Friday, November 30, 2012

Gusar


Dan Aku begitu takut dengan hari esok. Entah kegusaran macam apalagi yang sekarang tumbuh berkembang dalam hati. Sesuatu yang teramat maya, tapi begitu terasa. Sesak. Takut hari esok itu tiba, namun hanya ketidakberdayaan yang siap menyambutnya. Aku takut dalam ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan yang mencekam, yang merampas semua kelapangan hati dan mempersempit pemikiran diri.  Aku takut :’(



Kenapa Kau lepaskan hati ini begitu liar? Aku tak tahu arah menentukan semuanya. Dari-Mu lah segalanya terikat agar jinak. Tuhan. Aku tenggelam dalam ketidakberdayaan menjinakkan rasa.


foto : Benazir Fikri Islamy

Monday, November 26, 2012

Kursi Hitam


Hey, kemarilah. Sudah aku siapkan dua kursi di hatiku.

Satu untukku, dan satu untukmu.

Kenapa aku pilih kursi hitam?

Agar tidak semua orang tahu. Karena tidak semua orang pandai membaca hatiku, dan menemukan kursi itu.

Gunakan radar itu, dan kau akan menemukannya.

Jangan hanya kau lihat, rasakan.

Karena akan kamu temui cerita dibalik kegelapan hitam.

Akan ada lampu-lampu yang memapahmu ke arah cerita itu.

Cerita yang akan kita bicarakan di kursi hitam, di hatiku.




Sunday, November 25, 2012

terkaan dan praduga (part 2)

Aku masih terjaga hingga adzan shubuh berkumandang. Matamu terbuka pelan dan langsung memiringkan posisi tidurmu.“Apakah kamu tidak tidur semalam ini? Apakah paracetamol yang Aku berikan tidak cukup kuat untuk membuatmu terlelap sayang?”. Aku gelengkan kepala sebisaku, karena terganjal bantal yang mengalasi kepalaku. Kamu kecup keningku. “Demamnya sudah turun. Jika masih belum kuat, beristirahatlah lagi. Akan Aku siapkan sarapan setelah kita sholat.” Kamu membantuku bangun dari tempat tidur. Aku masih terlalu lemas untuk bergerak sendiri. Aku dan Kamu beribadah bersama. Aku kembali membaringkan tubuhku di ranjang. Sesuai janjimu, Kamu langsung ke dapur menyiapkan sarapan untukku. Betapa berharganya kamu, lelakiku, dan Aku berdosa.

Satu mangkok bubur dan satu gelas air putih hangat kamu antarkan ke kamar. Kamu menyuapiku dan kembali, lidah ini kelu. Dan kamu tetap sabar dengan kekeluanku. Kamu terlalu mengerti Aku. Dan Aku? Tidak pernah tau Kamu. Lagi-lagi, maka berdosalah Aku.

Harum sabun yang Kamu gunakan menempel di badanku. Kamu peluk erat Aku sebelum Kamu pergi. Nyaman dan takut. Aku takut kehilanganmu selamanya. Jangan jadikan ini pelukan terakhir. Karena Aku tak sanggup untuk pincang menjalani kehidupan ini. Biarlah tetap seperti ini. Walau tak adil. “beristirahatlah lagi. Pulihkan kondisimu, baru pikirkan yang lain.” Kamu kecup keningku. Aku tersenyum. Kembali aku baringkan tubuhku di ranjang. Aku miringkan posisiku ke jendela yang tirainya tetap tidak Aku buka. Sinar matahari pagi ini hangat namun terlalu menyengat. Dan tanpa sinar matahari pagi ini pun Aku sudah hangat, hangat oleh cinta lelakiku. Dan untuk pagi ini, Aku belum membutuhkan kehangatanmu, mentari pagi. Aku hanya menunggu hujan. Agar hujan dapat menghapus jejak terkaan dan praduga yang ada di pikiranku, Kamu dan Dia. Terlalu jelas terkaan dan praduga itu.

Aku tutup mataku. Visualisasi itu nampak sangat jelas. Seakan-akan Aku sedang melihatnya kembali, tanpa cacat. Kamu merangkul Dia, berpelukan mesra, mengobrol bersama, dan tertawa bersama. Kamu nampak bahagia lelakiku. Dan Aku pun bahagia. Tapi rasa egois yang Aku miliki ini pun menutupi segalanya, kebahagianmu yang Aku saksikan menjadi duri tajam yang menyayat. Perih. Harusnya Aku siap. Tapi nyatanya Aku benar-benar tak siap.

Hingga petang menjelang pun hujan tak juga turun. Aku kehabisan kesabaran untuk menunggunya. Aku putuskan untuk segera bangkit dari ranjangku. Aku keluar dari kamar. Aku jatuhkan tubuhku pada sofa di ruang tv. Aku tak akan mendapatinya lagi, hujan, segelas air putih hangat dan lelakiku. Mereka semua pergi meninggalkanku. Dan akhirnya air mata ini yang turun. Membasahi pipiku. Mengalir begitu deras. Harusnya Aku sadari resikonya sejak awal. Tak akan Aku dapati lagi lelakiku. Aku hanya bisa meronta, menangis, tanpa ada yang mendengar selain Kau, Tuhan. Aku terus menangis. Aku lelah. Aku ingin kepastian. Namun setelah kepastian itu Aku dapat, nyatanya Aku tak siap menerimanya. Aku tak siap, Tuhan. Kepada siapa lagi Aku meminta. Tuhan, apakah Kau masih mendengar. Aku tak dapat berdoa secara lisan padaMu, Tuhan. Aku tak dapat. Aku hanya bisa menangis. Aku bingung sekarang. Aku begitu ketakutan, Aku lipat kedua kakiku dan aku dekapkan ke dadaku. Aku terus menangis. Berakhir. Aku ingin Kamu, lelakiku. Hingga air mata ini berhenti turun. Aku buka laptopku. Entah perasaan macam apa ini, sepertinya ada sesuatu yang harus segera Aku ketahui. Benar, satu email masuk, dari Kamu.
“ Apapun yang terjadi, jangan pernah takut. Ada Tuhan yang menjagamu, yakinilah Dia. Aku hanya kepanjangan tangan dari Tuhan untuk menjagamu dalam batas waktu yang singkat. Aku tak tahu apa yang akan terjadi esok, lusa, dan hari kemudian. Aku tak tahu. Aku pun tak tahu apakah Aku akan benar-benar bisa menjadi ayah yang baik untuk calon anakku ini. Jika Aku boleh menyesal, Aku sangat menyesal tidak pernah bisa menjelaskan hubungan kita. Aku begitu pecundangnya tak berani mau bertanya padamu. Dan betapa bodohnya Aku tidak bisa menolak Dia. Aku lelaki pengecut yang tidak bisa mengambil keputusan bahkan untuk hidupku sendiri. Tapi sekarang apa? Apa yang bisa Aku perbuat? Aku menyakiti semuanya. Aku menyakiti diriku sendiri dan Aku menyakitimu. Jangan maafkan Aku. Biarkan Aku hidup dalam rasa bersalahku padamu. Biar Aku tanggung semua itu. Jaga dirimu, dan yakinilah Tuhanmu, maka ketakutanmu pun akan berangsur hilang. Dan hilangkan segala terkaan dan praduga yang kamu pikirkan itu. Bebaskan dirimu. Aku ingin melihatmu bahagia dengan atau tanpa pendamping selain Aku”
Hujan pun turun, begitupun air mata ini, turun membasahi bumi. Aku tersenyum. Tuhan tidak benar-benar meninggalkanku sendiri. Masih ada hujan yang menemaniku. Aku kembali masuk ke kamar dan berbaring di ranjang dengan selimut merah, tanpa segelas air putih hangat dan tanpa Kamu, lelakiku.
Aku pejamkan mata, dan tertidur. Tertidur dengan tenang, tanpa ada terkaan dan praduga itu kembali. Tak ada lagi visualisasi nyata tentang Kamu dan Dia. Aku benar-benar tenang.  
***
Dan Tuhan lebih menyayangiku. Tuhan ingin Aku lebih dekat. Tuhan mengambilku dari ragaku yang indah itu. Aku bahagia. Aku tak takut sekarang. Aku sudah ada dalam kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang lebih abadi daripada kehidupan maya di bumi. Kematian. Aku bersamaMu, Tuhan. 
***
Kamu menjadi seorang Ayah sekarang. Ayah dari seorang putri yang cantik. Kamu, Dia, dan putri kecil kalian, bahagia. Aku bisikkan sesuatu pada Tuhan, “Jaga mereka Tuhan, bahagiakan mereka.“ Kamu menggendong putri kecil cantikmu, kamu meneteskan air mata, dan membisikkan sesuatu yang sangat jelas Aku dengar pada putri kecilmu, “Maafkan Aku”.

Thursday, November 22, 2012

Adil

Dan Tuhan Maha Adil, tanpa harus ada yang memintaNya untuk adil. Tuhan ciptakan kesedihan dan kebahagiaan. Tuhan ciptakan kebaikan dan keburukan.  Bukan adil, jika hidup yang kamu jalani hanya kebahagiaan. Bukan adil, jika hidup yang kamu jalani hanya kesedihan. Itu adalah cobaan. Bukan keadilan.



Dan Tuhan menciptakan Aku dan Kamu. Itu adalah keadilan nyata yang indah. 

Segera Bangun

Segera bangun, karena matahari tak segan melelehkan mimpimu.  Beranjaklah dari ranjangmu, dan kau akan temui kenyataan. Kenyataan yang kadang membuatmu terluka dan bahagia. Tangis dan tawa.
 
Segera bangun, karena matahari akan melelehkan mimpimu menjadi kekecewaan. Kecewa pada harapan yang tak kunjung terdampar pada kenyataan. Harapan yang semakin jauh dari garis takdir yang nyata.
Maka tertirdurlah, dan hiduplah terus dalam mimpimu. Mimpi yang selalu membuatmu bahagia. Dan itu semu.


Di pagi hari dengan tiga lembar roti selai strawberry, segelas air putih hangat, dan kamu :)


Sketsa Pagi

Serumit apapun perjalanan hidup yang ditorehkan untuk kita, akan tetap menjadi indah jika kita mewarnainya.”


Sketsa pagi yang indah. Aku miliki waktu denganMu, Tuhan, untuk mensyukuri hari-hariku.


Segera bangun, karena matahari tak segan melelehkan mimpimu. Beranjaklah dari ranjangmu, dan kau akan temui kenyataan . Kenyataan yang kadang membuatmu terluka dan bahagia. Tangis dan Tawa

Meski matahari selalu melelehkan mimpi, tapi mimpi tetap hal yang indah disaat terlelap.

Maka terlelaplah, akan kamu temui keindahan itu. Keindahan yang semu.

Keindahan semu itu bisa kita bawa ke dunia nyata kalau kita yakin.

Yakin adalah kunci yang membuka mimpi untuk masuk ke dunia yang berbentuk nyata.





fanni.nida.irvani.




Sunday, November 18, 2012

terkaan dan praduga

Kembali Aku baringkan tubuhku di atas ranjang, Aku ambil selimut merahku, hangat. Aku lepaskan ikat rambutku dan kubiarkan terurai. Aku miringkan posisi tidurku, tepat menghadap jendela besar yang masih tertutup tirainya, sengaja tidak Aku buka. Aku hanya  mengintip sedikit keluar. Harmonisasi rintik hujan dan suara petir yang terus menyaut, dengan kilatan cahaya yang berperiodik.

Aku tidak tidur, Aku hanya berbaring dengan selimut merahku dan boneka sapiku yang mengalasi rambutku yang terurai. Akhir-akhir ini Aku tidak mendapatkan tidur yang berkualitas, karena setiap mata ini terpejam, yang nampak adalah visualisasi dari terkaan dan pradugaku yang tidak berpenjelasan nyata, Kamu dan Dia. Aku sudah berusaha membunuh terkaan dan pradugaku tentang Kamu dan Dia, tapi terkaan dan praduga itu tetap hidup dalam pikiranku. Dan Aku lelah., lelah pada terkaan dan pradugaku sendiri.

Kembali Aku intip ke luar, hujan masih tetap turun, dan Aku masih tetap terbaring dengan selimut merah yang menghangatkan. Harusnya Aku mengerjakan  sesuatu hari ini, tapi pertunjukan alam seindah ini tak dapat Aku lewatkan, hujan dan petir. Ah, sebenarnya itu hanya alasan, nyatanya, energiku terserap oleh terkaan dan pradugaku, Kamu dan Dia. Tak ada yang yang bisa Aku selesaikan sejak Aku membuat terkaaan dan praduga itu. 

Entah sampai kapan kondisi ini, harusnya tidak lama, harusnya, hidupkan Aku kembali setelah kematian ini. Bukan dengan senyum hampa. Tapi senyum yang bermakna. Karena aku lelah pada terkaan dan pradugaku sendiri.

Pintu kamarku terbuka dan lampu dinyalakan. "Apa kamu baik-baik saja?" Kamu mendekati ranjangku. "Kamu demam ternyata, tunggu, akan aku buatkan bubur dan aku bawakan segelas air hangat. beristirahatlah lagi, tapi jangan sampai tertidur sayang." Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

Kamu matikan kembali lampu kamar, dan hanya menyalakan lampu di samping ranjangku. Dan mataku mengekor sampai Kamu menutup pintu kamar.

Berdosalah Aku wahai Tuhan. Karena Aku mulai meragukannya. Lihat kebaikannya Tuhan.
Dan berdosalah pula Kamu, lelakiku. Kehangatan dan kebaikan yang kamu miliki, kamu bagi dengan wanita lain selain Aku. Perih

Kamu masuk ke kamar membawa semua yang kamu janjikan, denga tambahan obat penurun demam. Kamu menyuapiku, dan aku tersenyum. Kamu merapihkan rambutku yang kusut tertindih kepalaku yang dipenuhi oleh terkaan dan pradugaku tentang Kamu dan Dia, selagi merapihkan rambutku, Kamu menceritakan pekerjaanmu hari ini. Sesekali Kamu pegang keningku. Dan Aku tersenyum. Kelu rasanya lidah ini. Hanya senyuman yang bisa Aku berikan malam ini. "istirahatlah kembali, akan Aku tambahkan selimut untukmu". Aku mengangguk dan tersenyum. 

Kini, selimut merah itu tertutup selimut lain, terasa lebih hangat. Namun tetap, Aku pun tak dapat terpejam. Kamu tidur di ranjang yang sama denganku. Aku miringkan posisi berbaringku menghadapmu. Wajahmu begitu lelah. Kamu cepat sekali terlelap.

Semoga besok akan tetap bertemu hujan. Dan semoga besok akan tetap ada segelas air putih hangat. Dan semoga besok akan tetap ada Kamu, lelakiku. 

Biarkan terkaan dan pradugaku ini tak berpenjelasan. Aku memaafkanmu. Tapi Aku tak pernah bisa memaafkan diriku yang tidak bisa menjagamu, sehingga ada Dia yang hadir dalam hidupmu. Aku yang salah.




Di atas karpet merah, diiringi lagu orang ketiga-HiVi! :)

Thursday, November 15, 2012

ADATIDAKADA

jika ADA tetap menjadi TIDAK ADA, 
maka keTIDAKADAan itulah yang ADA.



Sunday, November 4, 2012

egois

mengerti akan suatu keadaan, harusnya memang. tapi terkadang, rasa egois itu muncul dan menutupi segala rasa lain yang ada pada diri. segala rasa apapun akan tenggelam, terserap oleh rasa keegoisan.

" kenapa harus menjadi penurut kalau menjadi pembangkang jauh lebih mengasyikan?"

" kenapa harus bertanya jika memang bisa langsung kamu lakukan?"

" kenapa harus berpikir ketika bertindak adalah satu-satunya jawaban?" 

" bertindak tanpa berpikir biasanya akan berdampak pada hasil akhir tindakan itu. berpikir adalah satu-satunya cara untuk mereduksi penyesalan di akhir ... "

" di fase kehidupan manusia akan datang penyesalan-penyesalan, penyesalan kebaikan dan penyesalan keburukan "

" apakah itu kata ganti untuk menjawab tidak?"

" ya, tidak berpikir untuk melakukan."

" kenapa?"

" semakin banyak berpikir, kening ini semakin berkerut. kerutan yang sangat jelas di wajah akan membuat manusia semakin tua. terlebih wanita. jika sudah sampai batasnya kerut itu tak lagi dapat dihilangkan, maka habis sudah masa bercintanya. "

" sebesar apapun kamu menolak akan hadirnya penyesalan, disaat itulah kamu sedang mengalami penyesalan terdalam"

" kenapa kamu harus terlalu sok tau tentang segala kehidupan ini. segera menyingkir dari pahaku atau kematian akan segera mendatangimu. tapi mungkin kematian di pahaku akan lebih baik."

aku layangkan modul fisikaku hingga menimpa lalat yang sedang bertengger di pahaku. mati. Einstein pun tersenyum. satu penduduk dunia dalam bentuk lain telah musnah dari muka bumi. dan aku senang. jijik, itu lalat. dan aku sangat tidak menyukainya.


© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis