Saturday, October 26, 2013

STASIUN


Aku masih duduk di halte yang sama dan di sore yang sama. Aku terus menyeka air mataku yang tak kunjung berhenti turun. “Inilah pasti yang akan terjadi, tidak ada yang bisa menyangkalnya lagi.” Gumanku dalam hati. Aku terus menyeka, karna air mata yang tak kunjung berhenti menuruni kedua pipiku. Tanganku sudah basah oleh air mata.

"Kita tahu, bahwa dasar tempat kita menanam benih adalah beton yang keras. Tak akan pernah ada yang dapat tumbuh di atasnya. Tapi kamu selalu meyakinkanku bahwa benih ini akan tumbuh subur, menjadi sebatang pohon yang kokoh dan berbuah. Akarnya akan menghancurkan beton itu. Tapi tidak, tidak akan pernah ada yang bisa tumbuh menjulang di atas sebuah beton. Hanya ada lumut dan tanaman perdu pengganggu yang akan tumbuh, itupun dalam waktu yang lama.  Sampai akhirnya tanaman itu akan merusak beton, menghancurkan beton itu. Dan benih yang kita tanam? Akan tersapu begitu saja, mati bahkan membusuk. Akan menjadi santapan yang lezat bagi sekumpulan semut-semut itu."

Itulah kita sekarang. Sedang menunggu benih yang mati, membusuk dan hilang di atas beton. Hanya lumut dan perdu pengganggu yang akhirnya tumbuh.

Aku berlari sekencang yang aku bisa. Aku sampai di stasiun dengan nafas terengah. Mataku sudah tak jelas memandang apapun, tertutupi oleh genangan air yang masih membasahi pelupuk mataku. Aku kalap. Aku tak melihat sosokmu. Aku terus mencari tanpa tau arah. Aku berlari dan mendekapmu.

Yakinilah cinta yang kamu rasakan. Karena Aku akan tetap disini. Kamu tidak pernah menyakitiku, jangan pernah takut meninggalkanku untuk yang kamu cintai. Jangan salahkan dirimu ketika aku bukanlah yang kau pilih. Terimakasih … “ Aku tergagap mengatakannya. 
Satu pelukan terakhir. Sebelum itu hanya menjadi masalalu. Pelukan yang entah aku tak mengerti artinya. 

 
Sumber Gambar : Google

TERIMAKASIH DAN AKU BENCI !



Finally, semua beban selama 10 bulan terakhir terangkat. Pundak menjadi lebih ringan, dan sedang dipersiapkan untuk menerima beban selanjutnya.

Kehidupan yang baru. Rasanya ingin semuanya baru. Memulai kehidupan  baru lagi, dengan orang-orang baru. Sempat berpikir ingin menghapus masalalu, tapi sulit. Tidak ada yang bisa dihapuskan. Menghapus masalalu berarti menghilangkan bagian dari diri kita yang sekarang.  Karna Kita yang hari ini terbentuk dari kumpulan masalalu, yang menyenangkan, menyedihkan, bahkan menyakitkan. Kita hari ini adalah hasil olahan dari sikap terhadap masalalu. Menjadi bodoh seperti aku pun adalah hasil dari sikap terhadap kumpulan masa lalu. Menjadi bodoh? Iya tentu saja bodoh. Aku tak sepintar wanita lain. Tapi sikap bodohku selalu diartikan bahwa aku adalah wanita kuat. Aku memang kuat. Kuat dalam menjalani kehidupan yang bodoh.

Terimakasih Bandung atas empat tahun sekian bulan ini. Aku yang sekarang pun terbuat dari kenangan bersamamu. Aku ingin sangat jauh pergi darimu, kenangan bersamamu yang aku bisa sebut sebagai masalalu. Tapi apadaya, jika akhirnya aku harus kembali dan terseret memasuki kenangan yang dulu pernah menjadi masalalu. 

Terimakasih semua. Aku benci perpisahan. Aku sangat benci. Aku benci harus memulai kehidupan yang baru lagi. Tapi aku akan menjalani hal yang aku benci, agar tidak ada kebodohan yang akan aku jalani dalam tahap selanjutnya.
Aku benci memulai hal yang baru. Aku benci ketika harus mulai belajar mengenal teman-teman TK-ku. Akan aku bandingkan mereka dengan teman bermain di rumahku. Akhirnya aku mengenal mereka. Lalu masuk kembali pada posisi yang aku  benci. Aku benci perpisahan dengan teman-teman TK-ku. Dan aku memulai kembali menjalani hal yang aku benci, mengenal yang baru, teman-teman SD-ku. Akan aku bandingkan mereka dengan teman-teman TK-ku. Akhirnya aku mengenal mereka. Lalu masuk kembali pada posisi yang aku benci. Aku benci perpisahan dengan teman-teman SD-ku. Dan aku memulai kembali menjalani hal yang aku benci, mengenal yang baru, teman-teman SMP-ku. Akan aku bandingkan mereka dengan teman-teman SD-ku. Akhirnya aku mengenal mereka. Lalu masuk kembali pada posisi yang aku benci. Aku benci perpisahan dengan teman-teman SMP-ku. . Dan aku memulai kembali menjalani hal yang aku benci, mengenal yang baru, teman-teman SMA-ku. Akan aku bandingkan mereka dengan teman-teman SMP-ku. Akhirnya aku mengenal mereka. Lalu masuk kembali pada posisi yang aku benci. Aku benci perpisahan dengan teman-teman SMA-ku. . Dan aku memulai kembali menjalani hal yang aku benci, mengenal yang baru, teman-teman KULIAH-ku. Akan aku bandingkan mereka dengan teman SMA-ku. Akhirnya aku mengenal mereka. Lalu masuk kembali pada posisi benci. Aku benci perpisahan dengan teman-teman KULIAH-ku. 

 
sumber gambar: google




© K U P A N 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis