalu paham" itu?" Jawabannya adalah DIAM. Karena terlalu banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran ini. Ketika memutuskan hal itu pun belum banyak ilmu yang gue punya, gue cuma ngawang-ngawang dan bilang "KAYANYA". Berucap "KAYANYA" tanpa ilmunya pun bagaikan menajamkan keris untuk membunuh diri sendiri. 
Gue udah capek untuk mengeluh. Iya, sudah terlalu banyak keluhan yang gue lontarin akhir-akhir ini. Apa dampaknya? Gue makin ketagihan, dan gue gak bisa ngontrol itu. Tapi nyatanya gada hasil yang baik juga setelah gue mengeluh. 
Harapan terbesar gue sekarang, "Tuhan ngirim orang yang nyata di hadapan gue, buat ngejelasin Hubungan Konkret tentang Konsep Fisika pada Peristiwa Gunung Meletus." ATAU "Tiba-tiba dibuka bimbingan belajar untuk mahasiswa". Ya Rabb ...
Dititik keputus asaan gue, kadang gue mikir, gue cuma hidup SENDIRI. SENDIRI. SENDIRI. Gue bingung harus minta tolong ke siapa, karena gue yakin semua orang lagi ngalamin nasib yang sama, atau itu cuma perasaan gak enak gue aja ke mereka.
Di posisi ini, gue udah ngerasa BERUSAHA SEMAMPU GUE. Kalo pada akhirnya, banyak hal yang berjalan di luar rencana yang udah gue bikin, ya gue bisa apa.
Sedih? Harusnya enggak. Tapi gue kan manusia biasa.
Harusnya gue udah berhenti di posisi ini. Tapi ada dua api kecil yang gak pernah padam dalam diri gue. Api itulah yang ngebuat gue tetep terus maju. Walopun ketika gue terus maju, gue hanya terus nyakitin diri gue sendiri. Api pertama, Ibu, Ayah, Anyun, Pakde. Api kedua, anak-anak di pelosok sana yang belum pernah gue liat senyumnya. Senyum dan pendidikannya adalah tanggung jawab gue dan rekan-rekan, sebagai calon pendidik. Entah sadar atau tidak, tapi itulah nyatanya. Tentunya, kembali lagi. Semua orang punya pemikiran tersendiri tentang pendidik dan pendidikan.
Kenapa ngotot dan harus? Gue udah cukup lelah dengan drama sekolah yang biasa gue temui. Penjilat. Ah, bosan sekali. Sudah tak nampak ketulusan dan semangat murni untuk belajar. Mungkin termasuk di dalamnya gue sendiri. Orientasi uang dan kedudukan. Ah, butalah mereka oleh semua itu. Gue, bukan orang baik. Gue pun bukan anak yang baik. Banyak hal yang gue dan orangtua gue gak sepaham. Tapi ini hidup gue, Gue yang bakal jalanin sendiri. Dan perlahan masing-masing dari kami mulai menyadari. Itupun bukan karna usaha kemaren sore, ada jeda waktu yang gak cepet. Orang tua gue selalu punya harapan yang ternyata gak sesuai sama keinginan gue. Terus apa yang terjadi? Diskusi, musyawarah. Sampe akhirnya gue harus mati-matian mempertahanin keinginan gue dengan alasan yang rasional. Gak jarang, alasan gue ditolak. Banyak hal yang mereka gak ngerti tentang jalan pikiran gue. Termasuk gue yang gak ngerti juga sama jalan pikiran mereka.Tapi itu mungkin yang disebut drama keluarga. 
Dan kayanya tulisan gue udah kemana-mana, cukup sekian, semoga Tuhan tak sungkan memberikan waktu dan keajaibannya buat gue. :)


0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis