Disaat aku sudah tidak menemukan alasan untuk
bersamamu, jiwaku semakin terikat padamu.
Entah, entah apa, entah disebut apa.
Entah, entah apa, entah harus apa.
Menanti, menanti hati yang tak kunjung berhenti,
mencari dambaan hati, pada yang tak tahu diri, sungguh sangsi pada yang
terjadi, ya ini, harus dilalui.
“Gulali … “ sapa seorang lelaki yang kemudian duduk
di depanku.
“Berapa?” Tanyaku
“Cukup satu yang tak pernah habis manisnya … “
“Diterima.” Aku pasang tampang centilku.
“Hahaha .. cukup, hentikan!”
Harusnya itu yang kamu katakan pada dirimu sendiri.
Bukan padaku. Hentikan! Hentikan! Cukupkan sekian. Bahkan kamu pun tak pernah mengerti arti semua hadirku ini.
Kamu tak pernah bisa membedakan keadaan nyataku dengan lakonku pada drama yang
sedang berjalan ini. Sudah seperti itu saja, berakhir pada babak yang tak ada
peranku di dalamnya, drama.

0 comments:
Post a Comment