Friday, December 21, 2012

Bayangan, Dia.

Apakah Kamu akan tetap hidup dengan masalalumu? Lantas Aku ini apa?


" Bukankah yang kamu cari adalah cahaya? lantas kenapa Kau masih saja menempatkan bayangan itu di depan langkahmu, sedangkan Cahaya yang kamu cari ada di depan? Itu mustahil! " Aku ucapkan itu dengan sedikit menahan emosi.

"  Tapi aku ... " 

" Kemustahilan yang Kamu jalani ini akan terus menjadi sia-sia, sadarlah! Apakah cahaya yang kamu cari itu terlalu menyilaukan? Sampai Kau masih menempatkan bayangan itu di depan langkahmu? " Tak terasa air mata ini pun ikut menetes perlahan. " Aku bukanlah wanita yang sangat kuat dan tegar dicintai setengah hati olehmu, dengan bayangan itu yang selalu dominan Kau cintai. Aku lelah. " Air mata ini kembali turun dengan sangat deras.

Kau dekap Aku. Dan Aku tak melawannya. Aku terus terisak dalam pelukanmu.

" Aku masih tetap belum bisa menempatkan bayangan itu dibelakangku ketika Aku harus berlari mengejar cahaya di depanku. " Akhirnya kata-kata itu Kau lontarkan. Dan perlahan, aku pun menghentikan tangisanku.

" Ijinkan Aku meredup, agar tidak ada lagi cahaya yang Kau kejar. Aku, cahaya yang ada di depan langkahmu, tapi Aku tetap tidak sanggup mengubah letak bayanganmu ke belakang. "

Aku pergi meninggalkanmu. Maafkan Aku. Segeralah belajar untuk mengambil keputusan. Menjalani  waktu kini denganmu untuk terus melahirkan adanya masa depan, tapi ternyata sulit. Karena masa depan yang akan terlahir dari waktu kini Aku dan Kamu terus tergrogoti oleh pekatnya bayangan masa lalumu, Dia.




Kendari, Sultra.
disaat Jus Pisang dan Bolu Pisang hanya ada dalam angan.

Tuesday, December 11, 2012

2012-Maret

Maret 2012


Alunan Biola, Petikan gitar, dan harmonisasi lainnya masih jelas terasa, dan para pemain begitu bahagia. Orchestra.


Seperti halnya mentari pagi yang terbit, seperti itulah bahagia. Akan terbit setelah duka ditenggelamkannya.

Berbeda namun menjadi alunan nada yang indah. Penuh pesona dalam cerita bahagia. Dan tawa adalah tandanya.


Terus mengayuh tanpa mengeluh, saling bantu bukan lempar batu.


Menyongsong masa dengan rasa

Rasa bersama yang takkan musnah

Mengalunkan syair cerita bahagia kita, seperti Orchestra


Indah dirasa begitupun nyatanya. Sahabat.



Maret : Bulan kedua dalam perkuliahan. Tak melengkungkan senyum ke tanah. Namun tetap terlengkung ke langit. 

* Konser ELBE BIG BAND yang bikin nagih
* Kejutan kado ulang tahun Dwi A 
* Jalan-jalan ke Pangandaran  

2012-Februari

Februari 2012

Senja itu akan selalu datang


Dan Sendiri di kursi penantian adalah ruang

  
Ruang untuk mensyukuri hilangnya sendiri , karena penantian seperti senja, selalu akan datang.
Kepada Tuhan segalanya berpusat

 Segala puji dan syukurhanya kepada-Nya, Alloh SWT.


Februari : Bulan kedua dengan sejuta aktivitas yang luar biasa. Membahagiakan kerabat dengan nada-nada yang mengalun indah. Terencana namun mengalir apa adanya Waktu menjadi sandungan, namun kepedulian menghempaskan segalanya. 

* BBQ sebagai acara pelengseran kepengurusan CAKRAWALA periode 2011
* Pembuatan video ulang tahun untuk Endah sekaligus surprise yang luar biasa indah
* Pertandingan bola basket Ratna (IBBAF 2011)
* Penampilan perkusi Ratna dan SASEFI di acara ILKOM



2012-Januari


Januari 2012

Kehidupan lalu yang telah kita jalani  akan selalu menjadi bayangan, maka terus menataplah ke depan dan berjalan.


Terus berjalan dengan mendengar, isyarat Tuhan.


Akan ada cahaya nyata yang Tuhan terbitkan


beranjak !


Karena jalan itu ada, dan begitu indah di depan. Jika bayangan tetap ada di tempatnya

Januari : Pembuka tahun yang begitu indah, menyenangkan. Segala puji dan syukur hanya kepada Engkau, Alloh SWT. Nikmat kesempatan untuk memaknai hidup lebih nyata. Memaknai perbedaan dan persahabatan. Keindahan dunia yang tak terkira.

Sunday, December 9, 2012

Orang Ketiga

Kamu dan Dia sama-sama menyukai, dan tiba-tiba Aku datang diantara kalian. Tunggu, jangan menghakimi Aku. Ahh, sudahlah, terserah saja. Lagipula Aku tak perduli. Bukan kali pertama atau ini yang kedua kalinya aku disebut sebagai perusak hubungan orang atau orang ketiga. Sudah berulangkali hal itu menimpaku, tapi lihat? Aku tidak mati. Aku hanya mati dalam kehidupan yang disebut Cinta. Aku benar-benar mati. Entahlah apa yang salah dalam diriku ini. Selalu merasa nyaman berkawan dengan laki-laki. Aku pikir itu tidak ada yang salah selama segala aturan dan batasan masih terus diemban. Dan apakah harus Aku juga yang disalahkan jika para laki-laki itu merasa nyaman berteman denganku? Akan aku lebih spesifikkan lagi. Laki-laki yang sudah memiliki status dengan wanita lain. Aku hanya sebagai Aku. Aku pun selalu membatasi diri, tapi jika ada hal yang di luar kemampuan Aku terjadi, apakah tetap Aku yang harus disalahkan? Jika sudah terjadi seperti ini, lantas siapa yang memikirkan perasaanku? Apakah aku memang benar-benar pantas untuk diabaikan dan selalu terabaikan? Aku sama seperti kalian! Para wanita!



Aku hisap kembali aroma secangkir kopi toraja, hanya untuk memadamkan segala kemurkaan yang bersarang di otak. Murka terhadap perlakuan mereka. Para wanita. Aku sapukan pandanganku ke sekeliling. Dan Aku temui banyak mata yang bertemu pandang dengan mataku, para lelaki. Pandanganku teralihkan seiring dengan menyalanya LED smartphoneku. “Sayang, lagi dimana?”. Itu pesan yang Aku baca. Sejenak tak ku perdulikan pesan darimu. Tidak. Aku tidak marah padamu. Aku dan Kamu bukanlah pasangan sebagai pacar. Kamu sudah berpacaran dengan Dia. Dan Aku hadir diantara kalian. Yah, silahkan saja sebut Aku apa. Awalnya, Aku dan Kamu berteman seperti biasa, sampai akhirnya muncul suatu rasa yang kita bedua definisikan sebagai rasa suka, suka, sama seperti Kamu dan Dia, saling menyukai. “Sedang di tempat biasa, berkencan dengan kopi toraja.” Aku balas tanpa tanda tanya. “Aku kesana ya sekarang, tunggu.” “Oke”. Setengah cangkir ini telah hilang dari tempatnya. Kamu datang. Seperti layaknya orang yang saling suka, Aku senang melihatmu. Kita menghabiskan sore itu berdua, mendiskusikan berbagai hal, dari mulai sastra, sosial, politik, ekonomi. Yah, Aku tidak terlalu bodoh untuk diajak berdiskusi tentang hal-hal tersebut. Sore itu harus berakhir ketika kamu mendapat telfon dari Dia. Kamu pergi dan Aku tersenyum. Inilah hidup, datang dan pergi.



Aku hempaskan tubuhku di ranjang. Berguling dan terus berpikir. Benarkah Aku yang salah hadir diantara Kamu dan Dia? Atau Kamu dan Dialah pencipta kesalahan itu? Apakah kehadiranku di antara Kamu dan Dia adalah kesalahan? Apakah Aku bodoh bertanya hal itu? Banyak hal yang sebenarnya mengganggu pikiranku. Dari mulai mendengar kata-kata orang, “Kamu kan cewek, punya hati gak si?  ngerebut cowok orang! Gak malu apa? Ada ya orang setega kamu?” sampai kata-kata lain yang lebih menyakitkan dari itu. Apakah mereka tidak pernah berfikir bahwa Aku juga wanita biasa yang rapuh oleh hal-hal tertentu. Rasa itu lahir dengan tersendirinya. Dan haruskah Aku lagi yang memupuskan rasa itu untuk kebahagiaan orang lain? Dan itukah keadilan?



Coba renungkan! Jangan hanya menyalahkan orang ketiga sebagai perusak hubungan kalian. Selami hati kalian masing-masing. Akan banyak noda hitam yang kalian temui. Dan itulah pihak ketiga yang nyata. Hitamnya hati yang tertutup rasa egois dan cemburu yang menggenapkan, menggenapkan kebutaan hati, hati yang hitam dan kotor oleh prasangka yang tidak berpenjelasan nyata.









Satu gelas air hangat dan pillows rasa ubi


Sunday, December 2, 2012

Titik Terendah



Biarkan mereka hidup dalam khayalannya, dan Aku bersamaMu, Tuhan.

Ketika perempuan mengatakan, ”pergilah dengan wanita yang kau cintai”. Atau menemukan pasangannya berselingkuh, kemudian merelakan untuk lahirnya perpisahan. Perempuan sedang berada di titik terendah dalam kehidupannya. Titik dimana terdapat rasa bingung yang berkecamuk, dan rasa sakit yang amat sangat terperihkan. Begitulah kira-kira deskripsi nyatanya. Tapi tidak selamanya akan di titik itu. Ketika Tuhan bersamanya, maka perlahan, dia akan kembali naik, meninggalkan titik terendah yang dia miliki, kembali terus merangkak ke atas. Walau perlahan. Dan perempuan yang pernah singgah di titik terendah itu akan tumbuh kuat ke atas, ke titik yang tak terbatas, kebahagiaan. Kebahagiaan sejati, dimana keikhlasan berbentuk nyata, menerima segala hal yang diberi tanpa ada rasa gundah. Karena Tuhan besertanya. 


Maka berbahagialah ketika Tuhan menempatkanmu pada titik terendah dalam kehidupan, dimana usia pun rasanya tak menerima akan hal itu 



Tapi Aku, tetap tidak tau bagian cerita lain dari perempuan, yang selalu kembali turun pada titik terendah dalam kehidupannya.  Atau mungkin, memang belum sampai pada titik terendah, sehingga akan tetap turun hingga mencapai titik dasar. Dan jalannya begitu amat panjang. Semoga Aku bukan termasuk golongan itu. Dan Aku bersama-Mu, Tuhan.

pesonamu

Dan Aku tidak seberani wanita-wanitaMu. Dan dalam diamku, kesakitan ini Aku pelihara. Resiko, buah dari sikap yang Aku ambil sendiri. Menjalani hal ini bukanlah keburukan, tapi keindahan. Keindahan yang melahirkan racun yang menyayat setiap waktunya. Sayatan yang semakin melebar dan dipenuhi garam keperihan yang entah sampai kapan akan berhenti memperbanyak diri.

Mengisi segala omong kosong. Mengagumi keperihan. Dan memuja kesakitan.

Kesakitan akan sebuah rasa indah yang tak pernah berakhir dan tak berujung.

Menghilangkan kebekuan dengan mendekap bongkahan salju. Beku.

Membiarkan air berjatuhan bersamaan. Sendiri.

Karena Kamu, ciptaan-Nya  yang begitu indah dan mempesona. Tidak hanya Aku pemujanya, dan bukan lagi seberapa.
Karena Kamu, aku belajar bersyukur, pada-Nya, Tuhan, penciptaku yang tiada kunjung habis memberikan kejutan-kejutan indah dalam setiap tangga kehidupan yang aku injak. Entah kata apalagi yang harus aku eja selain bersyukur.

Karena Kamu, bukan milikKu seutuhnya. Kamu milik-Nya. Dan penciptaanMu bukan atas ijinku, tapi atas ijin-Nya. Dan hal yang terjadi pada kita pun atas ijin-Nya. Dan Aku mensyukurinya.

Karena Kamu, sungguh mempesona.

© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis