Dan Aku memang begitu
perasa, seperti layaknya wanita lain, semoga Kamu tahu. Setelah pengikraran Kamu
dan Dia, ada kekeluan yang selalu Aku jaga. Aku jaga dan tutup rapat. Ada
sebuah perasaan bersalah ketika kita harus berjumpa, Dia. Dia masih membayangi seluruh
isi kepalaku. Apakah Dia akan sanggup menerima kepedihan semacam ini? Seperti
kepedihan yang selalu Aku rasa setelah Dia hadir kembali dalam hidupmu. Ada
semacam rasa yang entah apa namanya jika Aku dan Kamu berdua. Tentu sejak Dia
hadir. Aku coba bersihkan terkaan dan pradugaku sendiri. Aku luruskan kembali
pemikiranku tentang Kamu dan Dia. Namun tetap, pelik.
Pergi ke toko buku,
mengobrol, berdiskusi, berolahraga, berkebun, dan semua hal yang hanya Aku dan
Kamu lakukan tanpa siapapun lagi, itu berubah menjadi hal yang menyakitkan. Apa
yang akan terjadi jika Dia tahu. Mungkin yang akan Dia pikirkan hanya satu,
penghianatan. Tapi apakah boleh Aku membela diri? Aku yang terkhianati! Aku
korban! Aku! Tapi apakah itu harus? Tentu tidak. Tidak perlu ada orang yang
tahu bahwa Aku tehianati. Biarkan saja orang menyangka Akulah yang bersalah. Cukup.
***
Sejenak, Aku pandangi
Kamu yang sedang menikmati secangkir kopi yang Aku buat. Kamu begitu
menikmatinya. “Hei, kenapa melamun?”.
Aku tersadar. “Tidak, Aku akan menyiapkan
air hangat untuk kamu mandi, sebentar,” Aku bangkit dari kursi dan segera
ke dapur. Aku terus berpikir, Aku terus sibuk dengan terkaan dan pradugaku. Bagaimana
jika Dia tahu. Akankah Kamu membelaku dan pergi denganku, atau sebaliknya.
Semuanya begitu rumit.
Aku coba menyibukkan
diri selagi menunggu Kamu mandi. Menulis. Itulah yang selama ini menguatkan.
Tak ada kawan, ataupun sahabat yang bisa Aku ajak untuk membagi cerita. Karena Aku
tak siap mendengar bahwa kamulah penjahat dalam cerita manis kita ini. Tak
semua orang mengerti posisi kita. Dan mereka, orang-orang terbaik dalam
hidupku, sahabat, pasti akan menyalahkanmu. Aku tak ingin hal itu terjadi.
Jadi, cukuplah menulis menjadi sahabatku kini. Keluarga? Tidak. Aku hanya ingin
mereka tau Aku bahagia. Aku tulis segala yang ada di pikiranku, tentu tak akan
mendapat respon secara langsung. Percayalah, laptop ini tak memiliki perasaan. Paragraf
demi paragraf mulai mengotori layar, tidak ada kejelasan susunan kata tiap
kalimatnya, S-P-O-K yang selalu diajarkan di sekolahpun tak Aku perdulikan,
hanya ingin menulis. Menulis semuanya.
“Sedang apa sayang?”. “Hanya
mengerjakan sesuatu hal untuk menenangkan hati.” Aku kembangkan senyumanku.
“Kamu sedih?”. Aku gelengkan kepala,
“Tidak. Tidak ada alasan untuk Aku
bersedih selama Kamu tetap disini.” Kamu duduk dihadapnku kini. Kamu tatap
mataku lembut. Ahh cukup, Aku tidak akan sanggup dengan tatapan ini, tatapan
yang awalnya begitu menggetarkan, kini berubah menjadi getar kegetiran. Aku
berdosa pada Dia. Begitu bersalahnya Aku pada Dia. Kini, sisi perempuanku yang
berpikir. “Aku menyayangi kamu tulus. Dan
Aku begitu mengagumimu. Sampai
kapanpun, perasaan ini tak akan padam.” Kamu ucapkan kalimatb itu sambil
memegang kedua tanganku. Masih dengan tatapan yang sama. Aku beranikan untuk
berbicara,“Hiduplah dengan masa lalumu,
dan Aku akan baik-baik saja.” Kamu peluk Aku. Pelukan yang pada akhirnya
menjadi hal yang Aku takutkan. Banyak hal yang biasa kita lakukan bersama, yang
dulunya adalah kesenangan, sekarang berubah menjadi hal yang menakutkan. Aku
takut. “Aku akan selalu disini, menjagamu.”
Kamu lepaskan pelukan itu dan kembali Kamu genggam tanganku. “ Kenapa harus bertemu Dia sebelum Kamu?
Apakah Aku harus protes pada Tuhan?”.Aku begitu terkejut mendengar
ucapanmu. Itupun hal yang sama yang Aku pikirkan. Tapi Aku kelu. Aku lepaskan
genggamanmu, dan Aku baringkan tubuhku di ranjang. Aku ambil selimut
merahku. Kamu baringkan tubuhmu juga.
“Aku selalu merasa menjadi pengecut. Aku mencintai Dia, dan mengagumimu.
Ini adalah hal yang sulit. Bukan hanya hubungan kita. Aku dan Dia, bukan
hubungan yang semudah dongeng-dongeng itu ceritakan. Itu adalah perjalanan
panjang yang selalu membuat dada ini menyempit, sesak.” Kamu terus menatap
langit-langit kamar. Aku posisikan badanku menghadap kamu.”Segera lebarkan dadamu itu, agar terus terasa lapang. Karena sekarang
Dia sudah menjadi milikmu. Jalanilah kehidupan kalian seperti yang telah kalian
rencanakan. Dan Aku tetap disini, untuk Kamu.” Sekarang, posisi kita saling
berhadapan. “Apa kamu yakin dengan apa
yang kamu ucapkan? Aku bingung. Aku sangat bingung.” Aku tersenyum. “Itu artinya kamu adalah lelaki yang
bertanggung jawab. Dia akan sangat bersyukur memiliki suami sepertimu.” “Kenapa Kamu begitu baik?” “Karena Tuhan menginginkannya demikian”. Kamu
terdiam. “Sudahlah, jangan terlalu
berpikir rumit seperti itu, Jika ada yang perlu disalahkan sudah jelas itu Aku
orangnya. Aku yang lebih memilih dinikahkan secara sirih olehmu 3 tahun lalu,
Aku yang masih tetap berjalan ketika kamu sudah mengajakku berlari, dan … “
kamu menutup mulutku pelan. “ Tidak usah
kamu lanjutkan, itu hanya akan menyakitimu sendiri, kehadiran Aku dan Dia saja
sudah menyakitkan untukmu.”. Benar apa yang kamu ucapkan.
***
Kamu lemparkan
ingatanmu ke masa itu, kejadian hari itu, sebelum malam yang menjadi akhir dari
malam panjangku. Sebelum akhirnya Aku putuskan untuk membaca email darimu.
Hari dimana menunggumu satu detik saja berasa satu windu. Dan itu adalah siang
terakhir kita bertatap muka. Aku ingat betul ketika pagi hari Kamu pergi
meninggalkan bekas pelukan hangat dan pulang dalam keadaan bahagia serta bingung,
bahagia karena kamu menjadi Ayah, dan bingung dengan hal-hal yang selama ini
menjadi praduga dan terkaanku juga. Dan siang itu pertemuan kitapun tak lama, kamu minum kopi, mandi, dan Kita berbaring di ranjang yang sama hanya untuk sekedar mengobrol dan berbicara dari hati ke hati, setelah itu Kamu pergi menemui masa depanmu dari masa lalumu. Pergi, benar-benar pergi. Hingga Aku benar-benar merasa kosong dan hanya email itu jejakmu terakhir.
“Ayah, ini kuburan siapa?”. Lamunanmu terbuyarkan oleh pertanyaan
itu. Ahh, itu putri kecilmu yang sangat cantik. Baru kali ini kamu membawanya
ke kuburanku. “Ini kuburan orang yang
Ayah sayangi dan Ayah kagumi, lihat, nama kalian sama, Megi. Nama kamu, Ayah
ambil dari nama tante Megi.” Kamu kirimkan doa-doa yang selalu membuatku
lebih tenang dan ringan. “Hai tante Megi,
aku Megi. Harusnya kita bisa bertemu, Aku ingin melihat orang yang begitu Ayah
kagumi. Tante pasti cantik dan baik. Dan sekarang pasti tante menjadi bidadari
di surga”. Kamu peluk Megi kecil. “Tentu
sayang, tante Megi pasti menjadi bidadari di surga”. “Ayah harus mengajakku jika kesini lagi, akan aku bawakan bunga mawar
putih untuk tante Megi.” Kamu meneteskan air mata. Megi kecil
mengingatkanmu padaku. Seorang anak 4,5 tahun bisa begitu nyamannya pergi ke
sebuah kuburan yang bahkan tidak dikenalinya. “Kenapa Ayah tidak mengajak ibu kesini?” Tanya Megi. Kamu agak
sedikit gagap menjawabnya, “Karena Ibu akan
cemburu kepada tante Megi.” Kamu mencium pipi Megi kecil. Dan Megi tertawa. Kamu pun juga. Pemandangan
yang sangat indah. Tawa kalian begitu sama. Aku bisikkan pada Tuhan, “Tuhan, tetap bahagiakan mereka”.
***
Terkaan dan praduga yang
selama ini Aku sembunyikan rapat-rapat adalah tentang perasaanmu terhadap Dia
dan posisiku kini. Namun semuanya begitu nyata ketika siang itu Kamu ungkapkan
semua. Dan jelas, Kamu tidaklah bersalah. Karena ini adalah garis Tuhan. Rasa
bersalah yang selalu Kamu simpan sejak Kamu tak kembali hadir, menjadi cambuk
untukmu agar selalu menjaga dan membahagiakan keluarga. Kamu adalah laki-laki
yang baik.
***
Betapa
cinta yang selalu Kau puja adalah semu.
Ketika
raga sudah berpisah dengan jiwa, dan cinta itu tetap tumbuh, itulah nyata..
Pujalah
cinta yang nyata, Cinta pada pencipta, Tuhan.
- The End -

0 comments:
Post a Comment