Kembali
Aku baringkan tubuhku di atas ranjang, Aku ambil selimut merahku,
hangat. Aku lepaskan ikat rambutku dan kubiarkan terurai. Aku miringkan
posisi tidurku, tepat menghadap jendela besar yang masih tertutup
tirainya, sengaja tidak Aku buka. Aku hanya mengintip sedikit keluar. Harmonisasi rintik hujan dan suara petir yang terus menyaut, dengan kilatan cahaya yang berperiodik.
Aku tidak tidur, Aku hanya berbaring dengan selimut merahku dan boneka sapiku yang mengalasi rambutku yang terurai. Akhir-akhir ini Aku tidak mendapatkan tidur yang berkualitas, karena setiap mata ini terpejam, yang nampak adalah visualisasi dari terkaan dan pradugaku yang tidak berpenjelasan nyata, Kamu dan Dia. Aku sudah berusaha membunuh terkaan dan pradugaku tentang Kamu dan Dia, tapi terkaan dan praduga itu tetap hidup dalam pikiranku. Dan Aku lelah., lelah pada terkaan dan pradugaku sendiri.
Kembali Aku intip ke luar, hujan masih tetap turun, dan Aku masih tetap terbaring dengan selimut merah yang menghangatkan. Harusnya Aku mengerjakan sesuatu hari ini, tapi pertunjukan alam seindah ini tak dapat Aku lewatkan, hujan dan petir. Ah, sebenarnya itu hanya alasan, nyatanya, energiku terserap oleh terkaan dan pradugaku, Kamu dan Dia. Tak ada yang yang bisa Aku selesaikan sejak Aku membuat terkaaan dan praduga itu.
Entah
sampai kapan kondisi ini, harusnya tidak lama, harusnya, hidupkan Aku
kembali setelah kematian ini. Bukan dengan senyum hampa. Tapi senyum
yang bermakna. Karena aku lelah pada terkaan dan pradugaku sendiri.
Pintu kamarku terbuka dan lampu dinyalakan. "Apa kamu baik-baik saja?" Kamu mendekati ranjangku. "Kamu
demam ternyata, tunggu, akan aku buatkan bubur dan aku bawakan segelas
air hangat. beristirahatlah lagi, tapi jangan sampai tertidur sayang." Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Kamu
matikan kembali lampu kamar, dan hanya menyalakan lampu di samping
ranjangku. Dan mataku mengekor sampai Kamu menutup pintu kamar.
Berdosalah Aku wahai Tuhan. Karena Aku mulai meragukannya. Lihat kebaikannya Tuhan.
Dan berdosalah pula Kamu, lelakiku. Kehangatan dan kebaikan yang kamu miliki, kamu bagi dengan wanita lain selain Aku. Perih.
Kamu
masuk ke kamar membawa semua yang kamu janjikan, denga tambahan obat
penurun demam. Kamu menyuapiku, dan aku tersenyum. Kamu merapihkan
rambutku yang kusut tertindih kepalaku yang dipenuhi oleh terkaan dan
pradugaku tentang Kamu dan Dia, selagi merapihkan rambutku, Kamu
menceritakan pekerjaanmu hari ini. Sesekali Kamu pegang keningku. Dan
Aku tersenyum. Kelu rasanya lidah ini. Hanya senyuman yang bisa Aku
berikan malam ini. "istirahatlah kembali, akan Aku tambahkan selimut untukmu". Aku mengangguk dan tersenyum.
Kini, selimut merah itu tertutup selimut lain, terasa lebih hangat. Namun tetap, Aku pun tak dapat terpejam. Kamu tidur di ranjang yang sama denganku. Aku miringkan posisi berbaringku menghadapmu. Wajahmu begitu lelah. Kamu cepat sekali terlelap.
Semoga
besok akan tetap bertemu hujan. Dan semoga besok akan tetap ada segelas
air putih hangat. Dan semoga besok akan tetap ada Kamu, lelakiku.
Biarkan
terkaan dan pradugaku ini tak berpenjelasan. Aku memaafkanmu. Tapi Aku
tak pernah bisa memaafkan diriku yang tidak bisa menjagamu, sehingga ada
Dia yang hadir dalam hidupmu. Aku yang salah.
Di atas karpet merah, diiringi lagu orang ketiga-HiVi! :)

0 comments:
Post a Comment