terus menutupi segala sesuatu ketika kita mulai membuka untuk orang lain adalah perasaan yang sangat menakutkan.
perasaan yang melahirkan rasa bersalah berkepanjangan, dan membuat otak pening, lebih pening daripada harus mengintegralkan tiga kali, entahlah, rumus mana yang dapat dipakai logika dan perasaan ketika waktu sudah tak mau lagi berpihak untuk dapat menimbang apakah ini benar atau tidak. apakah kita juga harus mencari validitas dari kerasionalan dan hati kita sendiri?
butuh kemampuan analisis yang tinggi ketika kita harus terus berpikir dan memutuskan.
dia atau yang lain itu hanyalah peran yang mungkin akan terganti lagi dengan kamu, kamu, kamu, yang tersebar di bibumi ini, yang tersebar dalam berbagai ras.
ketika semuanya harus menjadi benar, maka "kebenaran" manakah yang seharusnya ada? bukankah teori relativistik itu berlaku untuk semesta ini? terutama untuk hal-hal yang mempunyai kecepatan mendekati kecepatan cahaya? lalu bagaimanakah dengan perasaan antara dua insan yang berbeda gender? apakah perasaan itu pun bergerak? apakah secepat kecepatan cahaya? sehingga teori tersebut dapat berlaku dan menjadi kunci dari jawaban segala permasalaaha hati manusia? apakah teori ini juga yang bertanggungjawab atas adanya perasaan bertepuk sebelah tangan? atau mungkin tidak, karena itu hanyalah kebodohan dari makhluk berotak saja?
perasaan yang melahirkan rasa bersalah berkepanjangan, dan membuat otak pening, lebih pening daripada harus mengintegralkan tiga kali, entahlah, rumus mana yang dapat dipakai logika dan perasaan ketika waktu sudah tak mau lagi berpihak untuk dapat menimbang apakah ini benar atau tidak. apakah kita juga harus mencari validitas dari kerasionalan dan hati kita sendiri?
butuh kemampuan analisis yang tinggi ketika kita harus terus berpikir dan memutuskan.
dia atau yang lain itu hanyalah peran yang mungkin akan terganti lagi dengan kamu, kamu, kamu, yang tersebar di bibumi ini, yang tersebar dalam berbagai ras.
ketika semuanya harus menjadi benar, maka "kebenaran" manakah yang seharusnya ada? bukankah teori relativistik itu berlaku untuk semesta ini? terutama untuk hal-hal yang mempunyai kecepatan mendekati kecepatan cahaya? lalu bagaimanakah dengan perasaan antara dua insan yang berbeda gender? apakah perasaan itu pun bergerak? apakah secepat kecepatan cahaya? sehingga teori tersebut dapat berlaku dan menjadi kunci dari jawaban segala permasalaaha hati manusia? apakah teori ini juga yang bertanggungjawab atas adanya perasaan bertepuk sebelah tangan? atau mungkin tidak, karena itu hanyalah kebodohan dari makhluk berotak saja?
*ditemukan dalam bentuk notepad bertanggal 21 april 2012

0 comments:
Post a Comment