Satu
hal yang akhirnya menjadi masalah dan yang menjadi bahan ketakutanku sejak
mengenalmu, kita terlalu banyak tahu satu sama lain. Tentu, pada akhirnya akan
seperti ini.
Terlalu
banyak kenangan, terlalu banyak senyuman, terlalu banyak .. yang akhirnya,
berakhir menjadi bayangan. Bayangan tak bermassa, sepertinya, sehingga mudah
untukku. Memindahkannya tanpa masalah. Namun, matahari kadang tak pula
bersahabat, inginku bayangan ada di kananku, namun mataharipun dengan malasnya
bertengger di sebelah kananku. Ya, bayangan hanya akan menurut padanya, si malas itu, matahari. Tak perduli sudah seberapa besar kemarahanku menyuruhnya,
bayangan, berpindah posisi ke arah kananku. Namun tetap saja tak bergeming.
Dengan kokohnya, dia , bayangan, di sisi kiriku, kini. Aku berbalik badan, nah,
ini, dia ada di kananku sekarang, bayangan .
Terlalu
banyak tahu tentangmu kini, hanya menjadi sebuah ganjalan yang tak ingin aku
cairkan menjadi penyesalan. Sungguh. Hanya saja, sedikit membuatku risau.
Melihat
sepotong cake dengan garpu cantik di sampingnya, mengingatkan aku dan kamu
beberapa tahun silam. Biasanya seperti itu, kami, duduk berdua berdampingan
seperti sepotong cake dan garpu yang terdampar di depanku kini. Dan aku hafal
betul adegan selanjutnya, kamu gulingkan sepotong cake itu dan kamu tetesi
dengan Earl Grey Tea hangat itu, dan kamu katakan, “Indah”. Awalnya aku hanya
tercengang melihatmu mengatakan itu, tapi kini, aku hanya bisa terdiam
menatap kursi kosong di sampingku. Gumaman suaramu mengunyah cake itu terdengar
meneduhkan. Beberapa remahan cake itu masih tersisa di sekitar bibirmu. Bukan
dengan tisu atau jari, tapi dengan punggung tanganmu, kamu membersihkannya.
Nuansa. Tak lepas jari kirimu memegang gadget canggihmu itu. Sesekali mengeluarkan
suara yang entah kode untuk apa, yang jelas beberapa kali suara yang
terdengar sama. Kamu pun mulai sibuk memainkan gadgetmu dan tersenyum-senyum.
Ingin sesekali aku bertanya, “Siapa?”, tapi sealalu urung, karena etika.
Sepotong
cake itu hanya menyisakkan cream berwarna putih. “Terlalu manis, menutupi
coklat yang melapisinya, aku tak suka.” Itu komentarmu. Apa bisaku setelah itu?
Membisu.
Terlalu
banyak tentangmu … Tentang kursi kosong, tentang gelas kosong dan dompet
kosong.
Tentang
Halte dan tentang sepotong pisang.
Di
awal sekali, kamu bertanya padaku di sebuah halte di depan SMA. “Aneh sekali
cara makan pisangmu?”. Mulutku penuh oleh pisang yang baru saja aku masukkan ke
dalam mulut. Aku cerna dengan terburu-buru, agar bisa segera membalasmu. “Apa
anehnya?”. Kamu duduk di sebelahku. Dan mengambil sepotong pisangku yang aku
simpan di atas tas, yang aku simpan di atas pahaku. “Begini” Kamu buka semua
kulitnya, dan hanya menyisakan ujung-ujung kulitnya saja untuk dijadikan
pegangan, kamu makan langsung dengan mulutmu. “Egois”. Kamu agak tersendak,
mendengar ucapanku tadi. “Apa maksudmu?”. “Jangan seakan-akan hidup sendiri.
Lihatlah sekelilingmu, jika ketika kamu memakannya dan ada orang yang
menginginkan juga, apa kamu akan memberikannya? Bekas mulutmu itu? Sungguh keterlaluan.”
Kamu tercengang melihatku berbicara demikian. “Cara makanku memang aneh,
memotongnya dengan tangan bukan langsung dengan mulut, itu karena jika sewaktu
waktu pisangku ini tinggal satu dan ada yang memintanya, aku bisa
memberikannya, dan bukan bekas dari mulutku. Mengerti?” Aku masuk ke dalam
angkot yang telah ada sejak tadi di depan halte SMAku. “Dan mengambil barang orang
lain tanpa ijin, itu sama saja dengan mencuri.”
Itu
bukan pertengkaran, hanya sejenis dialog pendek untuk lakon yang sangat
panjang. Itu sebagai pembuka, pembuka yang akan menutup setelahnya, rasa. Lakon
yang menguras semuanya. Hingga semuanya lenyap dan bersisa. Ini pun bukan
cerita roman yang berairmata, atau roman yang penuh romansa. Hanya senda gurau
di saat himpitan waktu menghasilkan kepenatan-kepenatan yang mengkerdilkan
pikiran dan menyempitkan dunia.
Terlalu
banyak tentangmu, dan terlalu banyak hal yang berkaitan denganmu, kini. Membuatku
selalu terbawa pada sepoinya angin masalalu.
Ganjalan
ini tak akan pernah aku leburkan menjadi sebuah penyesalan, dan semoga akan
bertahan menjadi anomali yang akan membuatku berbeda. Anomali rasa tentangmu.
Tentang hal yang terlalu banyak itu.
Tentang
hati yang menjadi fungsi. Tentang rumput yang menari. Tentang asa .. dan rasa
.. yang terbang tanpa berarah …
Terlalu
banyak tentangmu … Tentangmu yang semakin banyak dan tak kukenal :)

0 comments:
Post a Comment