Dan Aku tidak seberani wanita-wanitaMu. Dan dalam
diamku, kesakitan ini Aku pelihara. Resiko, buah dari sikap yang Aku ambil
sendiri. Menjalani hal ini bukanlah keburukan, tapi keindahan. Keindahan yang
melahirkan racun yang menyayat setiap waktunya. Sayatan yang semakin melebar
dan dipenuhi garam keperihan yang entah sampai kapan akan berhenti memperbanyak
diri.
Mengisi segala omong kosong. Mengagumi keperihan. Dan memuja kesakitan.Kesakitan akan sebuah rasa indah yang tak pernah berakhir dan tak berujung.Menghilangkan kebekuan dengan mendekap bongkahan salju. Beku.Membiarkan air berjatuhan bersamaan. Sendiri.
Karena Kamu, ciptaan-Nya yang begitu indah dan mempesona. Tidak hanya
Aku pemujanya, dan bukan lagi seberapa.
Karena Kamu, aku belajar bersyukur, pada-Nya, Tuhan,
penciptaku yang tiada kunjung habis memberikan kejutan-kejutan indah dalam
setiap tangga kehidupan yang aku injak. Entah kata apalagi yang harus aku eja
selain bersyukur.
Karena Kamu, bukan milikKu seutuhnya. Kamu milik-Nya.
Dan penciptaanMu bukan atas ijinku, tapi atas ijin-Nya. Dan hal yang terjadi
pada kita pun atas ijin-Nya. Dan Aku mensyukurinya.
Karena Kamu, sungguh mempesona.

0 comments:
Post a Comment