Aku masih duduk di halte yang sama dan di sore yang sama.
Aku terus menyeka air mataku yang tak kunjung berhenti turun. “Inilah pasti yang akan
terjadi, tidak ada yang bisa menyangkalnya lagi.” Gumanku dalam hati. Aku terus
menyeka, karna air mata yang tak kunjung berhenti menuruni kedua pipiku.
Tanganku sudah basah oleh air mata.
"Kita tahu, bahwa dasar tempat kita menanam benih adalah
beton yang keras. Tak akan pernah ada yang dapat tumbuh di atasnya. Tapi kamu selalu
meyakinkanku bahwa benih ini akan tumbuh subur, menjadi sebatang pohon yang
kokoh dan berbuah. Akarnya akan menghancurkan beton itu. Tapi tidak, tidak akan
pernah ada yang bisa tumbuh menjulang di atas sebuah beton. Hanya ada lumut dan
tanaman perdu pengganggu yang akan tumbuh, itupun dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya tanaman itu akan merusak beton,
menghancurkan beton itu. Dan benih yang kita tanam? Akan tersapu begitu saja,
mati bahkan membusuk. Akan menjadi santapan yang lezat bagi sekumpulan
semut-semut itu."
Itulah kita sekarang. Sedang menunggu benih yang mati,
membusuk dan hilang di atas beton. Hanya lumut dan perdu pengganggu yang
akhirnya tumbuh.
Aku berlari sekencang yang aku bisa. Aku sampai di stasiun
dengan nafas terengah. Mataku sudah tak jelas memandang apapun, tertutupi oleh
genangan air yang masih membasahi pelupuk mataku. Aku kalap. Aku tak melihat
sosokmu. Aku terus mencari tanpa tau arah. Aku berlari dan mendekapmu.
“Yakinilah cinta yang kamu rasakan. Karena Aku akan tetap
disini. Kamu tidak pernah menyakitiku, jangan pernah takut meninggalkanku untuk yang kamu cintai. Jangan salahkan dirimu ketika aku bukanlah yang kau
pilih. Terimakasih … “ Aku tergagap mengatakannya.
Satu pelukan terakhir. Sebelum itu hanya menjadi masalalu. Pelukan yang entah aku tak mengerti artinya.
Sumber Gambar : Google

0 comments:
Post a Comment