“Katanya akan baik-baik aja? Kenapa sekarang mundur perlahan?”
“Karena Aku wanita, yang selalu punya jutaan prasangka.” Aku
sunggingkan senyum kecilku, setengah tulus, karena ada luka yang tidak
menggenapkannya.
“Kenapa tidak dari awal kamu sesadar ini?”
“Dari awal memang sudah sadar. Dan itu adalah tindakan yang
begitu sadar. Dan Aku sadar, tak semua wanita berpikir sepertiku, begitupun
Kamu.”
Kamu pun tersenyum, “… Ya, memang! Dan Aku begitu sadar
dengan keanehanmu ..” Kamu seruput lagi secangkir teh panas yang terus menerus mengepulkan
asapnya ke angkasa.
Aku melirik ke arahmu, ada senyum tulus yang benar-benar Aku
lihat menghiasi wajahmu, manis. Iya manis sekali. Pantas saja banyak pria yang
memujamu, tapi tetap, hanya Kau labuhkan hatimu padanya, lelaki beruntung itu.
Andai itupun dapat aku lakukan … andai ..
“Ada yang salah? Apa yang kamu lihat?”
“Ketulusan dari kepulan asap, tulus membumbung meninggalkan
genangan teh yang hangat dan menyegarkan, menyapu seluruh wajahmu, sungguh tulus … padahal
asap itu belum tentu mendapatkan tempat yang layak dan senyaman seperti di
dalam segelas cangkir teh itu … iya, nyaman, mungkin! asap itu terus naik ke
atas, tanpa takut, walau angin menerbangkannya entah kemana, asap tetap
mengikutinya … asap … “
“Andai manusia pun dapat seperti itu, memasrahkan segalanya
kepada sang Pencipta, hanya menerima tanpa memerintah dan meminta… tapi tentu
bukan kodratnya, karena manusia tertakdir untuk salah, seperti kamu, mencintai
orang yang salah ..”
“Tidak ada cinta yang salah, dan tidak ada mencintai orang
yang salah … “
“Ini yang kamu bilang mundur pelan-pelan? … mundur di tempat
mungkin istilahnya jika kamu tetap seperti itu.”
“Mundur bukan berarti tak berjejak, dan jejak bukanlah
kesalahan, karena jejak adalah tanda hidup”
“Hidup pada kepedihan dan pesakitan adalah bukan hidup, tapi
hidup dalam kematian.”
“Jika begitu, Aku telah mengalami hidup dalam kematian yang
begitu indah”
“Kamu gila !“
“Aku gila karena mencinta … Dan Aku cinta karena Penciptaku
yang Maha Pemurah … Menjadikanku wanita beruntung yang pernah mengalami tuduhan
sebagai perusak dan yang ketiga … Aku terima karena kasih dan Cinta sang
penciptaku .. Sang Maha Penyayang .” Kembali kukembangkan senyum, mungkin belum
genap, tapi hampir mendekati kegenapan ketulusan.
“Dan Kamu berbicara seolah predikat itu yang akan
menghantarkanmu ke surga … sungguh , tak pernah habis kupikir.”
“Memang … “
“Mundur perlahan, dan segera balik kanan … maka mundur itu
adalah langkah kedepanmu yang utuh, dengan jejak sebagai tanda kehidupannya.”
“Akan Aku lakukan denga caraku sendiri .. dan akan aku
lakukan semampuku. Karena mulai sekarang Aku tak ingin menyakiti siapapun lagi
.. tak ingin, dan itu adalah harapan, yang kadang terwujud, kadang juga tidak.
Akan Aku usahakan. Aku tak akan mengganggu kehidupan siapapun lagi … tidak
akan. Aku akan menjalani kehidupan sebagai wanita, bukan pengganggu bagi wanita
lain. ”
“Dan Aku akan selalu mendoakanmu, dalam setiap langkah dan
sujud, gerak dan takbirku. Aku senang melihatmu akhirnya sampai pada titik
memikirkan sesama … wanita. Tidak semua wanita sehebat dan sekuat kamu … Dan
laki-laki itu cukup bo …”
“Penilaianmu tidak cukup kuat. Bahkan cenderung sebagai
penyalahan, bukan penialaian. Karena Dia adalah laki-laki baik, yang sama-sama
belajar mencinta dan dicinta … hanya saja Aku bukanlah bagian dari masa
depannya, maka Aku mundur perlahan …”