Mentari pagi ini sangat hangat, lebih hangat dari secangkir kopi yang tersaji di meja tamuku. Sinarmu tak dapat aku tangkap dengan mataku ini, menyilaukan. Sungguh. Sengatanmu tajam, namun menghujam secara lembut. Tak sanggup mata ini menatap keindahan mentari pagi yang beranjak naik. Seperti aku yang tak pernah berani menatap keindahanmu secara langsung, karena Kau begitu menyilaukan dengan keindahan lainmu itu. Keindahanmu hanya bisa aku rasakan dengan indra perabaku, bukan indra penglihatanku. Aku mengagumimu mentari pagi. Seperti Aku mengagumi hal-hal lain yang tidak Aku liat dari keindahanmu. Walau ragamu tak bisa aku lihat secara nyata, tapi kehangatanmu bisa aku rasakan. Terimakasih untuk kehangatanmu, Mentari, Jangan lelah untuk terbangun di masa yang disebut pagi. Karena aku selalu membutuhkanmu, Mentari hangat di pagi hari. Terbenamlah jika memang sudah saatnya, dengan semburat orange yang akupun suka. Terkadang kau pancarkan juga warna lain yang tak kalah aku suka. Warna apapun yang kau pancarkan, aku tetap menyukainya, membuat senja menjadi selalu berbeda setiap harinya. Seperti Kamu. Aku tidak pernah sedih ketika kau terbenam mentari. Karena kau tidak hilang, hanya memberikan ruangmu untuk hal lain yang aku suka juga, rembulan.
Aku memujaMu, Tuhan, melalui kamu, Mentari dan Rembulan. Aku titipkan penjagaanku kepadamu melalui sinar mentari pagi, teriknya matahari, senja yang bersemburat orange, dan sinar rembulan yang meneduhkan, melalui Tuhan, yang menciptakan keindahan itu.



0 comments:
Post a Comment