alhamdulillah, lagi dapet kesibukan baru. dan alhamdulillah tugas kuliah lagi banyak-banyaknya. alhamdulillah dikasi kesempatan sama Alloh buat belajar mengelola waktu. alhamdulillah.
dan alhamdulillah malam ini "drop" juga. semoga sakit ini jadi pelebur segala dosa.
badan, pikiran kaget dikasi kesibukan kaya gini. harusnya bisa dicegah, tapi seminggu terakhir ini udah mulai bandel gak mendengarkan apa maunya badan. tenaga diforsir ini itu, pikiran juga gada istirahat. ya alhamdulillah beginilah jadinya. hehehe :)
Alloh tau yang paling baik harus gimana. Alloh tau semuanya. Alloh tau.
belajar mengendalikan diri, dan tau diri.
mengendalikan diri buat gak "lapor" keluh kesah karena sakit sama orang lain. diobatin, berdoa sama Alloh.
tau diri juga lagi sakit, banyak inget Alloh, jangan ingetnya "lapor" sama orang lain.
gak semua orang benar-benar peduli. enggak. ada yang peduli karena gak enakan, ada yang peduli karena pengen tau doang.
udah gitu.
T A U D I R I *
Saturday, February 14, 2015
Sunday, January 25, 2015
Current Mood
MENGAPA AKU SETERLUKA INI?
MENGAPA AKU SELEMAH INI?
MENGAPA AKU MERASA KESEPIAN?
DAN, SIAPA YANG AKHIRNYA PERDULI?
TIDAK ADA SATU ORANG PUN, BAHKAN.
untung punya blog, untung gak ada followernya, untung gak suka ada yang baca. hahaha. inilah rumah, dimana semua keadaan yang sebenarnya bisa diuangkapakan tanpa dinyinyirin orang-orang dan dikomenin sama orang-orang yang "perduli".
mungkin benar, menulis adalah salah satu terapi untuk mengurangi "stress/tekanan". saya rasa saya sangat amat tertekan dengan hidup saya yang seperti ini. men-detox diri dengan berbagai cara pun akhirnya saya lakukan. yoga, detox green juice, menulis, menggambar.
saya sering menangis sendiri, bercerita pada buku dengan tulisan tangan saya. dan itupun cukup melegakkan.
iya, saya sedang galau. hehe. saya dengan patah hati, dan saya sedang menstabilkan diri saya. hehe. am i drama queen? hahaha.
MENGAPA AKU SELEMAH INI?
MENGAPA AKU MERASA KESEPIAN?
DAN, SIAPA YANG AKHIRNYA PERDULI?
TIDAK ADA SATU ORANG PUN, BAHKAN.
untung punya blog, untung gak ada followernya, untung gak suka ada yang baca. hahaha. inilah rumah, dimana semua keadaan yang sebenarnya bisa diuangkapakan tanpa dinyinyirin orang-orang dan dikomenin sama orang-orang yang "perduli".
mungkin benar, menulis adalah salah satu terapi untuk mengurangi "stress/tekanan". saya rasa saya sangat amat tertekan dengan hidup saya yang seperti ini. men-detox diri dengan berbagai cara pun akhirnya saya lakukan. yoga, detox green juice, menulis, menggambar.
saya sering menangis sendiri, bercerita pada buku dengan tulisan tangan saya. dan itupun cukup melegakkan.
iya, saya sedang galau. hehe. saya dengan patah hati, dan saya sedang menstabilkan diri saya. hehe. am i drama queen? hahaha.
Kidung part 2
"Sesuatu yang menurutku sangat berat adalah kekosongan yang tiba-tiba. Aku limbung. Aku tak siap dengan keadaan itu. Setengah mati Aku coba hidup di atasnya. Apa ada yang mau mengerti? Enggak! Tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah ada yang berusaha mengerti. Aku sendirian dalam dunia yang sebesar ini. Apa yang harus Aku perjuangkan? Kebahagiaan? Kebebasan? APA? Kebahagian yang telah mereka hancurkan. Kebahagian yang telah mereka rampas. Apa bisa Aku hidup dari kebahagian yang telah hancur? APA BISA? Aku tahan semuanya. Aku tahan! Tapi itu semakin membuat mereka tidak mengerti dengan semua kehancuran hidupku. Darimana lagi Aku harus membangun hidup? DARIMANA? Dari sisa kehancuran? Kepingan-kepingan runcing kebahagiaan yang malah menyakitiku, melukaiku. APA BISA? Aku hancur! Aku HANCUR! Dan siapa yang sekarang perduli? SIAPA? Tidak ada! Mereka, Dia, Kamu, tidak, tidak ada!" Aku sesenggukan tanpa memperdulikan air mata yang terus mengalir. Mata ini perih, air mata kepedihan."Ini yang terbaik! Itu yang terbaik! menurut siapa? menurut Dia? Menurut Mereka? Menurut Kamu? Oh ya tentu, menurut Dia, Mereka, dan Kamu. Tapi apakah pernah Kalian menanyakan padaku? Apakah itu baik untukku? Apakah itu tidak menyakitiku? Apakah Aku ikut bahagia dengan "ini terbaik" versi kalian semua? HAH? Tak ada satupun yang menanyakannya. TAK ADA! Lantas Aku harus apa? Memaksa kalian untuk menanyakannya padaku, memohon agar Aku selalu ditanya? Tidak Gendis! Aku tahan semuanya, aku coba untuk terima. aku coba. tapi kamu lihat sekarang. kamu lihat? bagaimana kondisiku sekarang? aku kacau atas penerimaan yang menyakiti diriku! Aku tak pernah bisa memaafkan diriku yang selalu mencoba menerima."
Mata Gendis pun mulai basah oleh air matanya, Gendis mendekatiku, mencoba memelukku yang masih gemetar, "Maafkan Aku! Maafkan. Aku pikir selama ini Kamu bahagia. Kamu selalu terlihat banyak teman. Aku tak tahu Kamu seterluka ini! Maafkan aku."
Ada jeda waktu yang lama sampai pelukan Gendis melonggar dan Gendis kembali ke kursinya. "Apa yang bisa aku bantu?" Gendis memecah kesunyian setelah tadi terpecah oleh suara tangisku."Bisakah kau antarkan lagi aku ke masa itu Gendis?". Badan Gendis gemetar, air matanya merembes membasahi pipinya. kepalanya tertunduk. Aku berdiri, dan pergi meninggalkan kantornya. Langkah gontaiku menjadi sumber perhatian baru pengunjung dan pegawai kafe itu.
Monday, January 12, 2015
Kidung
Kepalaku sudah sejajar dengan segelas teh panas di meja ini. Aku hanya mengguman-guman kecil. Pemandangan memilukan di pagi hari. Sesekali Aku hembuskan nafas berat sebagai pertanda ada naga besar yang sedang meringkuk dalam perasaanku. Perasaan yang tak lagi hanya tentangmu, tapi tentang mereka. Aaah, Aku lelah. "Apa yang harus Aku lakukan?" tanyaku pada diriku sendiri sambil berusaha agar air mata yang siap meluncur ini tertahan. Aku angkat kepalaku dari meja yang sedari tadi menopangnya. Aku layangkan pandanganku pada segelas teh panas yang mengepul di mejaku sambil sesekali mataku tak lepas menatap benda di sebelah cangkir teh, handphone. Tak ada perubahan apapun, hanya segelas teh itu saja yang kemudian berubah suhunya. "Sudahlah" aku katakan itu pada diriku sendiri.
Aku hanya duduk. Kembali memikirkan "Apa yang harus aku lakukan?". Masalahku terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika aku menyadari tidak ada lagi "janji" yang bisa aku pegang dari seorang teman. Semuanya hancur perlahan-lahan. Jika janji seorang teman tidak lagi bisa kau pegang, kepada siapa lagi kau bisa percaya? Sejak itu, hariku selalu kosong dan "sepi". Aku mencari kepercayaan. Aku mencari kesalahan pada diriku sendiri. Aku lakukan apapun yang Aku bisa agar Aku bisa menemukan kepercayaan itu kembali. Tapi nihil. Aku tidak menemukan apapun, bahkan akhirnya yang Aku temukan adalah kecewa. Rasa kecewa yang entah telah tertimbun berapa lama. Rasa kecewa yang menjelma menjadi tangis pilu, rasa kecewa yang melahirkan dugaan-dugaan. Dan, Aku ingin menghentikan itu semua. Jika kamu pikir Aku menikmati kekecewaan, itu tentu salah besar. Aku tersiksa oleh rasa kecewa pada diriku sendiri, pada kalian. Iya. Aku tak bisa memperbaiki apa-apa. Aku hanya bisa menuliskan apa yang terjadi padaku sebenarnya, apa yang Aku pikirkan, dan apa yang Aku rasakan. Dan kamu tau, aku tak pernah mengalami fase ini sebelumnya. Aku tidak terbiasa sendiri, Aku tidak terbiasa sepi. Menurutku, wajar jika Aku limbung menghadapi ini semua.
Baiklah, mungkin sudah waktunya Aku kembali bekerja. Menjadi seorang editor majalah tidaklah semudah yang Aku pikirkan dulu, di kala masalah satu-satunya yang terjadi dalam hidupku adalah tidur siang. Ibu yang selalu menceritakannya padaku. Dan, tiba-tiba Aku merindukannya. Iya, Aku merindukanmu Ibu. Mungkin Aku akan mencari waktu luang untuk "pulang".
"Mbak Kidung, ada tamu" tiba-tiba sekretarisku muncul dari balik pintu. Iya, Aku pikir, Aku terlalu muda untuk dipanggil "Bu" oleh rekan kerjaku. Aku 28 tahun. Dan menurutku Aku belum pantas untuk mendapat sebutak "Bu" dari rekan kerjaku.
"Siapa?"
"Mbak Gendis."
"Bilang padanya saya sibuk. Tolong katakan padanya, temui saya besok pukul 10.00 di kafe miliknya."
"Baik mbak"
...
Aku hanya duduk. Kembali memikirkan "Apa yang harus aku lakukan?". Masalahku terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika aku menyadari tidak ada lagi "janji" yang bisa aku pegang dari seorang teman. Semuanya hancur perlahan-lahan. Jika janji seorang teman tidak lagi bisa kau pegang, kepada siapa lagi kau bisa percaya? Sejak itu, hariku selalu kosong dan "sepi". Aku mencari kepercayaan. Aku mencari kesalahan pada diriku sendiri. Aku lakukan apapun yang Aku bisa agar Aku bisa menemukan kepercayaan itu kembali. Tapi nihil. Aku tidak menemukan apapun, bahkan akhirnya yang Aku temukan adalah kecewa. Rasa kecewa yang entah telah tertimbun berapa lama. Rasa kecewa yang menjelma menjadi tangis pilu, rasa kecewa yang melahirkan dugaan-dugaan. Dan, Aku ingin menghentikan itu semua. Jika kamu pikir Aku menikmati kekecewaan, itu tentu salah besar. Aku tersiksa oleh rasa kecewa pada diriku sendiri, pada kalian. Iya. Aku tak bisa memperbaiki apa-apa. Aku hanya bisa menuliskan apa yang terjadi padaku sebenarnya, apa yang Aku pikirkan, dan apa yang Aku rasakan. Dan kamu tau, aku tak pernah mengalami fase ini sebelumnya. Aku tidak terbiasa sendiri, Aku tidak terbiasa sepi. Menurutku, wajar jika Aku limbung menghadapi ini semua.
Baiklah, mungkin sudah waktunya Aku kembali bekerja. Menjadi seorang editor majalah tidaklah semudah yang Aku pikirkan dulu, di kala masalah satu-satunya yang terjadi dalam hidupku adalah tidur siang. Ibu yang selalu menceritakannya padaku. Dan, tiba-tiba Aku merindukannya. Iya, Aku merindukanmu Ibu. Mungkin Aku akan mencari waktu luang untuk "pulang".
"Mbak Kidung, ada tamu" tiba-tiba sekretarisku muncul dari balik pintu. Iya, Aku pikir, Aku terlalu muda untuk dipanggil "Bu" oleh rekan kerjaku. Aku 28 tahun. Dan menurutku Aku belum pantas untuk mendapat sebutak "Bu" dari rekan kerjaku.
"Siapa?"
"Mbak Gendis."
"Bilang padanya saya sibuk. Tolong katakan padanya, temui saya besok pukul 10.00 di kafe miliknya."
"Baik mbak"
...
Lupa
Inilah satu-satunya tempat di kota ini yang tidak membuatku merasa "asing",
hanya merasa sepi.
Tapi biar,
aku penikmat rasa sepi.
Aku yang menciptakan rasa sepi,
dengan apa?
dengan lupa bagaimana caranya menyapa,
lupa kalimat sapaan apa yang bersahaja,
lupa kata sapa yang tepat,
iya, lupa
Tapi apakah kamu tidak?
Biarlah "mereka" bahagia atas lupaku akan kata dan kalimat sapa.
Dengannya, tidak mungkin ada kita,
dan tentunya, itu yang selalu "mereka" inginkan.
berbahagiakah mereka sekarang?
semoga
dalam diam tak berkata
dalam sapa tak bertanda
dalam kidung tanpa nada
dalam sajak tanpa rima
dalam hati tak tahu siapa
andai
perandaian pun menjadi nyata
tiada kata, hanya upaya
tapi semua berlalu begitu saja
dan aku lupa, kini aku menjadi siapa.
i'm bad. lost someone twice is so bad.
if you know what i mean.
seandainya aku tak mendengar satu janji pun .. satu pun. but now, ...
hanya merasa sepi.
Tapi biar,
aku penikmat rasa sepi.
Aku yang menciptakan rasa sepi,
dengan apa?
dengan lupa bagaimana caranya menyapa,
lupa kalimat sapaan apa yang bersahaja,
lupa kata sapa yang tepat,
iya, lupa
Tapi apakah kamu tidak?
Biarlah "mereka" bahagia atas lupaku akan kata dan kalimat sapa.
Dengannya, tidak mungkin ada kita,
dan tentunya, itu yang selalu "mereka" inginkan.
berbahagiakah mereka sekarang?
semoga
dalam diam tak berkata
dalam sapa tak bertanda
dalam kidung tanpa nada
dalam sajak tanpa rima
dalam hati tak tahu siapa
andai
perandaian pun menjadi nyata
tiada kata, hanya upaya
tapi semua berlalu begitu saja
dan aku lupa, kini aku menjadi siapa.
i'm bad. lost someone twice is so bad.
if you know what i mean.
seandainya aku tak mendengar satu janji pun .. satu pun. but now, ...
Friday, January 2, 2015
Pencapaian Mendesak 2015
Masih di awal 2015. Seperti tahun-tahun sebelumnya “angka” pada sesuatu yang orang sebut tahun selalu saya gunakan sebagai deadline suatu pencapaian. Pencapaian yang saya tulis biasa saja, iya sangat biasa malah, tapi biarlah. Itu hanya sebagai pengingat bagi saya yang pelupa ini.
Pencapaian yang harus segera dicapai karena bersifat mendesak dan sangat penting di awal tahun 2015 ini adalah merubah sifat saya. Sifat buruk saya muncul di akhir tahun 2014 dan masih terbawa di awal tahun 2015 ini. Sifat apa? Sifat yang sangat manusiawi, karena saya yakin semua orang pun merasakan dan mengalaminya *atau sok yakin? Ah biar*. pemarah, mudah berpikiran buruk, selalu berprasangka negatif, cemburu berlebihan, menyakiti diri sendiri, merepotkan orang lain, dan sifat-sifat lain yang merugikan orang. Dan sumber utama pemicu semua hal buruk itu satu, cemburu. Haaa, saya selalu berusaha menutupinya dan tidak mengakuinya, dan ternyata itu membuat kualitas diri saya semakin buruk. Sangat buruk malah. Saya cemburu atas perubahan yang akhirnya terjadi.
Jangan katakan apapun jika tak sanggup memenuhinya, tidak akan ada yang berubah, itu bohong. Pasti akan ada hal yang berubah, atau pasti semuanya akan berubah. Jangan buat “harapan” akan ke-statisan suatu perubahan. Agak kecewa, tapi saya sedang belajar mengontrol semua sifat buruk saya. Semua energi negatif dari semua aktivitas pikiran saya harus segera dikeluarkan, jika tidak, semua itu akan mengerak dan tertimbun, entah sampai kapan. Timbunan itu akan meledak, atau jika tidak pun pasti akan melumpuhkan.
Pilihannya sekarang adalah, menunggu timbunan energi negatif meledak/melumpuhkan, atau mengeluarkannya perlahan? Keputusan ada di tangan saya. Dan saya memutuskan untuk mengeluarkannya. Caranya? Agak konyol memang, tapi mungkin membantu, googling, iya saya bertanya pada mesin pencari tentang bagaimana mengeluarkan energi negatif dari pikiran, entah kenapa mungkin itu adalah satu-satunya teman yang bisa dipercaya kini. selain itu tentu saya juga membaca buku-buku berkaitan dengan ketenangan pikiran dan jiwa, bukan buku motivasi bapak mario teguh tentunya. Serta berbagi pikiran dengan sang empunya rahim tempat saya tumbuh dan berkembang, Ibu, serta Tuhan pencipta saya.
Awal Tahun yang berat memang, entah mengapa ini adalah tahun pertama saya benar-benar merasa “sendiri”. Tapi yakin, tahun ini akan lebih baik dari tahun tahun sebelumnya. Tahun ini akan banyak keberkahan yang menghampiri. Amiin.
Selamat merancang pencapaian-pencapaian and do it !!!
Pencapaian yang harus segera dicapai karena bersifat mendesak dan sangat penting di awal tahun 2015 ini adalah merubah sifat saya. Sifat buruk saya muncul di akhir tahun 2014 dan masih terbawa di awal tahun 2015 ini. Sifat apa? Sifat yang sangat manusiawi, karena saya yakin semua orang pun merasakan dan mengalaminya *atau sok yakin? Ah biar*. pemarah, mudah berpikiran buruk, selalu berprasangka negatif, cemburu berlebihan, menyakiti diri sendiri, merepotkan orang lain, dan sifat-sifat lain yang merugikan orang. Dan sumber utama pemicu semua hal buruk itu satu, cemburu. Haaa, saya selalu berusaha menutupinya dan tidak mengakuinya, dan ternyata itu membuat kualitas diri saya semakin buruk. Sangat buruk malah. Saya cemburu atas perubahan yang akhirnya terjadi.
Jangan katakan apapun jika tak sanggup memenuhinya, tidak akan ada yang berubah, itu bohong. Pasti akan ada hal yang berubah, atau pasti semuanya akan berubah. Jangan buat “harapan” akan ke-statisan suatu perubahan. Agak kecewa, tapi saya sedang belajar mengontrol semua sifat buruk saya. Semua energi negatif dari semua aktivitas pikiran saya harus segera dikeluarkan, jika tidak, semua itu akan mengerak dan tertimbun, entah sampai kapan. Timbunan itu akan meledak, atau jika tidak pun pasti akan melumpuhkan.
Pilihannya sekarang adalah, menunggu timbunan energi negatif meledak/melumpuhkan, atau mengeluarkannya perlahan? Keputusan ada di tangan saya. Dan saya memutuskan untuk mengeluarkannya. Caranya? Agak konyol memang, tapi mungkin membantu, googling, iya saya bertanya pada mesin pencari tentang bagaimana mengeluarkan energi negatif dari pikiran, entah kenapa mungkin itu adalah satu-satunya teman yang bisa dipercaya kini. selain itu tentu saya juga membaca buku-buku berkaitan dengan ketenangan pikiran dan jiwa, bukan buku motivasi bapak mario teguh tentunya. Serta berbagi pikiran dengan sang empunya rahim tempat saya tumbuh dan berkembang, Ibu, serta Tuhan pencipta saya.
Awal Tahun yang berat memang, entah mengapa ini adalah tahun pertama saya benar-benar merasa “sendiri”. Tapi yakin, tahun ini akan lebih baik dari tahun tahun sebelumnya. Tahun ini akan banyak keberkahan yang menghampiri. Amiin.
Selamat merancang pencapaian-pencapaian and do it !!!
Tuesday, December 23, 2014
arogan
semakin hari aku semakin arogan.
sulit menempatkan perasaan pada yang semestinya.
sulit memberi kepercayaan pada yang "berhak".
limbung oleh luka dari kepercayaan.
masih tentang kepercayaan.
dan itu begitu dalam.
refleksi dua puluh dua tahun.
sulit menempatkan perasaan pada yang semestinya.
sulit memberi kepercayaan pada yang "berhak".
limbung oleh luka dari kepercayaan.
masih tentang kepercayaan.
dan itu begitu dalam.
refleksi dua puluh dua tahun.
Bermain Kepercayaan
akhir seperti ini yang tidak pernah seorang "teman" inginkan, hilangnya kepercayaan. jangan bermain-main dengan kepercayaan. semua hal yang aku percayai kini mulai hilang. rasa percaya pada kepercayaan itu pun hilang, pudar, seiring semakin jelasnya semua. terkadang, perasaan menyesal memenuhi seluruh relung, menutup mata hati, mata yang selalu melihatnya sebagai "teman".
aku sedih. tentu sedih. bukan karena semua masalah yang hadir. tapi sedih pada akhirnya akan seperti ini. kepercayaan yang aku titipkan padanya, digadaikan atasa dasar "keperdulian" padaku.
entah siapa yang salah, entah.
entah siapa yang benar, entah.
kecewa, sedih. rasa percaya pada kepercayaanku telah hilang, musnah.
maka jangan salahkan aku, atas kelunya bibir ini.
maka jangan salahkan aku, atas pandangan tak percaya ini.
jangan salahkan aku!
kemanakan kepercayaanku?
jangan bermain dengan kepercayaan. jangan.
bahkan pada "teman".
aku sedih. tentu sedih. bukan karena semua masalah yang hadir. tapi sedih pada akhirnya akan seperti ini. kepercayaan yang aku titipkan padanya, digadaikan atasa dasar "keperdulian" padaku.
entah siapa yang salah, entah.
entah siapa yang benar, entah.
kecewa, sedih. rasa percaya pada kepercayaanku telah hilang, musnah.
maka jangan salahkan aku, atas kelunya bibir ini.
maka jangan salahkan aku, atas pandangan tak percaya ini.
jangan salahkan aku!
kemanakan kepercayaanku?
jangan bermain dengan kepercayaan. jangan.
bahkan pada "teman".
Thursday, December 11, 2014
aku (tidak) baik-baik saja !
satu setengah bulan terakhir, pikiran dan perasaan memang sedang tidak stabil, semuanya terkoyak oleh sesuatu yang sangat tiba-tiba. menurutku, itu sangat tiba-tiba. ah, padahal mungkin .. sudahlah. sudah cukup rasanya membohongi diri sendiri dengan mengatakan "aku baik-baik saja", itu semakin melukai diri. aku harus dengan tegap dan suara yang keras mengatakan bahwa "aku tidak baik-baik saja". agar aku tau, apa yang harus aku perbaiki dan obati. semuanya terjadi dan begitu emosional.
aku hilang kendali atas perasaan yang begitu dalam ini. aku seperti penyakitan dalam penjara sepi. dada yang selalu sesak, mata perih oleh air mata yang tak kunjung kering, dan tak bisa dibayangkan oleh siapapun. pada siapa aku mengadu? aku mulai hilang kendali atas rasa percaya pada orang-orang itu. maka aku diam, menikmati ini sendiri, dan tak ada yang bisa mengingatkan bahwa aku dalam kondisi tidak baik-baik saja. tidak ada yang mengingatkanku bahwa aku harus mengobati ini. aku mengandalkan diriku sendiri atas semua kendali itu. aku pun mulai lelah ketika aku harus terus menerus katakan pada orang-orang yang seharusnya aku percayai itu, "aku tidak apa-apa". itu semakin membuat dalam seluruh luka dalam diri ini.
dan, Tuhan. Ampuni Aku. yang kemudian melupakan kematian yang begitu dekat. baru pagi ini aku sadari, bahwa waktu berjalan begitu cepat, tak ditunggu pun kematian pasti akan datang. aku sedih. belum sampai ilmuku bahwa aku bisa tenang dan ikhlas menghadapi kematian. aku takut sendiri dan gelap.
aku takut tak menemukan wajah penuh kasih, ayah dan ibu. aku takut tak bisa bercanda gurau dengan adikku. aku takut kehilangan mereka.
dan rasa sakit ini pun mungkin bukti atas kurangnya rasa percayaku pada-Mu. Aku selalu gelisah dengan jodohku, rejekiku, dan aku sering melupakan kematian.
aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja. aku tidak baik-baik saja.
aku hilang kendali atas perasaan yang begitu dalam ini. aku seperti penyakitan dalam penjara sepi. dada yang selalu sesak, mata perih oleh air mata yang tak kunjung kering, dan tak bisa dibayangkan oleh siapapun. pada siapa aku mengadu? aku mulai hilang kendali atas rasa percaya pada orang-orang itu. maka aku diam, menikmati ini sendiri, dan tak ada yang bisa mengingatkan bahwa aku dalam kondisi tidak baik-baik saja. tidak ada yang mengingatkanku bahwa aku harus mengobati ini. aku mengandalkan diriku sendiri atas semua kendali itu. aku pun mulai lelah ketika aku harus terus menerus katakan pada orang-orang yang seharusnya aku percayai itu, "aku tidak apa-apa". itu semakin membuat dalam seluruh luka dalam diri ini.
dan, Tuhan. Ampuni Aku. yang kemudian melupakan kematian yang begitu dekat. baru pagi ini aku sadari, bahwa waktu berjalan begitu cepat, tak ditunggu pun kematian pasti akan datang. aku sedih. belum sampai ilmuku bahwa aku bisa tenang dan ikhlas menghadapi kematian. aku takut sendiri dan gelap.
aku takut tak menemukan wajah penuh kasih, ayah dan ibu. aku takut tak bisa bercanda gurau dengan adikku. aku takut kehilangan mereka.
dan rasa sakit ini pun mungkin bukti atas kurangnya rasa percayaku pada-Mu. Aku selalu gelisah dengan jodohku, rejekiku, dan aku sering melupakan kematian.
Labels:
Celoteh
Monday, November 3, 2014
Fluida Viscous
Hai, memasuki masa-masa Ujian Tengah Semester (UTS), fiuuhhh ~ Ujian bertebaran di mana-mana. Tapi, karna gue punya sifat rajin, ya rajin, jadi ya gak masalah si, cuma sedikit penat dengan rutinitas yang gitu banget. hahaha. saking penatnya, gue berusaha buat menghibur diri dengan bikin banyolan-banyolan yang kata gue si lucu, tapi itu selalu jadi gak lucu kalo didenger Ifa. Ahh, selera humor dia tidak terlalu tinggi. Hahahha. Dan pada suatu masa, ceileee , haha maksudnya pada suatu hari di saat perkuliahan Kajian Mekanika dan Termodinamina (Iya, gue kuliah di jurusan Fisika, gak, gue gak pinter, gue cuma ketolong rajin aja, iya rajin, karena gue sadar gue gak pinter TT,TT) gue duduk sebelahan sama Ocha. Materi yang dibahas yaitu tentang Mekanika Fluida. Ketika Yth. Pak Dosen lagi ngejelasin syarat syahnya Dinamika fluida, bahwa dalam Dinamika Fluida dibatasi hanya pada fluida ideal, yaitu dengan ketentuan steady state, irrotational, incompressibel, dan non viscous. Duh, berasa bahan ajar fisika jadinya (--"). Gak ada masalah sebenernya dengan semua kata-kata itu, yang salah cuma satu, otak gue. Ketika dosen ngejelasin bahwa fluida yang ditinjau itu harus non viscous (tidak kental) agar memudahkan pengamatan, karena jika fluida yang ditinjau viscous (kental) berarti ketika mengalir akan ada gaya gesekan, dan akan menghasilkan bentuk energi lain, jadi lebih ribet. Nah, otak gue malah langsung kepikiran sama ingus. Ya ingus. Apa hubungannya? Gue ngebayangin suatu fluida yang viscous itu ingus, bergerak di dalam rongga hidung, dan ada gesekan dengan dinding hidung. Akibat gesekan tersebut muncullah energi termal. Energi termal tersebut yang menyebabkan hidung si orang yang punya ingus memerah. Gue sampaikan pemikiran itu ke Ocha dan gue merasa bangga bahwa dengan cepatnya gue bisa mengaplikasaikan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari yang kayanya orang lain gak akan mikir sampe situ. Hahaha. Gak hanya ke Ocha, karena sifat gue yang suka memberi (informasi) maka gue sampein juga tuh penjelasan yang fisika banget mengenai perubahan warna pada hidung ketika seseorang sedang Flu ke Ifa dan Nisa. Merekapun terpukau ... eh enggak si, mereka biasa aja (/_\)
Nah, sore harinya setelah kuliah, gue biasa nemenin Sheen (Siswa SD Kelas 5 berkebangsaan Korea) buat belajar. Sore yang cerah itu lagi ngebahas tentang sistem transportasi. Di pertengahan hampir waktu abis Sheen nanya ke gue, "Kak, kenapa kalo orang flu hidungnya merah?". Wadeeziiggggg, rasanya gue seperti tertampar. Dengan mata penuh kebahagian gue jelasin penyebabnya secara fisika, itu kan pikiran kalian? ENGGAK !!! SUMPAH ENGGAK !!! Gue malah bingung mau jawab apa, padahal mulut gue rasanya udah gatel mau ngejelasin pemikiran gue yang fisika banget itu ke Sheen. Endingnya apa? Gue tanya balik ke Sheen tentang hal lain dan gue berniat ngasi jawaban itu di pertemuan selanjutnya. Karena otak gue masih hang.
Subscribe to:
Comments (Atom)
