Aku iri pada dada, yang selalu kau busungkan ketika berbicara,
sehingga semua orang tau bahwa kamu bagus raga.
Aku iri pada dada, yang selalu kau tatap ketika berbicara pada kaca.
Aku, hanya si punggung.
si punggung yang tak pernah Kau tatap ketika berbicara.
si punggung yang hanya menjadi tempatmu untuk menyandar
ketika lelah tiba.
Cukuplah Aku, menjadi punggung, yang menahan lelahmu pada sandaran, ketika ada.

0 comments:
Post a Comment