Wednesday, January 9, 2013

KEKE

Kamu terus menangis, semua orang yang melewati meja tak henti mencuri pandang ke arah kita. Tak hanya yang melewati meja, yang sedang duduk seperti kita pun melakukan hal yang sama, mencuri pandang ke arah kita. Akhirnya Aku pun bertanya, "Mengapa Kamu menangis?". Jawaban yang kamu utarakan begitu mengagetkan, "apakah semua harus punya alasan? apakah selama ini Aku selalu bertanya MENGAPA terhadapmu?"

Sontak Aku diam. Berusaha mengingat. Ah, benar. Ternyata Kamu tidak pernah bertanya "mengapa". Setiap Aku senang, Kamu hanya mengucapkan, "Aku turut berbahagia" tanpa bertanya "mengapa Aku begitu bahagia?". Begitupun ketika Aku sedih, "Aku disini, Tuhan bersamamu, hapuslah sedih itu". Aku ingat betul kata-kata itu. Dan Aku selalu, memaparkan sebab musababku marasa sedih dan senang. Tanpa Kamu bertanya mengapa. Karena Aku yakin Kamu mendengarkanku. Aku pun tak ragu. Karena Kamu begitu mengenalku. Inilah yang membuatku merasa bodoh, Aku yang tak bisa belajar mengenalmu dengan baik. Atau mungkin Kamu yang tidak bisa Aku baca dan selalu menutup diri. entahlah ...

"Minumlah air ini, mungkin bisa membuatmu tenang." Kamu meminum segelas air putih yang kamu pesan itu. Menangis membuatmu haus ternyata. Kamu masih terus menangis, dengan isakan yang membuatku sesak. "Apapun akan Aku lakukan untukmu, tapi tolong, hapuslah kesedihanmu itu." Isakanmu perlahan mereda. Aku pun sedikit tenang. Pandanganmu tetap sayu, penuh kesedihan. Seiring dengan meredanya isakanmu, bisikan-bisikan halus disekitar kita mulai terdengar, "kasian perempuan itu, pasti dia korban perselingkuhan lelaki itu.", "apa tidak malu menangis di tempat umum, dasar anak muda.", tak kucerna kata-kata orang-orang itu, persetan dengan mereka, Aku hanya ingin kata-kata darimu. Apa yang menyebabkanmu sedih, hingga Kamu menangis seperti ini.

"Kita pulang ya." hanya kata-kata itu yang kamu ucapkan. "baiklah". Sepanjang perjalanan pulangpun Kamu tetap terdiam, Aku tak berani membuka pembicaraan. Tapi banyak sekali pertanyaan yang bersarang di otakku. Dan hanya Kamu yang mengetahui jawaban dari semua pertanyaanku. "Hati-hati, terimakasih." Kamu turun dari mobilku dengan meninggalkan pertanyaan-pertanyaan dalam otakku. "iya." Akupun tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata lain.

Sudah dua hari Kamu tak mangebariku. Aku pun semakin gelisah. Akhirnya Aku beranikan untuk menghubungimu. “hey, apa kabar?” ternyata tidak terkirim. Aku coba untuk menelfonmu, nomormu sudah tidak aktif. Kegelisahan ini semakin menjadi-jadi. Aku putuskan untuk pergi ke kontrakanmu. Nihil. Kamu sudah tidak ada disana. Lemas, lutut ini lemas, tak sanggup rasanya menahan berat tubuhku ini.

Kini Aku benar-benar kehilanganmu, hilang dengan segala jawaban atas pertanyaanku tentangmu. Dimanapun Kamu sekarang, semoga Kamu baik-baik saja dan bahagia. Aku teringat sesuatu. Aku cari nomor Ibumu di ponselku. Aku temukan.

“selamat siang bu, maaf mengganggu. Ini gege .. “
“siang, oh iya gege, keke sering menceritakanmu .. “
“Keke ada di rumah bu?”
“Loh, bukannya Kekek ada di Jogja? Gak sama Nak Gege toh? Dua hari kemarin Kekek telfon Ibu. Handphonenya rusak, satu minggu baru selesai diperbaiki, jadi Kekek pesen ke Ibu jangan dulu menghubungi Keke. Kemarin Kekek nelfon juga lewat wartel. Ada apa sebenernya nak gege? Ibu kok jadi khawatir”
“Oh enggak bu, mungkin Kekek sedang ada kegiatan lain. Kami beda kegiatan. Ini saya meu mengembalikan buku tapi Keke sedang tidak di kosan. Saya piker Kekek pulang. Makasi Bu.”
“Iya iya, Kalo ada apa-apa tolong kabari Ibu ya nak, nitip Keke.”
“Iya Bu,”

Aku semakin tidak mengerti dengan alur cerita ini. Seminggu? Baiklah, Aku akan menunggu. Tiba-tiba handphoneku bergetar, satu pesan masuk,
Sayang, masih dimana? Aku tunggu ditempat biasa ya :)

0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis