Kamu terus menangis, semua orang
yang melewati meja tak henti mencuri pandang ke arah kita. Tak hanya yang
melewati meja, yang sedang duduk seperti kita pun melakukan hal yang sama,
mencuri pandang ke arah kita. Akhirnya Aku pun bertanya, "Mengapa Kamu menangis?".
Jawaban yang kamu utarakan begitu mengagetkan, "apakah semua harus punya
alasan? apakah selama ini Aku selalu bertanya MENGAPA terhadapmu?"
Sontak Aku diam. Berusaha
mengingat. Ah, benar. Ternyata Kamu tidak pernah bertanya "mengapa".
Setiap Aku senang, Kamu hanya mengucapkan, "Aku turut berbahagia"
tanpa bertanya "mengapa Aku begitu bahagia?". Begitupun ketika Aku
sedih, "Aku disini, Tuhan bersamamu, hapuslah sedih itu". Aku ingat
betul kata-kata itu. Dan Aku selalu, memaparkan sebab musababku marasa sedih dan
senang. Tanpa Kamu bertanya mengapa. Karena Aku yakin Kamu mendengarkanku. Aku
pun tak ragu. Karena Kamu begitu mengenalku. Inilah yang membuatku merasa
bodoh, Aku yang tak bisa belajar mengenalmu dengan baik. Atau mungkin Kamu yang
tidak bisa Aku baca dan selalu menutup diri. entahlah ...
"Minumlah air ini, mungkin
bisa membuatmu tenang." Kamu meminum segelas air putih yang kamu pesan
itu. Menangis membuatmu haus ternyata. Kamu masih terus menangis, dengan isakan
yang membuatku sesak. "Apapun akan Aku lakukan untukmu, tapi tolong,
hapuslah kesedihanmu itu." Isakanmu perlahan mereda. Aku pun sedikit
tenang. Pandanganmu tetap sayu, penuh kesedihan. Seiring dengan meredanya
isakanmu, bisikan-bisikan halus disekitar kita mulai terdengar, "kasian perempuan
itu, pasti dia korban perselingkuhan lelaki itu.", "apa tidak malu
menangis di tempat umum, dasar anak muda.", tak kucerna kata-kata
orang-orang itu, persetan dengan mereka, Aku hanya ingin kata-kata darimu. Apa
yang menyebabkanmu sedih, hingga Kamu menangis seperti ini.
"Kita pulang ya."
hanya kata-kata itu yang kamu ucapkan. "baiklah". Sepanjang
perjalanan pulangpun Kamu tetap terdiam, Aku tak berani membuka pembicaraan.
Tapi banyak sekali pertanyaan yang bersarang di otakku. Dan hanya Kamu yang mengetahui
jawaban dari semua pertanyaanku. "Hati-hati, terimakasih." Kamu turun
dari mobilku dengan meninggalkan pertanyaan-pertanyaan dalam otakku.
"iya." Akupun tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata lain.
Sudah dua hari Kamu tak
mangebariku. Aku pun semakin gelisah. Akhirnya Aku beranikan untuk
menghubungimu. “hey, apa kabar?” ternyata tidak terkirim. Aku coba untuk
menelfonmu, nomormu sudah tidak aktif. Kegelisahan ini semakin menjadi-jadi.
Aku putuskan untuk pergi ke kontrakanmu. Nihil. Kamu sudah tidak ada disana.
Lemas, lutut ini lemas, tak sanggup rasanya menahan berat tubuhku ini.
Kini Aku benar-benar
kehilanganmu, hilang dengan segala jawaban atas pertanyaanku tentangmu.
Dimanapun Kamu sekarang, semoga Kamu baik-baik saja dan bahagia. Aku teringat
sesuatu. Aku cari nomor Ibumu di ponselku. Aku temukan.
“selamat siang bu, maaf
mengganggu. Ini gege .. “
“siang, oh iya gege, keke sering
menceritakanmu .. “
“Keke ada di rumah bu?”
“Loh, bukannya Kekek ada di
Jogja? Gak sama Nak Gege toh? Dua hari kemarin Kekek telfon Ibu. Handphonenya
rusak, satu minggu baru selesai diperbaiki, jadi Kekek pesen ke Ibu jangan dulu
menghubungi Keke. Kemarin Kekek nelfon juga lewat wartel. Ada apa sebenernya
nak gege? Ibu kok jadi khawatir”
“Oh enggak bu, mungkin Kekek sedang
ada kegiatan lain. Kami beda kegiatan. Ini saya meu mengembalikan buku tapi
Keke sedang tidak di kosan. Saya piker Kekek pulang. Makasi Bu.”
“Iya iya, Kalo ada apa-apa
tolong kabari Ibu ya nak, nitip Keke.”
“Iya Bu,”
Aku semakin tidak mengerti
dengan alur cerita ini. Seminggu? Baiklah, Aku akan menunggu. Tiba-tiba
handphoneku bergetar, satu pesan masuk,
“ Sayang, masih dimana? Aku tunggu ditempat biasa ya :) “

0 comments:
Post a Comment