Wednesday, May 29, 2013

Ibu

Siapa yang paling mengerti kita selain wanita itu. Wanita yang selalu memberikan ketenangan.
" Besok aku penelitian hari terakhir. Doain ya bu :)"
Tak lama .. Suara yang meneduhkan itu terdengar .
"Lagi ngapain?"
"Ngedit instrumen buat besok."
"Kak, yang tenang. Jangan pusing ya. Santai aja, jangan terlalu buru-buru. Jangan dibikin pusing. Dikerjain, tapi jangan dibuat stres. Dibikin nyantai aja."
Disaat secara fisik gue menunjukkan bahwa gue siap, nyatanya, gue selalu gelisah dan ketakutan. Dan siapa yang tahu akan hal itu tanpa terlebih dulu harus nanya ke gue, Ibu.
Rasanya pengen banget meluk ibu sekarang.
Disaat orang-orang lain harus dikejar dengan pertanyaan, "udah sampe mana skripsi? ayo selesein skripsinya" atau apapun yang bernada menyuruh untuk segera menyelesaikan tugas akhir mahasiswa itu, gue? gue malah disuruh santai dan jangan buru-buru.

 

Masih ngomongin tentang Ibu, sekarang gue lagi sedh banget. Ibu sahabat terbaik gue, Yoyo, lagi sakit dan sekarang di rawat di Rumah Sakit. 
Satu lagi pesen Ibu setelah ngedenger mamahnya Yoyo sakit. 
"Kak, jangan banyak pikiran. Kalo punya unek-unek disampein. Jangan dipikirin sendiri,"
Doa untuk orang tersayang:
"Tante, cepet sembuh. Semoga Alloh segera mengngkat penyakitnya, amiin yra :) "

*nulis di saat LKS dan PPT belum beres*



Tuesday, May 28, 2013

Lagi, Pura-pura

“Kamu tahu?”
“Tidak. Apa?”
“Bahwa bukan hal mudah untuk aku terus menerus seperti ini.”
“Mmm …”
“Aku terus terlihat baik dan tidak apa-apa. Dan yang lebih sakit adalah hanya aku yang tahu akan hal itu. Aku pandai. Pandai menutupi dan berpura-pura.”
“…”
“Apa maksudmu, itu yang akan kamu tanyakan setelahnya?”
“Tidak.”
“…”
“…”
“Apa?”
“Aku pun merasakan hal yang sama.”
“…”
“Dan aku pikir …”
“Apa?”
“Sudah sepantasnya itu bukan lagi menjadi pura-pura.”
“Jika itu maumu. Asalkan kamu bilang. Agar aku tak merasa bingung harus bersikap apa. Baiklah.”
“Dan percayalah, ini pun menyakitiku.”
“Kita sama-sama tersakiti untuk sesuatu hal yang membahagiakan, untukmu, belum saatnya untukku.”
“Selalu. Kamu membuatku merasa bersalah.”
“Tidak. Apakah aku terlihat menghakimimu?”
“Aku merasakannya.”
“Ohh. Maafkan aku.”
“Tidak. Aku yang bersalah. “
“…”
“Buatlah nyata kepura-puraan itu.”

Que sera sera

When I was just a little girl
I asked my mother what will I be
Will I be pretty
Will I be rich
Here's what she said to me

Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera

When I was just a child in school
I asked my teacher what should I try
Should I paint pictures
Should I sing songs
This was her wise reply

Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera

When I grew up and fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will there be rainbows day after day
Here's what my sweetheart said

Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera

Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera

What will be, will be
Que sera sera...

sukaaaa bangeetttt ... <3

Sunday, May 26, 2013

Drama

Disaat aku sudah tidak menemukan alasan untuk bersamamu, jiwaku semakin terikat padamu.
Entah, entah apa, entah disebut apa.
Entah, entah apa, entah harus apa.
Menanti, menanti hati yang tak kunjung berhenti, mencari dambaan hati, pada yang tak tahu diri, sungguh sangsi pada yang terjadi, ya ini, harus dilalui.

Gulali … “ sapa seorang lelaki yang kemudian duduk di depanku.
Berapa?” Tanyaku
Cukup satu yang tak pernah habis manisnya …
Diterima.” Aku pasang tampang centilku.
Hahaha .. cukup, hentikan!

Harusnya itu yang kamu katakan pada dirimu sendiri. Bukan padaku. Hentikan! Hentikan! Cukupkan sekian. Bahkan kamu pun tak pernah mengerti arti semua hadirku ini. Kamu tak pernah bisa membedakan keadaan nyataku dengan lakonku pada drama yang sedang berjalan ini. Sudah seperti itu saja, berakhir pada babak yang tak ada peranku di dalamnya, drama.


Tuesday, May 14, 2013

Anomali Rasa



Satu hal yang akhirnya menjadi masalah dan yang menjadi bahan ketakutanku sejak mengenalmu, kita terlalu banyak tahu satu sama lain. Tentu, pada akhirnya akan seperti ini.

Terlalu banyak kenangan, terlalu banyak senyuman, terlalu banyak .. yang akhirnya, berakhir menjadi bayangan. Bayangan tak bermassa, sepertinya, sehingga mudah untukku. Memindahkannya tanpa masalah. Namun, matahari kadang tak pula bersahabat, inginku bayangan ada di kananku, namun mataharipun dengan malasnya bertengger di sebelah kananku. Ya, bayangan hanya akan menurut padanya, si malas itu, matahari. Tak perduli sudah seberapa besar kemarahanku menyuruhnya, bayangan, berpindah posisi ke arah kananku. Namun tetap saja tak bergeming. Dengan kokohnya, dia , bayangan, di sisi kiriku, kini. Aku berbalik badan, nah, ini, dia ada di kananku sekarang, bayangan .

Terlalu banyak tahu tentangmu kini, hanya menjadi sebuah ganjalan yang tak ingin aku cairkan menjadi penyesalan. Sungguh. Hanya saja, sedikit membuatku risau.

Melihat sepotong cake dengan garpu cantik di sampingnya, mengingatkan aku dan kamu beberapa tahun silam. Biasanya seperti itu, kami, duduk berdua berdampingan seperti sepotong cake dan garpu yang terdampar di depanku kini. Dan aku hafal betul adegan selanjutnya, kamu gulingkan sepotong cake itu dan kamu tetesi dengan Earl Grey Tea hangat itu, dan kamu katakan, “Indah”. Awalnya aku hanya tercengang melihatmu mengatakan itu, tapi kini, aku hanya bisa terdiam menatap kursi kosong di sampingku. Gumaman suaramu mengunyah cake itu terdengar meneduhkan. Beberapa remahan cake itu masih tersisa di sekitar bibirmu. Bukan dengan tisu atau jari, tapi dengan punggung tanganmu, kamu membersihkannya. Nuansa. Tak lepas jari kirimu memegang gadget canggihmu itu. Sesekali mengeluarkan suara yang entah kode untuk apa, yang jelas beberapa kali suara yang terdengar sama. Kamu pun mulai sibuk memainkan gadgetmu dan tersenyum-senyum. Ingin sesekali aku bertanya, “Siapa?”, tapi sealalu urung, karena etika.
Sepotong cake itu hanya menyisakkan cream berwarna putih. “Terlalu manis, menutupi coklat yang melapisinya, aku tak suka.” Itu komentarmu. Apa bisaku setelah itu? Membisu.

Terlalu banyak tentangmu … Tentang kursi kosong, tentang gelas kosong dan dompet kosong.
Tentang Halte dan tentang sepotong pisang.
Di awal sekali, kamu bertanya padaku di sebuah halte di depan SMA. “Aneh sekali cara makan pisangmu?”. Mulutku penuh oleh pisang yang baru saja aku masukkan ke dalam mulut. Aku cerna dengan terburu-buru, agar bisa segera membalasmu. “Apa anehnya?”. Kamu duduk di sebelahku. Dan mengambil sepotong pisangku yang aku simpan di atas tas, yang aku simpan di atas pahaku. “Begini” Kamu buka semua kulitnya, dan hanya menyisakan ujung-ujung kulitnya saja untuk dijadikan pegangan, kamu makan langsung dengan mulutmu. “Egois”. Kamu agak tersendak, mendengar ucapanku tadi. “Apa maksudmu?”. “Jangan seakan-akan hidup sendiri. Lihatlah sekelilingmu, jika ketika kamu memakannya dan ada orang yang menginginkan juga, apa kamu akan memberikannya? Bekas mulutmu itu? Sungguh keterlaluan.” Kamu tercengang melihatku berbicara demikian. “Cara makanku memang aneh, memotongnya dengan tangan bukan langsung dengan mulut, itu karena jika sewaktu waktu pisangku ini tinggal satu dan ada yang memintanya, aku bisa memberikannya, dan bukan bekas dari mulutku. Mengerti?” Aku masuk ke dalam angkot yang telah ada sejak tadi di depan halte SMAku. “Dan mengambil barang orang lain tanpa ijin, itu sama saja dengan mencuri.”
Itu bukan pertengkaran, hanya sejenis dialog pendek untuk lakon yang sangat panjang. Itu sebagai pembuka, pembuka yang akan menutup setelahnya, rasa. Lakon yang menguras semuanya. Hingga semuanya lenyap dan bersisa. Ini pun bukan cerita roman yang berairmata, atau roman yang penuh romansa. Hanya senda gurau di saat himpitan waktu menghasilkan kepenatan-kepenatan yang mengkerdilkan pikiran dan menyempitkan dunia.  
Terlalu banyak tentangmu, dan terlalu banyak hal yang berkaitan denganmu, kini. Membuatku selalu terbawa pada sepoinya angin masalalu.
Ganjalan ini tak akan pernah aku leburkan menjadi sebuah penyesalan, dan semoga akan bertahan menjadi anomali yang akan membuatku berbeda. Anomali rasa tentangmu. Tentang hal yang terlalu banyak itu.
Tentang hati yang menjadi fungsi. Tentang rumput yang menari. Tentang asa .. dan rasa .. yang terbang tanpa berarah …
Terlalu banyak tentangmu … Tentangmu yang semakin banyak dan tak kukenal :)

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis