Kami, ketiga sahabat kecil yang berkumpul kembali di saat ini, ketika kami sudah tumbuh menjadi dewasa. Ya, aku adalah satu-satunya perempuan dalam forum ini. Tapi, tak pernah ada masalah akan hal itu. Kebiasaan kami untuk saling berbagi cerita tak pernah alpa dalam setiap pertemuan yang kami adakan.
“Rasa sakit yang akan menjadi guru terbaik untuk setiap manusia.” Ucapku.
“Mengapa tidak dari rasa bahagia?” Je, salah satu sahabatku yang mempunyai emosi labil untuk semua perkara. Terpaan masalah tak membuatnya cukup cepat untuk bisa berpikir “out of the box” untuk menjalani masalah dan menyelesaikan masalah tersebut.
“Bahagia itu bias” Jawab Yoyo, salah satu sahabatku lagi.
“Menurut kamu?” Tanya Je padaku yang sedari tadi hanya memandang jendela besar di hadapanku. Inilah salah satu kebiasaanku, Aku suka sekali duduk menghadap jendela besar.
“Banyak orang yang seringkali tidak menyadari rasa bahagia yang hadir pada hidupnya, karena rasa bahagia itu terlalu sering hadir dalam hidup mereka sehingga mereka berpikir, itu biasa. Dan orang-orang akan sangat amat cepat menyedari rasa sakit yang hadir dalam hidupnya. Dan akan terus meratapinya, sehingga rasa sakit akan terus menerus membekas dalam hidupnya. “
Mereka diam. Pertanda mereka butuh penjelasan lebih dariku. Aku seruput kopiku yang sudah mulai sama suhunya dengan suhu ruang di café ini. Mereka saling melirik dan akhirnya salah satu diantara mereka, Yoyo, bertanya padaku. “Pada posisi mana rasa sakit itu akan menjadi guru terbaik untuk kita?”
“Pada posisi dimana rasa sakit mengubah kita menjadi lebih baik. Tentu aku berbicara lebih, karena aku yakin dalam diri setiap manusia sudah ada kebaikan mutlak yang mereka punya. Ketika rasa sakit dating, mereka belajar untuk melapangkan hati, melapankan pikiran. Sekaranh aku yang bertanya, manakah yang lebih paling kalian ingat, ketika kalian mendapat kebahagian menghirup oksigen secara gratis atau mengalami rasa sakit hati setelah pacar kalian selingkuh?”
“Pacar selingkuh.” Kompak. Mereka menjawab bersamaan.
“Sudah jelas … rasa sakit yang lebih kalian ingat.”
“Selalu saja seperti ini, mencerna kata-katamu tidak bisa hanya dalam waktu satu sks pertemuan kita. Terkadang aku baru memahaminya seminggu, atau bahkan sebulan setelah kamu mangatakannya.” Kami bertiga tertawa.
“Bagaimana dengan dia?” Aku tau maksud dari pertanyaan Je kemana. Aku tidak pernah berbohong terhadap mereka. Aku hanya pandai menutupi. Mereka sangat tahu itu, tanpa aku ditanya, aku tak akan mengatakan apapun. Harus selalu dipancing. Mungkin ini tak adil, karena mereka tak pernah harus dipancing untuk bercerita apapun kepadaku. Aku satu-satunya wanita, tapi akulah satu-satunya yang keras kepala diantara mereka.
“Dia, selalu menjagaku. Penjagaan yang Tuhan izinkan.”
“Caranya?”
“Dengan membiarkan aku bahagia di jalanku.”
“Kamu, wanita yang terlalu kuat hanya untuk meyelesaikan masalah yang berkaiatan dengan perasaan.”
“Benar.”
“Kamu tahu kenapa je?”
“Mmm … “
“Karena hatinya sudah membatu …” kami bertiga tertawa. Dan aku menendang satu persatu kaki mereka.
“Air matanya tak pernah jatuh untuk lelaki pujaannya. Tapi selalu jatuh ketika sudah kehabisan tiket murah untuk berkelana…”
Kembali tawa itu meledak. Iya, aku begitu batu untuk segala hal. Dan mungkin itu juga yang seringkali membuat ibu khawatir tentang anak gadisnya ini.
“Padahal mudah sekali memecahkan si batu ini, berbicaralah empat mata dengannya, katakana perasaanmu dengan menatap matanya, maka craanggg ,, batu ini akan pecah berkeping-keping. Tak perlu dengan memegang atau menggenggam tangannya, karena tinju keras yang akan menghantam.”
Itulah kebiasaan mereka selanjutnya. Mengejekku yang sampai saat ini belum memiliki tambatan hati. Aku hanya tersenyum dan tertawa melihat mereka memerankan apa yang mereka ucapkan.
“Daannn … hidup kalian terlalu drama. Please welcome king of drama … taraaammpp ..” kataku, sambil seolah-olah bergaya bak mc yang mempersilahkan bintang tamu memasuki panggung. Hanya itu yang bisa aku jadikan balasan untuk mereka.

0 comments:
Post a Comment