"Sesuatu yang menurutku sangat berat adalah kekosongan yang tiba-tiba. Aku limbung. Aku tak siap dengan keadaan itu. Setengah mati Aku coba hidup di atasnya. Apa ada yang mau mengerti? Enggak! Tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah ada yang berusaha mengerti. Aku sendirian dalam dunia yang sebesar ini. Apa yang harus Aku perjuangkan? Kebahagiaan? Kebebasan? APA? Kebahagian yang telah mereka hancurkan. Kebahagian yang telah mereka rampas. Apa bisa Aku hidup dari kebahagian yang telah hancur? APA BISA? Aku tahan semuanya. Aku tahan! Tapi itu semakin membuat mereka tidak mengerti dengan semua kehancuran hidupku. Darimana lagi Aku harus membangun hidup? DARIMANA? Dari sisa kehancuran? Kepingan-kepingan runcing kebahagiaan yang malah menyakitiku, melukaiku. APA BISA? Aku hancur! Aku HANCUR! Dan siapa yang sekarang perduli? SIAPA? Tidak ada! Mereka, Dia, Kamu, tidak, tidak ada!" Aku sesenggukan tanpa memperdulikan air mata yang terus mengalir. Mata ini perih, air mata kepedihan."Ini yang terbaik! Itu yang terbaik! menurut siapa? menurut Dia? Menurut Mereka? Menurut Kamu? Oh ya tentu, menurut Dia, Mereka, dan Kamu. Tapi apakah pernah Kalian menanyakan padaku? Apakah itu baik untukku? Apakah itu tidak menyakitiku? Apakah Aku ikut bahagia dengan "ini terbaik" versi kalian semua? HAH? Tak ada satupun yang menanyakannya. TAK ADA! Lantas Aku harus apa? Memaksa kalian untuk menanyakannya padaku, memohon agar Aku selalu ditanya? Tidak Gendis! Aku tahan semuanya, aku coba untuk terima. aku coba. tapi kamu lihat sekarang. kamu lihat? bagaimana kondisiku sekarang? aku kacau atas penerimaan yang menyakiti diriku! Aku tak pernah bisa memaafkan diriku yang selalu mencoba menerima."
Mata Gendis pun mulai basah oleh air matanya, Gendis mendekatiku, mencoba memelukku yang masih gemetar, "Maafkan Aku! Maafkan. Aku pikir selama ini Kamu bahagia. Kamu selalu terlihat banyak teman. Aku tak tahu Kamu seterluka ini! Maafkan aku."
Ada jeda waktu yang lama sampai pelukan Gendis melonggar dan Gendis kembali ke kursinya. "Apa yang bisa aku bantu?" Gendis memecah kesunyian setelah tadi terpecah oleh suara tangisku."Bisakah kau antarkan lagi aku ke masa itu Gendis?". Badan Gendis gemetar, air matanya merembes membasahi pipinya. kepalanya tertunduk. Aku berdiri, dan pergi meninggalkan kantornya. Langkah gontaiku menjadi sumber perhatian baru pengunjung dan pegawai kafe itu.

0 comments:
Post a Comment