di tepi bibir ini kamu menghentikan jari. mengusapnya dengan halus tanpa alas kain ataupun tisu. tapi pandanganmu tetap tak mengarah kemataku. hanya sesekali, untuk meyakinkan bahwa remahan biskuit itu tidak mengotori mukaku yang kau jadikan sketsa dalam otakmu. ya sebagai pelepas rindu dikala jarak itu membentang kembali.
" jadi setelah ini apa yang akan kamu kerjakan"
ucapmu memulai pembicaraan di petang ini, sambil menuangkan lagi kopi di gelas itu
"akan aku kerjakan tugas rumah itu"
"maksudnya?"
kali ini mata yang coklat itu menatap dalam mataku, tatapanmu masih sama, hangat.
"iya, aku akan disini. di rumah ini. bersama kamu, mengerjakan semua tugas rumah. dan kita bangun kembali rumah ini dengan normal"
ada penekanan dalam kata normal yang aku katakan. kini ekspresimu berubah, entahlah ekspresi macam apa itu. kamu pandai sekali menyembunyikan apa yang kamu rasakan. seperti lima tahun lalu ketika aku memutuskan untuk mengambil pekerjaan itu. ketika bentangan jarak itu ternyata harus hadir dalam biduk rumah tangga kita, yang kamu lakukan hanya tersenyum. senyum yang tak jelas artinya, aku tak berani meraba dan menerka. aku takut dengan rabaan dan terkaanku sendiri. yang aku tau, kamu rela melepasku. padahal umur pernikahan kita pada saat itu baru menginjak hari keenam. aku pun berusaha menepis segala praduga keji yang terkadang menempel dalam benakku. kamu hanya tersenyum dan mencium keningku pada saat di bandara, mengelap butiran air mata yang jatuh dari mataku.
"kenapa? apakah aku alasannya?"
"bukan. alasannya adalah karena KITA, bukan kamu ataupun aku"
"apakah kamu akan bahagia melepasnya?"
"tentu, kenapa tidak. apakah kamu tidak senang?"
kamu bangun dari tempat duduk itu, tanpa aba-aba kamu pun langsung memelukku, hampir aku terjengkang jatuh dari kursi. kali ini matamu begitu dekat. sangat dekat. keningku pun langsung kamu daratkan ciuman. ciuman yang biasa aku dapatkan hanya tiga kali dalam satu tahun, kini aku bisa mendapatkannya ribuan kali dalam sehari. itulah yang aku suka darinya, ciuman di kening, sederhana.
"maaf ..." ucapku lirih
dia melepaskan pelukannya, menarik kursi ke dekatku dan menuankan kembali kopi ke gelasnya.
"minum ini sayang, hilangkan kata yang baru kau ucapkan itu. aku menikahimu bukan karena aku ingin memilikimu. aku menikahimu karena aku ingin melihatmu bahagia. Dan aku ingin, akulah penyebab kamu berbahagia itu. bukan yang lain."
kali ini, akulah yang beranjak dari kursi dan memeluknya. aku terus memeluknya, aku tak ingin melepas laki-laki ini. air mata pun turun membasahi pundaknya. aku merasa sangat bersalah.
"jadi, apa kau tetap akan meninggalkan pekerjaan yang kamu sukai itu?" bisiknya
aku mengangguk. entahlah kamu mengetahuinya atau tidak. kamu melapaskan pelukanku. kamu memegang pundakku dan mengangkat wajahku yang menunduk membuncahkan air mata.
"apa kamu akan bahagia di rumah ini?" matanya menatapku menenangkan.
"iya, karena penyebab kebahagian itu ada disini, disini, dekat sekali denganku."
aku pukulkan jari telunjukku ke dadanya sambil berusaha tersenyum.
kamu memelukku lagi, menenggelamkan wajahku di dadamu yang tidak terlalu bidang itu. aku pun sedikit mendongak ke arah wajahmu, aku melihatnya, iya melihatnya, seberkas senyum yang aku tau artinya, kamu bahagia. senyum itulah yang telah lama hilang sejak kita menikah sayang, semoga senyum itu tetap ada di wajahmu, selamanya, sampai kita terpisah karena waktu yang menghentikan usia kita. tetap penuhi wajahmu dengan senyum itu sayang, senyum yang aku tau artinya.
***

0 comments:
Post a Comment