Sunday, December 9, 2012

Orang Ketiga

Kamu dan Dia sama-sama menyukai, dan tiba-tiba Aku datang diantara kalian. Tunggu, jangan menghakimi Aku. Ahh, sudahlah, terserah saja. Lagipula Aku tak perduli. Bukan kali pertama atau ini yang kedua kalinya aku disebut sebagai perusak hubungan orang atau orang ketiga. Sudah berulangkali hal itu menimpaku, tapi lihat? Aku tidak mati. Aku hanya mati dalam kehidupan yang disebut Cinta. Aku benar-benar mati. Entahlah apa yang salah dalam diriku ini. Selalu merasa nyaman berkawan dengan laki-laki. Aku pikir itu tidak ada yang salah selama segala aturan dan batasan masih terus diemban. Dan apakah harus Aku juga yang disalahkan jika para laki-laki itu merasa nyaman berteman denganku? Akan aku lebih spesifikkan lagi. Laki-laki yang sudah memiliki status dengan wanita lain. Aku hanya sebagai Aku. Aku pun selalu membatasi diri, tapi jika ada hal yang di luar kemampuan Aku terjadi, apakah tetap Aku yang harus disalahkan? Jika sudah terjadi seperti ini, lantas siapa yang memikirkan perasaanku? Apakah aku memang benar-benar pantas untuk diabaikan dan selalu terabaikan? Aku sama seperti kalian! Para wanita!



Aku hisap kembali aroma secangkir kopi toraja, hanya untuk memadamkan segala kemurkaan yang bersarang di otak. Murka terhadap perlakuan mereka. Para wanita. Aku sapukan pandanganku ke sekeliling. Dan Aku temui banyak mata yang bertemu pandang dengan mataku, para lelaki. Pandanganku teralihkan seiring dengan menyalanya LED smartphoneku. “Sayang, lagi dimana?”. Itu pesan yang Aku baca. Sejenak tak ku perdulikan pesan darimu. Tidak. Aku tidak marah padamu. Aku dan Kamu bukanlah pasangan sebagai pacar. Kamu sudah berpacaran dengan Dia. Dan Aku hadir diantara kalian. Yah, silahkan saja sebut Aku apa. Awalnya, Aku dan Kamu berteman seperti biasa, sampai akhirnya muncul suatu rasa yang kita bedua definisikan sebagai rasa suka, suka, sama seperti Kamu dan Dia, saling menyukai. “Sedang di tempat biasa, berkencan dengan kopi toraja.” Aku balas tanpa tanda tanya. “Aku kesana ya sekarang, tunggu.” “Oke”. Setengah cangkir ini telah hilang dari tempatnya. Kamu datang. Seperti layaknya orang yang saling suka, Aku senang melihatmu. Kita menghabiskan sore itu berdua, mendiskusikan berbagai hal, dari mulai sastra, sosial, politik, ekonomi. Yah, Aku tidak terlalu bodoh untuk diajak berdiskusi tentang hal-hal tersebut. Sore itu harus berakhir ketika kamu mendapat telfon dari Dia. Kamu pergi dan Aku tersenyum. Inilah hidup, datang dan pergi.



Aku hempaskan tubuhku di ranjang. Berguling dan terus berpikir. Benarkah Aku yang salah hadir diantara Kamu dan Dia? Atau Kamu dan Dialah pencipta kesalahan itu? Apakah kehadiranku di antara Kamu dan Dia adalah kesalahan? Apakah Aku bodoh bertanya hal itu? Banyak hal yang sebenarnya mengganggu pikiranku. Dari mulai mendengar kata-kata orang, “Kamu kan cewek, punya hati gak si?  ngerebut cowok orang! Gak malu apa? Ada ya orang setega kamu?” sampai kata-kata lain yang lebih menyakitkan dari itu. Apakah mereka tidak pernah berfikir bahwa Aku juga wanita biasa yang rapuh oleh hal-hal tertentu. Rasa itu lahir dengan tersendirinya. Dan haruskah Aku lagi yang memupuskan rasa itu untuk kebahagiaan orang lain? Dan itukah keadilan?



Coba renungkan! Jangan hanya menyalahkan orang ketiga sebagai perusak hubungan kalian. Selami hati kalian masing-masing. Akan banyak noda hitam yang kalian temui. Dan itulah pihak ketiga yang nyata. Hitamnya hati yang tertutup rasa egois dan cemburu yang menggenapkan, menggenapkan kebutaan hati, hati yang hitam dan kotor oleh prasangka yang tidak berpenjelasan nyata.









Satu gelas air hangat dan pillows rasa ubi


0 comments:

Post a Comment

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis