Kita terlalu sama, apakah mungkin akan tetap manyatu? Kita sama-sama saling menyalahkan diri sendiri. Kita sama-sama saling menyesali atas apa yang akhirnya terjadi. Kita sama-sama diam untuk menutupi luka di hati.
Aku teguk segelas ice coffee, gerimis cantik sedang menghiburku dari luar jendela. Hanya bias kupandangi tanpa kusentuh. Tersenyum. Aku kerutkan kembali keningku, berusaha berpikir keras untuk bisa melanjutkan cerita itu. Tapi buntu. Ah, benci sekali aku. Seperti aku membenci sepotong nanas yang tergeletak di atas meja kantorku tadi pagi. Aku pandangi lagi layar laptopku, belum ada penambahan kata-kata dalam barisan yang bernama paragraf itu.
“Jangan terlalu serius. Ganti kafein itu dengan ini.” Sebotol air mineral muncul dihadapanku tiba-tiba, dan sesosok makhluk yang disebut pria yang sangat aku kagumi pun melemparkan tubuhnya di kursi tepat di depanku.
“Sedikit kafein mungkin akan menenangkan untuk tulisan yang harus aku serahkan besok pagi.” Aku coba tersenyum dan tetap focus menatap layar laptopku.
“Sedikit?” Kamu geser dua gelas bekas ice coffe yang ada di meja mendekati laptopku.
“Iya iya, baiklah. Aku hanya setres dan merasa tertekan. Aku butuh pelampiasan. Dan kamupun tahu kepada apa aku melampiaskannya. Aku tak ingin ada keributan sekarang. Aku hanya sedang mencari inspirasi dan menyelesaikan tugas ini.”
“Menulislah secara jujur, itu akan menjadi hal yang sangat menyenangkan dibandingkan harus memikirkan dan merumuskan konflik-konflik yang kamu ciptakan dan kamu hayalkan,”
“Apa maksudmu? Aku sudah bilang, aku hanya ingin menulis sekarang.”
“Tulislah apa yangkamu rasakan, jangan tuliskan sesuatu hal yang tidak kamu ketahui.”
“Tidak aku ketahui? Baiklah, apa mau kamu?”
“Aku hanya ingin kamu menulis secara jujur. Selain pengagum, aku mengenal baik kamu. Aku tahu persis kamu belum pernah berpacaran terlebih mengalami putus cinta dan mempunyai mantan. Tapi kenapa di semua ceritamu kamu umbar tentang hal itu? Itu bohong!”
“Aku wanita berumur 24 tahun yang bekerja pada sebuah majalah wanita ternama di negeri ini. Selain kamu, apakah harus semua orang tahu tentang hal itu? Wanita dengan umur sematang ini belum pernah mengalami proses yang dinamakan berpacaran? Itu aib!”
“Bukan. Itu adalah prinsip hidup.”
“Tapi siapa peduli? Aku hanya ingin dikenal sebagai wanita dewasa dengan karya yang dewasa. Aku lelah terus menerus dianggap gadis manis yang pintar membuat dongeng dan cerita-cerita konyol.”
“Aku peduli. Aku hanya tidak ingin melihatmu terus menerus mengalami tekanan seberat ini ketika menulis. Menulis adalah kegembiraan. Menulis adalah sukacita.”
Aku tertunduk.
“Aku ingin melihatmu seperti dulu, selalu tertawa dan tersenyum ketika menulis."
“Aku hanya ingin terlihat dewasa dengan tulisanku … dan aku dibayar untuk itu“

0 comments:
Post a Comment