Saturday, January 26, 2013

MUNDUR

Katanya akan baik-baik aja? Kenapa sekarang mundur perlahan?

Karena Aku wanita, yang selalu punya jutaan prasangka.” Aku sunggingkan senyum kecilku, setengah tulus, karena ada luka yang tidak menggenapkannya.

“Kenapa tidak dari awal kamu sesadar ini?”

Dari awal memang sudah sadar. Dan itu adalah tindakan yang begitu sadar. Dan Aku sadar, tak semua wanita berpikir sepertiku, begitupun Kamu.”

Kamu pun tersenyum, “… Ya, memang! Dan Aku begitu sadar dengan keanehanmu ..” Kamu seruput lagi secangkir teh panas yang terus menerus mengepulkan asapnya ke angkasa.

Aku melirik ke arahmu, ada senyum tulus yang benar-benar Aku lihat menghiasi wajahmu, manis. Iya manis sekali. Pantas saja banyak pria yang memujamu, tapi tetap, hanya Kau labuhkan hatimu padanya, lelaki beruntung itu. Andai itupun dapat aku lakukan … andai ..

Ada yang salah? Apa yang kamu lihat?”

Ketulusan dari kepulan asap, tulus membumbung meninggalkan genangan teh yang hangat dan  menyegarkan, menyapu seluruh wajahmu, sungguh tulus … padahal asap itu belum tentu mendapatkan tempat yang layak dan senyaman seperti di dalam segelas cangkir teh itu … iya, nyaman, mungkin! asap itu terus naik ke atas, tanpa takut, walau angin menerbangkannya entah kemana, asap tetap mengikutinya … asap …

Andai manusia pun dapat seperti itu, memasrahkan segalanya kepada sang Pencipta, hanya menerima tanpa memerintah dan meminta… tapi tentu bukan kodratnya, karena manusia tertakdir untuk salah, seperti kamu, mencintai orang yang salah ..”

Tidak ada cinta yang salah, dan tidak ada mencintai orang yang salah …

Ini yang kamu bilang mundur pelan-pelan? … mundur di tempat mungkin istilahnya jika kamu tetap seperti itu.”

Mundur bukan berarti tak berjejak, dan jejak bukanlah kesalahan, karena jejak adalah tanda hidup

Hidup pada kepedihan dan pesakitan adalah bukan hidup, tapi hidup dalam kematian.”


“Jika begitu, Aku telah mengalami hidup dalam kematian yang begitu indah”

“Kamu gila !“

“Aku gila karena mencinta … Dan Aku cinta karena Penciptaku yang Maha Pemurah … Menjadikanku wanita beruntung yang pernah mengalami tuduhan sebagai perusak dan yang ketiga … Aku terima karena kasih dan Cinta sang penciptaku .. Sang Maha Penyayang .” Kembali kukembangkan senyum, mungkin belum genap, tapi hampir mendekati kegenapan ketulusan.

“Dan Kamu berbicara seolah predikat itu yang akan menghantarkanmu ke surga … sungguh , tak pernah habis kupikir.”

“Memang … “

“Mundur perlahan, dan segera balik kanan … maka mundur itu adalah langkah kedepanmu yang utuh, dengan jejak sebagai tanda kehidupannya.

“Akan Aku lakukan denga caraku sendiri .. dan akan aku lakukan semampuku. Karena mulai sekarang Aku tak ingin menyakiti siapapun lagi .. tak ingin, dan itu adalah harapan, yang kadang terwujud, kadang juga tidak. Akan Aku usahakan. Aku tak akan mengganggu kehidupan siapapun lagi … tidak akan. Aku akan menjalani kehidupan sebagai wanita, bukan pengganggu bagi wanita lain. ”

“Dan Aku akan selalu mendoakanmu, dalam setiap langkah dan sujud, gerak dan takbirku. Aku senang melihatmu akhirnya sampai pada titik memikirkan sesama … wanita. Tidak semua wanita sehebat dan sekuat kamu … Dan laki-laki itu cukup bo …”

Penilaianmu tidak cukup kuat. Bahkan cenderung sebagai penyalahan, bukan penialaian. Karena Dia adalah laki-laki baik, yang sama-sama belajar mencinta dan dicinta … hanya saja Aku bukanlah bagian dari masa depannya, maka Aku mundur perlahan …”




0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis