"sudah..sudah. kamu tak perlu merasa seperti itu. doakan saja aku akan baik-baik saja. sudah dari awal aku katakan, pergilah jika kau mencintai selain aku"
"akan sekuat itukah kamu?"
"semoga, dan aku akan selalu mencoba untuk kuat. untuk tetap menghentikanmu di aku pun, aku tak punya alasan. bahkan sedari awal aku mencintaimu pun aku tak punya alasan." aku tersenyum
"kamu selalu begitu. bodoh"
"cinta memang tidak bisa dijelaskan, itu kata sujiwo tejo" aku tertawa
"tapi aku akan tetap menyayangi kamu"
"terima kasih"
"jika aku akan kembali padamu, apakah kamu akan menerimanya?"
"tentu, kenapa tidak? berkelana lah wahai pangeran cinta. berhentilah jika kau sudah menemukannya"
"kamu masih tetap seperti itu. tidak pernah bisa serius. bahkan untuk suatu hal yang mungkin orang lain akan bersedih pun kamu selalu mencoba untuk tertawa. maafkan aku"
"aku tak ingin membagi sedihku tuan. biar aku dan Tuhan saja yang tau. mungkin nanti malam aku akan menangis sepanjang malam, mungkin besok aku akan murung, ya karena aku sudah tidak lagi di hatimu"
"aku begitu merasa berdosa. aku mulai sadar. aku tidak pantas untukmu"
"ketika kamu berbicara seperti itu, makna yang tersampaikan adalah bahwa aku yang selama ini tidak pantas disimpan di hatimu"
"tidak."
"maka jangan katakan itu pada wanita lain. biarkan hanya aku yg pernah mendengarnya."
"kamu ...apakah boleh aku tidak melepaskan kamu dari hatiku?"
"dua hati dalam satu jiwamu?"
"iya, seperti itu. aku mencintai kamu dan dia"
"..."
"kenapa diam? apakah kau tidak mau?"
"apakah kamu tidak merasa egois? akan ada yang merasa tersakiti. dan jangan samakan aku dengan wanita lain. ketika aku bilang iya pun, apakah wanita lain yang kamu cintai itu mampu menjalaninya?"
"entahlah, dia wanita yang sangat jauh berbeda denganmu. dia tentu lebih cantik darimu. untuk beberapa hal dia jauh lebih wanita dari kamu. untuk selama ini dia perhatian, sama sepertimu. dia juga pintar. ya, dia selayaknya wanita"
"haha .. apa maksudmu lebih wanita daripada aku?" aku daratkan pukulan sayang ke bahumu, kamu hanya meringis drama sambil mengelus bahumu
"iya, dia menggunakan perasaannya secara maksimal. itu tentu jauh lebih wanita dibandingkan kamu, yang dengan otak kecilmu itu kamu merasakan sesuatu. kadang aku merasa aneh denganmu, kadang akupun bertanya, apakah selama ini kamu benar-benar menyukaiku? mencintaiku?"
"aku memang wanita bodoh tapi aku bukan wanita tolol, yang bilang suka dan cinta pada semua lelaki. harusnya kamu tau itu. ketika aku katakan itu padamu, itu tandanya aku benar-benar suka dan cinta padamu. apakah aku harus mengucapkannya setiap hari wahai tuan yang tak kalah bodoh?" kami tertawa , benar-benar tertawa
"itulah kamu. terkadang untuk beberapa hal keyakinan itu harus ditumbuhkan dengan cara pengulangan . termasuk hal tentang cinta, sayang"
"ah masa? tanpa adanya pengulangan disitulah kepercayaan dan keyakinan sedang diuji"
"teori kamu selalu bagus. tapi bagaimana jika lupa?" kami tertawa kembali
"Cinta bukan lupa. Tapi pemerhati. Jangan pernah kamu menganggap cinta melupakanmu. Dan tak pernah menghampirimu. Cinta tak akan pernah kemana-mana. Dia akan melekat pada dirimu, memperhatikanmu dan memberimu jalan saat kau percaya kepadanya.... karya ASIR."
"wouw"
"itu kutipan dari buku yg pernah aku baca"
HP kamu bergetar, ada satu panggilan masuk. kamu langsung mengangkatnya. Aku tidak memperhatikan kamu, aku mengaduk cola float yang sudah bertambah volumenya, es mencair. aku menikmati cola float itu tanpa sedikitpun tertarik mendengar apa yang sedang kamu perbincangkan dengan lawan bicaramu di telepon. aku layangkan pandanganku ke arah lain. tak ada yang menarik untuk aku komentari. kamu mengakhiri pebincangan via seluler itu.
"kamu tau siapa yang menelepon tadi?"
"entahlah" aku benar-benar tidak perduli, ujarku dalam hati.
"dia wanita lain yang telah mengambil hatiku. dia memintaku menemuinya petang ini"
"dan dia sepertinya akan memintamu untuk memberikan kejelasan sikapmu kepadanya."
"iya sepertinya begitu. maafkan aku, sayang"
"kalaupun ada yang harus dimaafkan. akulah orangnya. dari dulu aku takut untuk berstatus. dan dengan kamu takut itu hilang. tapi ada beberapa hal yang harus aku selamatkan. harusnya kamu tau. dan terimakasih untuk beberapa tahun yang telah kita lalui. menjaga, meyakini, tanpa sadar satu sama lain menyakiti. mencintai, menyayangi ..." kembali aku kembangkan senyuman
tanpa aku duga sebelumnya, tanganmu melayang ke kepalaku. memukulnya dengan sangat pelan. aku meringsut, tapi tetap saja aku terkena.
"harus kamu tau. inilah kali pertamanya aku merasa bisa bebas bercerita dengan orang lain, tentang hal yang salah, tentang hal yang menyakitkan untuk orang yang bersangkutan."
"aku merasa tersakiti. tapi disisi lain aku merasa bahagia. sayangilah wanita itu, dan doakan aku, agar aku selalu kuat menjalani hari yang pastinya akan berubah, yaa pasti akan berubah. dan semoga aku siap akan perubahan itu" nada bicaraku mulai sedikit berubah, ada kesedihan yang tidak bisa aku sembunyikan. ah, kenapa datang terlalu cepat rasa sedih ini.
"sisi wanitamu mulai keluar, sayang"
"jadi kamu akan pergi malam ini?"
"tentu saja nyonya ... aku akan menemui wanita cantik itu. doakan aku ya sayang" kamu mengatakannya dengan sangat bersemangat. dan entah mengapa aku tersenyum melihatnya, dan rasa sedihku pun mulai memudar
"baiklah tuan, semoga malam ini kamu sukses. dan wanita itu mau menerima tawaran kamu membagi cintamu untuk aku dan dia." aku tertawa " pergilah sekarang, aku ingin membaca novel yang baru aku beli, aku hanya ingin cola float ini saja yang akan menemaniku"
"minumlah air putih. tak baik terlalu banyak meminum minuman kesukaanmu itu. dan apakah ketika aku tinggalkan, kamu akan memikirkanku? menebak-nebak apa yang akan terjadi padaku petang ini? apakah kau akan bersedih setelah aku tinggalkan kamu?"
"jangan banyak bertanya, tentu saja jawaban semua itu iya"
"baiklah aku akan pergi, akan aku pesankan air mineral untukmu. kamu yakin pulang sendiri?"
"terimakasih. iya tuan .. ayo cepat sana pergi, berdandanlah untuk menemui wanita itu"
"aku pergi, hati-hati, sayang"
kamu pergi meninggalkan aku dan minumanku. kamu benar-benar memesankan air mineral itu. dan aku melanjutkan aktivitasku membaca dengan ditemani air mineral yang kau pesankan.
***
Hpku bergetar, ada sms yang masuk. dan itu ternyata kamu. hanya menanyakan kabar. sejak pertemuan kita di tempat makan itu aku tak berani lagi menghubunginya, bahkan untuk menanyakan apakah kamu sudah berstatus dengan wanita itu atau belum. aku benar-benar takut. aku membalasnya dengan biasa saja, padahal aku ingin sekali menanyakan banyak hal yang berkaitan dengan kamu. apakah pagi ini kamu sudah sarapan? apakah yg sedang kamu kerjakan? ahh, terlalu banyak, tapi pada akhirnya aku urungkan. takbiasnnya kamu mengajakku keluar, biasanya selalu aku yang mengajak untuk bertemu, ya inilah kali pertamanya sejak kita dekat kamu mengajakku keluar. pasti ada sesuatu hal yang penting. aku iyakan ajakanmu.
***
"apa kabar?"
aku tertawa "baik, kamu?"
"aku juga baik" kamu tersenyum
"bagaimana dengan wanita itu?"
"dia baik-baik saja"
"apakah sekarang kamu bahagia?"
"sejak bersamamupun aku selalu bahagia"
"..."
"aku sudah membicarakan kejelasan sikapku pada wanita itu."
"lantas, bagaimana reaksinya?"
"dia menerima"
"syukurlah" aku bahagia, dan reflek aku mengangkat tanganmu, mengguncang-guncangkan tanganmu, aku tersenyum bahagia
"jika begitu adanya, aku dengan senang hati menerima traktiran cola float untuk hari ini" aku tertawa
"baiklah"
"ceritakan"
"cerita apa?"
"iya bagaimana dia membangunkanmu tiap paginya, bagaimana dia mengucapkan selamat tidur, apakah dia selalu mencemburui kamu? ceritakan"
"fantasi kamu harus dijaga, nyonya"
aku terdiam
"apakah kamu tidak ingin mengetahui kejelasan sikap seperti apa yang aku utarakan pada wanita itu?"
"aku tau. kamu mencintainya, dan maukah dia menjalin status denganmu. iya kan?"
kamu tertawa "soktau"
aku bingung. ada yang salah dengan kamu. iya ada yang salah. dari awal kamu mengajakku keluarpun itu adalah hal yang aneh. lantas apalagi ini.
"aku menjelaskan pada wanita itu, bahwa aku telah mempunyai wanita. dan wanita itu adalah kamu."
"..." kembali aku tak bisa berkata, mungkin mukaku terlihat sangat aneh, mulut terbuka tanda kaget yang sangat nyata.
"kamu kenapa?"
"tidak. tapikan kita tidak terikat. bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu pada wanita itu?
"kita terikat. bukan oleh status, tapi hati kita. hatiku benar-benar telah terikat olehmu, oleh semua hal tentang kamu"
hahaha aku kembali tertawa.
"apa yang kamu tertawakan?"
"kamu bodoh, tuan. apa kamu pikir aku masih mencintaimu?"
"tentu saja. bukan kamu rasanya cepat beralih pada lain hati"
ya benar, kamu tepat sekali memberikan alasan itu, ujarku dalam hati.
"lantas apa yang akan kita lakukan?"
"kamu masih tidak ingin kita terikat secara status?"
"..."
"sudahlah, maaf jika pertanyaan itu membuatmu tidak nyaman. kita jalani seperti biasa saja, sayang. mungkin suatu saat nanti, disaat kamu benar-benar siap"
"aku siap. tapi apa kamu siap?"
"tentu saja. jadi sekarang kita?"
aku tersenyum .. "iya, tapi jangan lanjutkan kata-kata itu"
"bolehkah aku bertanya?"
"kenapa kamu tidak menjalin hubungan dengan perempuan itu?"
"karena ternyata banyak alasan yang membuat aku jatuh cinta padanya, dan hanya padamulah cintaku tak mempunyai alasan"
"gombal"
hahaha kami tertawa bersama.
***
di pagi hari sebelum pergi ke Bandung Jazz Festival