Kamu dan Dia sama-sama
menyukai, dan tiba-tiba Aku datang diantara kalian. Tunggu, jangan menghakimi
Aku. Ahh, sudahlah, terserah saja. Lagipula Aku tak perduli. Bukan kali pertama
atau ini yang kedua kalinya aku disebut sebagai perusak hubungan orang atau
orang ketiga. Sudah berulangkali hal itu menimpaku, tapi lihat? Aku tidak mati.
Aku hanya mati dalam kehidupan yang disebut Cinta. Aku benar-benar mati. Entahlah
apa yang salah dalam diriku ini. Selalu merasa nyaman berkawan dengan
laki-laki. Aku pikir itu tidak ada yang salah selama segala aturan dan batasan
masih terus diemban. Dan apakah harus Aku juga yang disalahkan jika para
laki-laki itu merasa nyaman berteman denganku? Akan aku lebih spesifikkan lagi.
Laki-laki yang sudah memiliki status dengan wanita lain. Aku hanya sebagai
Aku. Aku pun selalu membatasi diri, tapi jika ada hal yang di luar kemampuan
Aku terjadi, apakah tetap Aku yang harus disalahkan? Jika sudah terjadi seperti
ini, lantas siapa yang memikirkan perasaanku? Apakah aku memang benar-benar
pantas untuk diabaikan dan selalu terabaikan? Aku sama seperti kalian! Para
wanita!
Aku hisap kembali aroma
secangkir kopi toraja, hanya untuk memadamkan segala kemurkaan yang bersarang
di otak. Murka terhadap perlakuan mereka. Para wanita. Aku sapukan pandanganku
ke sekeliling. Dan Aku temui banyak mata yang bertemu pandang dengan mataku,
para lelaki. Pandanganku teralihkan seiring dengan menyalanya LED smartphoneku. “Sayang, lagi dimana?”.
Itu
pesan yang Aku baca. Sejenak tak ku perdulikan pesan darimu. Tidak. Aku
tidak marah padamu. Aku dan Kamu bukanlah pasangan sebagai pacar. Kamu
sudah berpacaran dengan
Dia. Dan Aku hadir diantara kalian. Yah, silahkan saja sebut Aku apa.
Awalnya,
Aku dan Kamu berteman seperti biasa, sampai akhirnya muncul suatu rasa
yang kita bedua definisikan sebagai rasa suka, suka, sama seperti Kamu
dan Dia, saling menyukai. “Sedang di tempat biasa, berkencan dengan kopi toraja.” Aku balas tanpa tanda tanya. “Aku
kesana ya sekarang, tunggu.” “Oke”. Setengah cangkir ini telah hilang dari
tempatnya. Kamu datang. Seperti layaknya orang yang saling suka, Aku senang
melihatmu. Kita menghabiskan sore itu berdua, mendiskusikan berbagai hal, dari
mulai sastra, sosial, politik, ekonomi. Yah, Aku tidak terlalu bodoh untuk
diajak berdiskusi tentang hal-hal tersebut. Sore itu harus berakhir ketika kamu
mendapat telfon dari Dia. Kamu pergi dan Aku tersenyum. Inilah hidup, datang
dan pergi.
Aku hempaskan tubuhku
di ranjang. Berguling dan terus berpikir. Benarkah Aku yang salah hadir
diantara Kamu dan Dia? Atau Kamu dan Dialah pencipta kesalahan itu? Apakah kehadiranku
di antara Kamu dan Dia adalah kesalahan? Apakah Aku bodoh bertanya hal itu?
Banyak hal yang sebenarnya mengganggu pikiranku. Dari mulai mendengar kata-kata
orang, “Kamu kan cewek, punya hati gak si?
ngerebut cowok orang! Gak malu apa? Ada ya orang setega kamu?” sampai
kata-kata lain yang lebih menyakitkan dari itu. Apakah mereka tidak pernah
berfikir bahwa Aku juga wanita biasa yang rapuh oleh hal-hal tertentu. Rasa itu
lahir dengan tersendirinya. Dan haruskah Aku lagi yang memupuskan rasa itu untuk kebahagiaan orang lain? Dan itukah keadilan?
Coba
renungkan! Jangan hanya menyalahkan orang ketiga sebagai perusak hubungan
kalian. Selami hati kalian masing-masing. Akan banyak noda hitam yang kalian
temui. Dan itulah pihak ketiga yang nyata. Hitamnya hati yang tertutup rasa
egois dan cemburu yang menggenapkan, menggenapkan kebutaan hati, hati yang
hitam dan kotor oleh prasangka yang tidak berpenjelasan nyata.
Satu
gelas air hangat dan pillows rasa ubi