Monday, January 12, 2015

Kidung

Kepalaku sudah sejajar dengan segelas teh panas di meja ini. Aku hanya mengguman-guman kecil. Pemandangan memilukan di pagi hari. Sesekali Aku hembuskan nafas berat sebagai pertanda ada naga besar yang sedang meringkuk dalam perasaanku. Perasaan yang tak lagi hanya tentangmu, tapi tentang mereka. Aaah, Aku lelah. "Apa yang harus Aku lakukan?" tanyaku pada diriku sendiri sambil berusaha agar air mata yang siap meluncur ini tertahan. Aku angkat kepalaku dari meja yang sedari tadi menopangnya. Aku layangkan pandanganku pada segelas teh panas yang mengepul di mejaku sambil sesekali mataku tak lepas menatap benda di sebelah cangkir teh, handphone. Tak ada perubahan apapun, hanya segelas teh itu saja yang kemudian berubah suhunya. "Sudahlah" aku katakan itu pada diriku sendiri.
Aku hanya duduk. Kembali memikirkan "Apa yang harus aku lakukan?". Masalahku terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika aku menyadari tidak ada lagi "janji" yang bisa aku pegang dari seorang teman. Semuanya hancur perlahan-lahan. Jika janji seorang teman tidak lagi bisa kau pegang, kepada siapa lagi kau bisa percaya? Sejak itu, hariku selalu kosong dan "sepi". Aku mencari kepercayaan. Aku mencari kesalahan pada diriku sendiri. Aku lakukan apapun yang Aku bisa agar Aku bisa menemukan kepercayaan itu kembali. Tapi nihil. Aku tidak menemukan apapun, bahkan akhirnya yang Aku temukan adalah kecewa. Rasa kecewa yang entah telah tertimbun berapa lama. Rasa kecewa yang menjelma menjadi tangis pilu, rasa kecewa yang melahirkan dugaan-dugaan. Dan, Aku ingin menghentikan itu semua. Jika kamu pikir Aku menikmati kekecewaan, itu tentu salah besar. Aku tersiksa oleh rasa kecewa pada diriku sendiri, pada kalian. Iya. Aku tak bisa memperbaiki apa-apa. Aku hanya bisa menuliskan apa yang terjadi padaku sebenarnya, apa yang Aku pikirkan, dan apa yang Aku rasakan. Dan kamu tau, aku tak pernah mengalami fase ini sebelumnya. Aku tidak terbiasa sendiri, Aku tidak terbiasa sepi. Menurutku, wajar jika Aku limbung menghadapi ini semua.
Baiklah, mungkin sudah waktunya Aku kembali bekerja. Menjadi seorang editor majalah tidaklah semudah yang Aku pikirkan dulu, di kala masalah satu-satunya yang terjadi dalam hidupku adalah tidur siang. Ibu yang selalu menceritakannya padaku. Dan, tiba-tiba Aku merindukannya. Iya, Aku merindukanmu Ibu. Mungkin Aku akan mencari waktu luang untuk "pulang".
"Mbak Kidung, ada tamu" tiba-tiba sekretarisku muncul dari balik pintu. Iya, Aku pikir, Aku terlalu muda untuk dipanggil "Bu" oleh rekan kerjaku. Aku 28 tahun. Dan menurutku Aku belum pantas untuk mendapat sebutak "Bu" dari rekan kerjaku.
"Siapa?"
"Mbak Gendis."
"Bilang padanya saya sibuk. Tolong katakan padanya, temui saya besok pukul 10.00 di kafe miliknya."
"Baik mbak"

...

0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis