Bentangan jarak yang terlahir
dalam sebuah hubungan biasaanya akan menjadi batu sandungan yang menggoyangkan
keyakinan. Pengujian keyakinan antar dua insan tersbut begitu berat. Seperti
halnya yang Aku alami sekarang. Ya, tepat empat tahun kita menjalani hubungan
ini, hubungan dengan bentangan jarak yang bernominal. Long Distance
Relationship atau LDR, istilah yang orang-orang biasa gunakan. Tapi untukku,
jarak itu adalah spasi dalam cerita cinta kita, sehingga kata-kata yang
tersusun menjadi penuh makna. Sedikit banyak, kebiasaan kamu sudah aku rekam
dalam memori otakku. Dan Kamu pun begitu. Melapangkan dada, dan sanggup
manjalani resiko yang akan terjadi pun adalah syaratnya. Komunikasi yang
terjalin dengan rapih adalah kuncinya. Tapi manusia punya sejuta rasa dalam
hatinya, tidak selamanya Kamu dalam kondisi baik, begitupun Aku. Terkadang,
harus saling mengalah. Tak hanya personal kita saja, tapi godaan-godaan di luar
itupun begitu menyiksa.
Kadang terlihat lucu dan konyol.
Aku dan Kamu selalu jujur jika menyukai laki-laki atau perempuan lain. Tapi
entah mengapa, setelah Aku katakan kejujuran itu hanya rasa bersalah yang
tertinggal. Ternyata Kamu pun sama begitu. Ada hal aneh, mmm ... mungkin lucu,
mungkin juga konyol. Setiap Aku bertemu dengan pria lain yang lebih tampan dari
Kamu, lebih mempesona daripada Kamu, Aku selalu menghubungi kamu, entah hanya
sekedar sms dengan mengirim icon smile
ataupun hanya salam sapa. Kenapa? Agar yang Aku ingat adalah Kamu. Dan ternyata hal tersebut
ampuh untuk mengusir rasa suka ke pria lain selain kamu. Ah, sebenarnya ini
rahasia. Yasudahlah. Dan Kamu, memiliki hati yang begitu rapuh. Sempat beberapa
kali kamu terlibat cinta dengan wanita lain. Aku berusaha untuk tidak
mempercayainya, tapi kenyataan itu begitu jelas adanya. Aku sempat bingung
dengan posisiku pada saat itu. Aku hanya ingin kejelasan sikap darimu, agar Aku
bisa menempatkan diri sesuai dengan kejelasan status kita. Jika memang kita
masih terlibat dalam hubungan itu, Aku akan bersikap menjadi pacar yang baik
untukmu, tapi jika sudah berteman saja, ya Aku pun akan bersikap sama, hanya
menjadi teman yang baik saja untukmu. Begitu banyak tekanan yang menghujamku,
sampai Aku mencapai titik dimana sudah tidak mau berpikir lagi. Tiga bulan
lamanya Aku tak mendapat kejelasan status itu dari Kamu. Dan dalam tiga bulan
itu juga tekanan untuk segera memutuskanmu semakin besar. Aku coba tahan itu
semua dengan melapangkan hati, Aku tetap menunggumu, karena Aku percaya padamu.
Mungkin Kamu juga dalam situasi yang bingung. Dan Aku tidak ingin membuatmu
bertambah bingung. Penantian yang cukup panjang selama tiga bulan itu akhirnya
menghasilkan kebaikan. Kamu kembali padaku dan memohon maaf. Aku mengerti, Pria
itu lebih mudah terayu, dan inilah resiko hubungan kita. Hubungan dengan bentangan
jarak.
Inilah kisah cinta yang indah,
cinta tanpa sentuhan. Jika kita bertemu pun hal yang kita lakukan hanya
mengobrol, nonton, pergi ke toko buku, pergi ke pameran seni, berkunjung ke
pentas seni, dan hal-hal lain. Kita sangat jarang sekali bertemu. Entahlah rasa
apa ini, jika bertemu denganmu rasanya mulut ini kelu. Aku yang selalu cerewet
dalam dunia telekomunikasi mendadak menjadi bisu ketika harus bertemu. Terlalu
banyak hal yang ingin Aku ungkapankan, tapi yang terjadi adalah mendadak aku
tidak bisa menyusun kata-kata.

0 comments:
Post a Comment