Friday, September 7, 2012

kafein


Dan ini bukan masalah kafein yang sering sekali tertelan mulutnya, ini masalah cara dia meminum.  Kafein itu adalah kafein yang biasa dia minum. Kafein itu akan terus tertelan oleh mulutnya jika dia sedang mengalami ketegangan akibat perseteruan kerasionalannya dan perasaannya. Dia bocah perempuan biasa, tidak ada yang terlalu menonjol dari dirinya, malah banyak sekali hal yang tidak menonjol. Tapi dia menjalani hidupnya normal. Sampai suatu waktu kenormalan itu goyah, membucahkan hal-hal yang selama ini tidak diketahuinya sendiri. Dia merasa aneh melihat dirinya dikebiri oleh suatu perasaan yang bernama cinta.
Cinta itu tidak seenak dan seharum kafein yang terus ditelannya. Cinta itu seperti percampuran kafein dengan gula. Mual. Walau harumnya sama, tapi ketika tertelan, rasanya bagaikan meminum campuran polutan asam yang dicampur lahar dan buih ombak yang tertabrak karang. Memiriskan.
Cinta itu harum seperti campuran kafein dan gula. Tapi ketika merasakannya, tidak hanya kebahagian yang terasa, namun kepedihan. Mual.
Kafein yang biasa dia minum bila sedang berfantasi dengan yang lain itu hanya satu cup, perlahan dan menenangkan. Itulah nyaman.
Fantasi yang lain pernah dia ciptakan dengan yang lain dari yang lainnya lagi, satu mangkuk dalam sekali teguk, jantung yang selalu menyadarkannya bahwa dia hidup ... berontak, membabi buta berdetak, dan dia merasa akan melayang, karena mati akan tidak kemengertiannya. Berbeda. Dan itulah ketidaknyamanan.
Tentu saja, isi dari cup dan mangkuk itu tetap sama, kafein tanpa gula.


Kafein tanpa gula dalam satu cup akan terasa lebih nyaman, dan itu yang dia pilih

09:07 am
Di tepi bulan, ketika aku akan pulang

0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis